Home / Berita / Menjadi Guru Les Pekerjaan Pilihan

Menjadi Guru Les Pekerjaan Pilihan

Bekerja di waktu luang, termasuk memberikan les, adalah kegiatan positif yang memberi banyak manfaat. Selain mendatangkan penghasilan tambahan, mahasiswa terlatih mengatur waktu dan menjaga komitmen. Kelak, semua itu menjadi bekal mereka saat memasuki dunia kerja.

Menjadi guru les juga dianggap dekat dengan dunia mahasiswa. Bahkan ada yang berpendapat, memberi les atau menjadi tutor dan guru panggilan adalah pekerjaan paruh waktu yang paling cocok untuk mahasiswa. Dua dari lima responden mengaku pernah menjadi ”guru dadakan”.

Menurut mahasiswa sekaligus guru les ini, uang yang diperoleh digunakan untuk membeli keperluan pribadi, seperti sampo dan sabun, selain guna memenuhi kebutuhan kuliah semisal buku dan diktat. Meskipun begitu, uang bukan tujuan utamanya. Sebanyak 50,9 persen responden mengatakan, menjadi guru les berarti membagi pengetahuan.

Umumnya mereka menjadi guru untuk pelajaran SD/SMP/SMA (63,6 persen). Ada pula yang menjadi pengajar bahasa Indonesia atau bahasa Inggris (13,8 persen). Mengajar keterampilan, seperti memasak dan fotografi, pun menjadi pilihan (14,0 persen). Waktu les biasanya akhir pekan atau saat libur semester.

Mahasiswa yang enggan memberi les umumnya karena tak ada waktu. Tugas kuliah dan kegiatan kemahasiswaan dirasakan menghabiskan waktu mereka. Ada juga mahasiswa yang tak berminat memberi les karena tidak cukup sabar.(BE Julianery/Litbang Kompas)
——–
Sarana Belajar dan Mencari Uang

13919940-jpghDi sela-sela berkuliah, mahasiswa bisa belajar sambil bersenang-senang dengan aneka kegiatan. Namun, sebagian mahasiswa rupanya memilih mengisi waktu di luar tugas kuliah dengan menjadi guru.

Mereka mengajar atau memberi les mata pelajaran untuk siswa SD, SMP atau SMA. Umumnya mahasiswa memberi les mata pelajaran seperti Matematika, Fisika, dan Kimia. Ada pula mahasiswa yang memberi les Bahasa Inggris dan musik.

Alasan mereka mengajar antara lain sebagai latihan sebelum nanti benar-benar menjadi guru, tak ingin merepotkan orangtua secara finansial, sampai upaya untuk menambah uang saku.

Kurniasari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, misalnya. Ia sejak sekitar dua tahun lalu memberi les kepada siswa SD dan SMP.

Selain untuk mempraktikkan ilmu tentang tata cara mengajar yang dia peroleh di bangku kuliah, dia juga ingin menambah pengalaman dan membantu orangtua. Cara mengajar Kurnia ternyata disukai para murid. Mereka merasa lebih mudah memahami pelajaran Matematika dan IPA. Jadilah, sampai lulus SMP pun, mereka tetap minta Kurnia memberi les.

”Aku mengajar mereka seperti guru biasa, cuma bahasanya lebih sederhana, sesuai umur mereka. Kalau mereka belum paham, aku jelaskan sampai mengerti. Dengan cara itu, anak-anak dan aku jadi akrab,” kata dia.

Dari sisi materi pelajaran, gadis asal Kabupaten Tulungagung ini tak mengalami kesulitan. ”Apa yang aku ajarkan itu memang materi kuliah sehari-hari,” kata Kurnia, yang mengajar dua-tiga kali seminggu seusai kuliah.

Klaudia Molasiarani, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, juga memberi les.

”Aku tak ingin terus-terusan merepotkan orangtua. Dengan mengajar, aku mendapat honor. Jadi kalau mau jalan-jalan, tak perlu minta uang dari orangtua,” ujar Klaudia.

Dia mengajar semua mata pelajaran bagi siswa SD. Untuk siswa SMP, Klaudia mengajar bahasa Inggris. Para murid les dia umumnya beralasan kurang paham dengan materi yang diajarkan guru di sekolah.

”Orangtua muridku menetapkan target, misalnya si anak harus mendapat nilai ulangan 9,” kata Klaudia yang sudah memberi les sejak 1,5 tahun lalu.

Ketertarikan Klaudia dan Kurnia mengajar hampir sama. Awalnya mereka ditawari mengajar oleh penyelenggara bimbingan belajar (bimbel). Menurut Kurnia, mahasiswa dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam (IPA) banyak dicari penyelenggara bimbel dan orangtua.

Namun, itu tak berarti mahasiswa dari bidang ilmu pengetahuan sosial (IPS) tak bisa mengajar. Klaudia, misalnya, memilih menjadi guru privat. Dia mendatangi rumah siswa, tiga-lima kali dalam seminggu. Dia mengajar selama sekitar satu jam. Selain itu, dia juga mengajar anak-anak tetangganya yang menjadi siswa SD.

Untuk tabungan
Bicara tentang honor, yang diperoleh Klaudia dan Kurnia cenderung seperti pekerja sosial daripada guru profesional. ”Untuk anak tetangga, bayaranku Rp 10.000 setiap mereka datang. Tetapi untuk mengajar privat, honorku sekali datang ke rumah murid Rp 25.000,” kata Klaudia yang tinggal di pinggir Kota Semarang dan berbatasan dengan wilayah Kabupaten Demak.

Sementara Kurnia yang mengajar siswa dari sekolah elite di Surabaya mendapat honor Rp 50.000-Rp 75.000 per kedatangan.

Berapa pun besarnya honor itu, tetap menyenangkan. Setidaknya mereka bisa memiliki tabungan. Selain itu, sejak menjadi guru les, mereka tak perlu lagi minta uang saku tambahan dari orangtua.

Di samping itu, dengan mengajar, Kurnia pun secara tak langsung sekaligus mengulang materi perkuliahannya dan praktik menjadi guru.

Meski tampaknya mudah, mahasiswa yang menjadi guru les harus pandai membuat manajemen waktu. Mereka pun harus sabar menghadapi tingkah laku siswa. Mereka juga mesti mengurangi waktu berkumpul atau bersantai dengan teman-teman.

Klaudia mencontohkan, saat dia datang ke rumah siswa, ternyata si siswa masih tidur, mengajak bermain, atau justru mengajak dia bercerita tentang banyak hal di luar pelajaran sekolah.

Menghadapi situasi itu, dia biasanya bernegosiasi dengan siswa. Dia akan meladeni si siswa bermain sebentar, baru kemudian belajar.

”Biasanya setelah bermain, minat belajar siswa meningkat,” ucap Klaudia. (TRI)

Sumber: Kompas, 2 September 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: