Home / Berita / Mengais Laba Bisnis dari Mahadata

Mengais Laba Bisnis dari Mahadata

Tawaran kemudahan aplikasi di ponsel pintar kian menarik minat pengguna internet. Semakin banyak jumlah pengunduh, semakin banyak pula jejak digital yang ditinggalkan para pengguna. Terjangan tsunami data digital itu dapat menjadi harta karun yang tidak ternilai harganya.

Pengguna internet di dunia terus meningkat. Jika pada 2000 baru 361 juta pengguna internet, tahun ini (2019) menjadi 4.422,5 juta. Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018 mencatat, jumlah pengguna internet mencapai 171,2 juta orang atau 64,8 persen total populasi penduduk Indonesia. Jumlah ini meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun 2012, di mana pengguna internet di Tanah Air masih 63 juta orang.

Ponsel pintar menjadi perangkat favorit sebagian besar masyarakat. Sebanyak 93,9 persen responden mengaku setiap hari berinternet dengan gawai jenis ini. Sisanya, masih ada responden yang sehari-hari menggunakan komputer laptop, komputer desktop, dan tablet. Selain harganya yang kian terjangkau, penggunaan ponsel pintar juga semakin populer karena pengguna dapat mengakses banyak fungsi secara lebih praktis.

Pemilik ponsel pintar tidak perlu lagi harus membawa laptop untuk mengirimkan surat elektronik (surel). Tidak perlu membawa kamera DSLR untuk mendapatkan foto yang bagus. Tak dibutuhkan radio dan pemutar musik mp3 untuk menikmati alunan indah lagu atau GPS untuk navigasi selama perjalanan. Kalkulator juga tak lagi perlu untuk menghitung fungsi trigonometri. Semua fungsi itu bisa ditemukan dalam ponsel pintar.

Ponsel pintar juga memiliki sejumlah sensor yang berguna untuk memudahkan sekaligus merekam semua aktivitas kita di gawai ini. Mulai dari posisi kita (GPS), seberapa cepat kita bergerak (akselerometer), arah hadap posisi kita (kompas), hingga seberapa sering kita menekan layar (sensor sentuh). Semua data ini terkoneksi internet dan sebagian data dapat dijadikan bahan analisis mahadata (big data).

Mahadata
Menurut Bernard Marr (2016), ide mahadata mengacu dari semua aktivitas kita di berbagai jenis gawai dan jejak digital/data yang ditinggalkan. Jumlah data yang tersedia secara harfiah akan semakin banyak. Antara tahun 2014 dan 2016 saja, Bernard mengamati data digital yang diciptakan lebih banyak dibandingkan dengan sejarah umat manusia sebelumnya. Tahun 2020 diperkirakan setiap manusia di planet ini akan menghasilkan sekitar 1,7 megabyte data baru setiap detik.

Data ini datang dari jutaan pesan dan surel yang dikirim melalui aplikasi Gmail, Whatsapp, Line, Facebook, atau Twitter. Juga dari produksi 1 triliun foto digital setiap tahun dan jumlah data video yang diunggah. Setiap menit tercatat ada sekitar 300 jam video baru yang diunggah di YouTube dan terus bertambah seiring semakin banyak pengguna internet.

Melimpahnya data digital ini dijadikan peluang bagi pelaku perusahaan rintisan (startup) di Indonesia dan dunia. Contohnya, aplikasi Go-Jek yang memanfaatkan data jejak perjalanan, jenis makanan yang dibeli, hingga daftar belanjaan. Data ini mereka kumpulkan dan mereka analisis untuk menebak kebiasaan setiap pengguna aplikasi. Maka tidak heran jika ketika membuka Go-Ride atau Go-Car di aplikasi Go-Jek, pada kolom tujuan muncul histori beberapa alamat yang sering jadi tujuan pelanggan.

Begitu juga aplikasi belanja daring yang memanfaatkan mahadata untuk teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Mereka menggunakan AI untuk mengenali dan memprediksi pola seperti penipuan dari sebuah transaksi. AI juga digunakan untuk memberi rekomendasi jenis belanjaan yang biasa dicari si pembeli. Hal ini dapat dirasakan ketika suatu saat pengguna aplikasi mencari barang di berbagai toko daring. Contohnya saat ingin membeli lensa kamera, tidak lama kemudian iklan produk lensa kamera dan sejenisnya muncul di media sosial si pengguna aplikasi.

Hal serupa dilakukan Facebook (FB). Perusahaan ini memanfaatkan lebih dari 1,5 miliar data pengguna aktif setiap bulannya. Data yang dimanfaatkan lebih detail dan lebih personal. FB dapat mengakses data, seperti lokasi tinggal, lokasi bekerja, jumlah teman, hobi, hingga film/buku/musik favorit.

Data ini mereka gunakan untuk menawarkan iklan berbagai produk sesuai karakteristik pengguna. Konon, berkat strategi ini pada 2014, FB berhasil menguasai 24 persen pasar iklan daring di Amerika dengan pendapatan 5,3 miliar dollar AS.

Perusahaan rintisan
Pemanfaatan mahadata berhasil mengantarkan sejumlah perusahaan rintisan jadi perusahaan dengan valuasi yang fantastis. Menurut laman cbinsights.com, hingga September 2019 tercatat ada tujuh perusahaan rintisan di Asia yang telah memiliki predikat decacorn. Predikat ini diberikan kepada perusahaan rintisan dengan valuasi paling sedikit 10 miliar dollar AS. Peringkat pertama diduduki Tautiao (Bytendance), perusahaan asal China yang bergerak di bidang AI dengan valuasi 75 miliar dollar AS.

Perusahaan aplikasi layanan transportasi Go-Jek termasuk satu dari tujuh perusahaan rintisan di Asia yang telah berpredikat decacorn. Sejak April 2019, aplikasi layanan transportasi buatan Indonesia ini tercatat memiliki valuasi 10 miliar dollar AS atau setara dengan sekitar Rp 140 triliun. Predikat ini diraih Go-Jek, tidak lepas dari pendanaan dari sejumlah investor.

Investor terbaru datang dari Google, JD.com, Tencent, Mitsubishi Corporation, dan Provident Capital. Keberhasilan Go-Jek juga ditandai dengan pelebaran sayap usahanya hingga keluar negeri. Perusahaan rintisan ini telah beroperasi di Vietnam sejak Agustus 2018 dengan nama Go-Viet. Go-Jek juga beroperasi di Singapura sejak November 2018 dengan nama yang sama. Begitu juga di Thailand, sejak Februari 2019 bernama Get dengan tawaran tiga layanan, yaitu Get Food, Get Delivery, dan Get Win.

Selain Go-Jek, Tokopedia juga termasuk perusahaan rintisan asal Indonesia dengan valuasi tinggi, yaitu 7 miliar dollar AS sehingga mengantarkan perusahaan di bidang perdagangan elektronik ini sebagai perusahaan rintisan unicorn. Predikat unicorn, juga dimiliki perusahaan rintisan di bidang jasa perjalanan, yaitu Traveloka. Perusahaan yang dibangun Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang itu tercatat telah memiliki valuasi 2 miliar dollar AS. Selanjutnya, di bawahnya Bukalapak dengan valuasi 1 miliar dollar AS.

Tingginya valuasi sejumlah perusahaan dalam negeri ini tidak lepas dari kian banyaknya pengguna aplikasi ini. Contohnya Go-Jek yang menurut laman androidrank.org telah diunduh 71,3 juta orang. Aplikasi ini juga dinilai baik oleh mayoritas penggunanya. Terlihat dari 73,4 persen pengguna yang memberi bintang lima untuk aplikasi ini. Hal serupa juga terlihat dari 56,9 juta penginstal aplikasi Tokopedia. Sebanyak 75,1 persen di antaranya memberi bintang lima untuk aplikasi itu.

Perkembangan teknologi 4.0 memang sudah kian terasa, salah satunya dengan kehadiran mahadata. Seiring dengan maraknya pengguna internet, tsunami data digital kian tak terbendung. Namun, terjangannya berhasil memberi berkah melimpah bagi mereka yang cerdik memanfaatkannya. Kita patut berbangga hati karena sebagian dari mereka merupakan produk dalam negeri karya anak bangsa. (Albertus Krisna/Litbang Kompas)

Sumber: Kompas, 23 September 2019

Share
%d blogger menyukai ini: