Home / Berita / Membuka Jalan Menuju Perguruan Tinggi

Membuka Jalan Menuju Perguruan Tinggi

Peningkatan jumlah warga yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi diyakini ikut menambah kekuatan dan daya saing bangsa. Di Indonesia, meskipun terus meningkat, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi masih berkisar 33,6 persen.

Pendidikan tinggi memang belum sepenuhnya dinikmati masyarakat, terutama mereka yang di daerah terdepan, terpencil, dan terluar (3T). Ketersediaan dana dan fasilitas pendidikan masih menjadi persoalan.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir di Jakarta, akhir tahun lalu, mengatakan, peningkatan jumlah lulusan pendidikan menengah ke perguruan tinggi berupaya dilakukan. Beberapa cara ialah dengan menambah perguruan tinggi, terutama di daerah 3T, termasuk dengan penambahan politeknik dan akademi komunitas.

Pemerintah juga terus menjamin akses kuliah bagi siswa dari keluarga tidak mampu lewat beasiswa. Ada tiga program bantuan beasiswa Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang dapat diakses secara terbuka oleh calon mahasiswa ataupun mahasiswa yang sudah kuliah di perguruan tinggi. Pertama, beasiswa Bidikmisi yang bertujuan untuk menciptakan pendidikan yang berkeadilan. Beasiswa itu terbuka bagi lulusan pendidikan menengah dari keluarga ekonomi lemah yang hendak kuliah di perguruan tinggi mana pun dengan jaminan biaya pendaftaran, biaya kuliah, dan biaya hidup sampai selesai kuliah ditanggung pemerintah.

Ada pula beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (Adik) yang dikhususkan bagi siswa lulusan pendidikan menengah asal Papua, Papua Barat, dan daerah 3T lain agar dapat mengakses perguruan tinggi bermutu di seluruh Indonesia.

Ketiga, ada beasiswa peningkatan prestasi akademik (PPA). Beasiswa itu merupakan bantuan biaya pendidikan untuk mahasiswa yang memiliki prestasi tinggi, minimal memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,00.

Rp 3,75 triliun
Nasir mengatakan, untuk tahun 2016, dialokasikan beasiswa senilai Rp 3,75 triliun. Alokasi anggaran beasiswa tersebut untuk membiayai 352.000 mahasiswa.

Beasiswa Bidikmisi diberikan kepada 252.292 orang. Dimulai sejak 2010 dengan menerima 20.000 mahasiswa baru yang dijamin dari pendaftaran hingga lulus kuliah di program D-3 ataupun D-4/S-1. Pendaftar pun sebenarnya bertambah seiring kuota yang ditingkatkan.

Penerima beasiswa Bidikmisi berkisar 30 persen dari total pendaftar beasiswa itu. Pada 2015, misalnya, pendaftar mencapai 206.623 orang dan yang diterima 60.000 mahasiswa baru.

Hasil kinerja akademik para penerima beasiswa itu pun memuaskan. Ada 706 mahasiswa yang memiliki IPK 4,00, serta sebagian besar memiliki IPK di atas 3,00-3,99 meskipun ada pula yang IPK-nya di bawah 2,00 ataupun 2,00-2,74.

Beasiswa Bidikmisi bertujuan memutus mata rantai kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat. Lewat program tersebut, anak bangsa yang memiliki kemampuan akademik baik bisa berkuliah di program studi ataupun di perguruan tinggi yang mereka minati. Tahun 2016, alokasi Bidikmisi sekitar Rp 2,96 triliun.

Adapun beasiswa Afirmasi dalam rangka percepatan dan pemerataan bidang pendidikan di Papua dan Papua Barat serta daerah 3T. Harapannya, dihasilkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Untuk tahun 2016, anggaran beasiswa Afirmasi dialokasikan Rp 70,5 miliar. Mahasiswa yang sedang menggunakan beasiswa itu 2.411 orang dengan beasiswa total senilai Rp 40,5 miliar. Penerima beasiswa afirmasi baru 1.500 mahasiswa dengan nilai total beasiswa Rp 30 miliar.

Beasiswa PPA diberikan bagi mahasiswa berprestasi dengan alokasi Rp 4,2 juta per semester per mahasiswa. Untuk tahun anggaran 2016, alokasi Rp 210 miliar untuk 50.000 orang.

Nasir mengatakan, dalam pendidikan tinggi, Indonesia menghadapi tantangan kurangnya ahli di bidang sains dan teknik. Itu memengaruhi indeks daya saing Indonesia.

Intan Ahmad, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemristek dan Dikti, mengatakan, peningkatan akses untuk mahasiswa juga harus disertai dengan jaminan mutu layanan perguruan tinggi. Salah satunya diukur dari lulusannya. Dari pendataan tahun 2015, persentase lulusan yang langsung bekerja sekitar 60 persen.(ELN)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Januari 2016, di halaman 11 dengan judul “Membuka Jalan Menuju Perguruan Tinggi”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: