Home / Berita / Memahami Diri hingga Serinci DNA

Memahami Diri hingga Serinci DNA

Jam tidur lebih sering dikorbankan oleh kaum profesional kota besar dibandingkan saat-saat olahraga rutin dan komitmen untuk mengonsumsi makanan sehat. Padahal, tidur sejatinya adalah dasar kesehatan manusia.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI–Ilustrasi. Penumpang pesawat terbang asal Lombok yang akan berangkat umrah tidur di kursi ruang tunggu di area pelaporan Terminal Keberangkatan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (27/2/2020).

Kualitas dan kesehatan tidur sering kali disepelekan. Jam tidur lebih sering dikorbankan oleh kaum profesional kota besar dibandingkan saat-saat olahraga rutin ataupun komitmen untuk mengonsumsi makanan sehat. Namun, menurut pakar kesehatan tidur Andreas Prasadja, tidur juga harus mendapat perhatian yang sama besarnya sebab sejatinya tidur adalah dasar kesehatan manusia.

”Kekebalan tubuh, kemampuan otak, dan sistem metabolisme itu dibangun ulang ketika tidur. Belum ada zat yang dapat menggantikan efek restoratif tidur,” kata Andreas dalam acara peluncuran layanan DNA Journal Sleep & Stress perusahaan asuransi Generali pada Rabu (4/3/2020) di Jakarta.

KOMPAS/SATRIO PANGARSO WISANGGENI–Pakar kesehatan tidur Andreas Prasadja (kedua dari kiri) dalam acara peluncuran layanan DNA Journal Sleep & Stress perusahaan asuransi Generali pada Rabu (4/3/2020) di Jakarta.

Andreas mengatakan, hingga saat ini memang masih sulit untuk meneliti langsung dampak positif dari proses tidur. Namun, hasil temuan yang tersedia adalah dampak negatif dari kondisi manusia yang kekurangan tidur.

Ia menyebutkan, dari gangguan emosi yang berdampak pada kemampuan kreativitas dan pengambilan keputusan hingga kesehatan seperti disfungsi ereksi. Hal ini karena, menurut Andreas, kualitas tidur berkorelasi langsung dengan kondisi stres pada manusia. Dan, kondisi psikis yang mengalami stres akan langsung memicu gangguan metabolisme tubuh.

Untuk itu, memahami siklus ideal tidur dan kondisi pemicu stres masing-masing pribadi, menurut Andreas, menjadi hal yang penting untuk diketahui oleh masyarakat. ”Dengan pemahaman itu, kita bisa mengatur strategi untuk bisa menjaga siklus tidur yang optimal dan menghindari munculnya stres,” kata Andreas.

Sleep and Stress
Kemampuan untuk memahami kondisi tubuh dengan sangat terperinci inilah yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi Generali kepada nasabah prioritasnya.

Dengan layanan Sleep and Stress yang terdapat dalam paket layanan Generali DNA Journal, nasabah bisa mendapat informasi mengenai sejumlah karakteristik tubuh berdasarkan gen yang tercatat dalam rantai DNA. Nasabah mengambil sampel DNA yang diambil dengan swab dinding di dalam mulut menggunakan test kit. Test kit ini kemudian dikirimkan kepada Generali.

Hasil analisis DNA Journal Sleep and Stress akan menunjukkan sejumlah parameter, dari jenis kronotipe atau jam tubuh, kualitas tidur bawaan, tingkat toleransi terhadap kafein, hingga kemampuan menahan stres.

CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman mengatakan, fitur ini diperkenalkan untuk melengkapi layanan untuk nasabah agar hidup lebih sehat. ”Ini yang menjadi perhatian kami untuk membantu nasabah lebih mengenal diri mereka dan mengurangi risiko sakit,” ujarnya.

KOMPAS/SATRIO PANGARSO WISANGGENI–CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman dalam acara peluncuran layanan DNA Journal Sleep and Stress perusahaan asuransi Generali pada Rabu (4/3/2020) di Jakarta.

Laporan hasil analisis DNA akan dikirimkan dalam bentuk jurnal kesehatan digital yang bersifat personal dan rahasia. Bahkan, Generali tidak bisa melihat hasil analisis tersebut.

Fitur ini melengkapi Generali DNA Journal yang sudah diperkenalkan setahun sebelumnya. DNA Journal selama ini menyediakan dua layanan, Nutrigenomic dan Fitness.

Nutrigenomic mengacu pada informasi genetika mengenai kebutuhan nutrisi serta sensitivitas terhadap karbohidrat, kafein, laktosa, dan vitamin. Dengan demikian, nasabah dapat menyesuaikan asupan makanan dan tipe diet yang sesuai.

Sementara itu, DNA Journal Fitness merupakan layanan analisis genetik yang menyangkut kebugaran dan pola latihan, seperti identifikasi kekuatan dan ketahanan tubuh dalam olahraga, risiko cedera, serta durasi masa pemulihan (recovery) setelah berolahraga.

Tren analisis DNA
Personalisasi advice berdasarkan analisis DNA merupakan salah satu tren dalam isu kesehatan yang terjadi di dunia saat ini.

Genetics Indonesia, sebuah perusahaan bioteknologi dalam negeri, telah meluncurkan layanan tes DNA bernama DNAku pada Agustus 2019. Layanan tersebut bertujuan untuk mengetahui informasi dasar profil kesehatan penggunanya.

Juga dengan mengambil sel mukosa pada pipi bagian dalam, DNAku akan membuat laporan sesuai dengan kebutuhan penggunanya, mulai dari masalah kulit, kesehatan, olahraga, nutrisi, hingga silsilah leluhur (ancestry).

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN–Pemotongan pita tanda peluncuran layanan tes DNAku oleh Direktur PT Global Genetika Indonesia Simon di Jakarta, Kamis (15/8/2019).

Pengguna akan mendapatkan informasi seperti kelebihan tubuh hingga kerentanan tubuh lengkap dengan rekomendasi olahraga untuk dilakukan (Kompas, 16/8/2019).

Di mancanegara, layanan serupa sudah lebih awal dikenal. Perusahaan seperti CircleDNA DNAfit juga menawarkan analisis DNA dan menghubungkannya dengan faktor kesehatan dan kebugaran. Pelacakan silsilah leluhur juga ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan seperti 23andMe dan AncestryDNA.

Akurasi?
Meski demikian, dengan seluruh kecanggihan yang dijanjikan, akurasi dari layanan pengujian DNA personal semacam itu masih beragam hasilnya. Pusat Nasional Informasi Bioteknologi Amerika Serikat (NICB) menyatakan, uji DNA dengan sangat akurat mengidentifikasi penyakit turunan seperti anemia sickle cell.

Namun, layanan yang menjanjikan rekomendasi nutrisi ataupun resep olahraga yang dipersonalisasikan berdasarkan DNA masih dipertanyakan.

Pada 2015, sebanyak 24 pakar genetika dari sejumlah universitas ternama dunia—antara lain Stanford University, University of Oxford, dan King’s College London—menyatakan konsensus bahwa hasil uji DNA komersial tidak akurat untuk identifikasi talenta dalam olahraga ataupun penyusunan resep latihan yang terpersonalisasi.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Peneliti melakukan riset di laboratorium Pusat Genom Nasional di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, setelah peresmian fasilitas tersebut, Kamis (26/4/2018). Pusat Genom Nasional dilengkapi dengan alat-alat sequence genetika terbaru yang menjadikan Indonesia memiliki laboratorium bertaraf internasional. Pusat genom ini berfokus pada penelitian identifikasi penyakit infeksi dan penyakit terkait genetik, pengembangan alat uji diagnostik dan vaksin, serta penemuan obat baru untuk penyakit infeksi.

Konsensus yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah British Journal of Sports Medicine tersebut menyatakan, inkonsistensi hasil analisis dari berbagai perusahaan yang berbeda dan metode ilmiah yang tidak terbuka menjadi potensi disalahgunakannya ilmu genetika untuk mencari keuntungan komersial semata.

”Untuk itu, tanpa adanya riset kolaboratif skala besar, tidak sebaiknya, siapa pun melakukan tes DNA untuk menentukan resep latihan ataupun talent identification,” tulis artikel konsensus tersebut.

Pakar genetika asal Inggris, Adam Rutherford, juga mengatakan, perusahaan uji DNA personal tidak menganalisis seluruh genom yang menjadi sampel, tetapi hanya mengambil sebagian kecil lokasi di sekuen DNA yang diduga menyimpan gen target pengujian. Kondisi ini yang menyebabkan adanya perbedaan hasil dari setiap perusahaan.

Terlebih lagi, genetika adalah ilmu yang sangat berkaitan dengan peluang probabilitas, menurut Rutherford. ”Sangatlah mungkin bagi seseorang untuk dideteksi memiliki gen bermata biru, tetapi pada kenyataannya tidak memiliki mata berwarna biru,” kata Rutherford dalam artikelnya di majalah sains Scientific American.

Oleh SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Editor KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 4 Maret 2020

Share
x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: