Home / Berita / Tenaga Survei, Susah-susah Gampang

Tenaga Survei, Susah-susah Gampang

Kehidupansebagai mahasiswa sungguh penuh warna. Selain urusan di dalam kelas, begitu banyak kegiatan di kampus, baik di lingkungan jurusan, fakultas, maupun kampus, yang menyita waktu dan membuat mahasiswa sibuk. Di luar itu, masih banyak pula mahasiswa yang bekerja sambilan untuk mengisi waktu luang, menambah pengalaman, dan mendapat penghasilan.

Ada mahasiswa yang memilih pekerjaan sesuai ilmunya, misalnya menjadi guru les pelajaran tambahan; sesuai hobi, misalnya menyanyi, melukis, dan menari; atau sesuai pekerjaan yang ada dan tak menuntut pengalaman. Salah satunya menjadi tenaga survei yang diadakan banyak perusahaan.

Tenaga survei antara lain diperlukan untuk riset pasar, baik produk maupun konsumen. Bisa juga untuk semacam sensus dalam skala kecil. Untuk memulai pekerjaan ini, peminat yang tidak berpengalaman pun tak menjadi kendala. Asal mau belajar, pandai berkomunikasi, serta rela bekerja di luar ruangan.

Biasanya, untuk langkah awal si tenaga survei diminta mencari responden yang dekat lingkungan tempat tinggalnya atau kampusnya. Profil responden yang dicari juga sudah ditentukan oleh perusahaan yang mengadakan survei. Tenaga survei juga dilengkapi dengan lembaran pertanyaan yang akan diajukan kepada responden.

Selain menambah pengalaman dan menghasilkan uang saku, menjadi tenaga survei juga mendatangkan berbagai keuntungan lain. Misalnya, mahasiswa menerapkan sedikit ilmu dan kemampuannya ketika berkomunikasi. Mereka harus bisa mengucapkan kalimat dan memilih kata yang tepat agar responden mau diwawancara atau memberikan informasi sesuai tujuan survei.
Susah-susah gampang

Untuk menjadi tenaga survei, biasanya perusahaan menetapkan beberapa kategori seperti minimal semester sekian atau memiliki kendaraan sendiri. Sebagai tenaga survei, mahasiswa mendapat honor yang jumlahnya sesuai dengan pekerjaan yang diselesaikan. Bayaran untuk tenaga survei lazimnya dihitung per responden.

Namun, ada beberapa jurusan dan program studi yang menetapkan mahasiswa harus mengerjakan tugas kuliah yang datanya diambil dari masyarakat. Jadi, mereka melaksanakan tugas kuliah bukan untuk mencari uang.

”Di kampus saya, mereka yang menjadi tenaga survei biasanya sudah kuliah menginjak tahun ketiga. Mahasiswa tahun awal baru mendapat tugas kuliah survei dari dosen,” kata Dimitri Arioseno, mahasiswa semester tiga Jurusan Public Relations Program Studi Marketing Communication Fakultas Ekonomi dan Komunikasi Universitas Bina Nusantara, Kemanggisan, Jakarta Barat.

Dimitri mengatakan, menjelang pemilihan presiden Juli lalu, dia mendapat tugas kelompok untuk mengetahui kecenderungan pemilih tentang tokoh pilihan berikut alasannya. Setiap kelompok wajib mencari 10 responden di dekat kampus.

”Susah-susah gampang. Tidak semua orang mau menjadi responden, mereka menolak memberikan keterangan. Kalimat yang dipakai pun tidak sama untuk setiap responden,” ujar Dimitri. Dia mencontohkan, ketika menanyai seorang tukang bakso, dia membeli semangkuk bakso dulu agar si penjual mau mengobrol panjang dan menjadi responden.

Saat itu dia merasakan betapa perlu perjuangan untuk mencari dan menanyai responden. Ada yang menolak karena takut, ada yang menolak hanya karena enggan diwawancara, tetapi ada pula yang dengan senang hati memberikan informasi kepada mereka.

”Saya jadi tahu, menjadi tenaga survei ternyata tidak mudah dan harus mau berpanas-panasan di lapangan. Dari situ, saya berusaha secepatnya mencari responden sesuai target agar tak perlu berlama-lama di lapangan,” kata Dimitri.

Sementara Shella Julia Eriyani dan Eka Puji Handayani belum pernah menjadi tenaga survei. Shella merupakan mahasiswa tahun pertama di Jurusan Penyiaran Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika, Jatiwaringin, Bekasi, sedangkan Eka merupakan mahasiswa tahun pertama di Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Krisna Dwipayana, Jakarta.

”Mungkin nanti setelah beberapa tahun kuliah saya baru bisa menjadi tenaga survei. Namun, di rumah saya punya pengalaman buruk dengan tenaga survei. Si petugas mengaku disewa PLN, tetapi ternyata dia mencuri peralatan listrik di rumah saya. Tetangga lain juga menjadi korban,” kata Eka.

Lain halnya dengan Dian Wahyuningtias dan King Buana yang beberapa kali menjadi tenaga survei. Mereka menjadi tenaga survei di Litbang Kompas mulai dari semester enam hingga selesai kuliah. Dian sudah menyelesaikan studinya di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, sedangkan King merampungkan kuliahnya di Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

”Pekerjaan paruh waktu yang menyenangkan, tidak berat, dan menghasilkan uang,” kata Dian. (TIA)

Sumber: Kompas, 9 September 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: