Home / Berita / Hari Tidur Sedunia, Masyarakat Modern Makin Mengantuk

Hari Tidur Sedunia, Masyarakat Modern Makin Mengantuk

Beban hidup, ragam aktivitas hingga perkembangan teknologi membuat masyarakat modern kian lama terjaga. Kurangnya waktu tidur itu tak hanya berdampak pada kesehatan fisik dan mental jangka pendek dan panjang, tapi juga membebani ekonomi.

Masyarakat Tidur Dunia atau World Sleep Society dalam peringatan Hari Tidur Sedunia (HTS) atau World Sleep Day 2018 menyebut 45 persen warga dunia punya masalah tidur. Sebanyak 35 persen penduduk Bumi tak punya waktu tidur yang cukup, 7-8 jam sehari untuk orang dewasa.

“Di Indonesia, 10 persen populasi atau sekitar 28 juta orang mengalami insomnia,” kata pendiri Am Life International, perusahaan peralatan kesehatan, Lew Mun Yee dalam diskusi menyambut peringatan HTS 2018 di Jakarta, Senin (12/3).

Kurangnya jam tidur itu jadi epidemi global. Kondisi terparah umumnya dialami warga kota-kota besar dunia. Seperti dikutip straitstimes.com, 20 Agustus 2014, warga Tokyo, Jepang dan Seoul, Korea Selatan paling kurang tidur, yaitu 5 jam 46 menit dan 5 jam 55 menit.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN (HAS)–Anggota DPR tertidur saat mengikuti rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (30/3/2012). Kurangnya waktu tidur di malam hari, sekitar 7-8 jam sehari, dan kualitas tidur yang buruk membuat produktivitas kerja di siang hari menurun karena mengantuk.

Di Singapura, warganya tidur 6 jam 32 menit sehari. Sementara yang tidurnya cukup antara lain warga London, Inggris dan Melbourne, Australia, masing-masing sebanyak 7 jam 2 menit dan 7 jam 5 menit.

Waktu tidur itu diyakini akan terus berkurang dan makin banyak warga yang mengalaminya. Selain beban pikiran meningkat, aneka hiburan yang membuat manusia terjaga hingga dini hari makin melimpah, mulai dari tayangan televisi 24 jam hingga godaan gawai. Akibatnya, pada siang hari mereka justru mengantuk.

HTS diperingati setiap Jumat terakhir sebelum Matahari mencapai titik musim semi (vernal equinox) antara 19-21 Maret. Tahun ini, HTS itu jatuh pada 16 Maret dan menjadi peringatan HTS ke-11. Besarnya manfaat tidur dan kerugian akibat kurang tidur membuat tidur perlu diperingati.

“Tidur yang berkualitas memiliki pengaruh besar pada kualitas kesehatan fisik dan mental,” tambah konsultan kesehatan Edward Yong.

KOMPAS/RYAN RINALDY–Pendukung Persija Jakarta, The Jakmania, tidur di trotoar Jalan Gerbang Pemuda, Jakarta, Sabtu (17/2) dini hari. Mereka bersiap mengantre untuk membeli tiket final Piala Presiden 2018. Lingkungan tidur yang tidak nyaman, mulai dari cahaya lampu jalanan yang terang hingga suhu yang dingin dan lembab di udara terbuka membuat kualitas tidur buruk.

Tidur bukan sekedar memejamkan mata, tapi kebutuhan dasar yang sama pentingnya dengan bernapas, makan, dan olahraga teratur.

Kurang tidur meningkatkan nafsu makan dan sensitivitas terhadap rangsangan makanan. Dalam jangka panjang, itu akan meningkatkan risiko obesitas, diabetes, melemahnya sistem kekebalan tubuh, hingga memicu sejumlah kanker. Gangguan tidur juga menimbulkan apnea tidur atau gangguan napas saat tidur. Gangguan itu tak hanya memicu mendengkur, tapi juga tingkatkan risiko hipertensi, gangguan irama jantung dan stroke.

Di sisi lain, kurang tidur juga memengaruhi kewaspadaan, memori dan kemampuan belajar. Kondisi itu berdampak pada suasana hati hingga memengaruhi hubungan sosial. Lebih jauh, gangguan tidur akan menganggu produktivitas, kesehatan dan keselamatan kerja dan berdampak pada ekonomi.

Di Indonesia, banyak kecelakaan lalu lintas yang merenggut korban jiwa dipicu oleh pengemudi yang mengantuk. Meski belum ada penelitian, kondisi masyarakat yang mudah marah dan emosi juga bisa disebabkan kurang tidur.

Sementara di Amerika Serikat, ada 71.000 orang terluka dalam kecelakaan akibat kurang tidur setiap tahun. Orang dengan gangguan tidur berpeluang tiga kali lebih besar dipecat atau membuat kesalahan di tempat kerja dibanding orang yang tidur cukup. Sedang beban ekonomi akibat insomnia di negara itu mencapai 92,5-107,5 miliar dollar AS atau Rp 1.250-1.450 triliun.

Psikolog klinis Aurora Lumbantoruan mengatakan ciri tidur berkualitas adalah saat bangun tidur merasa segar, bukan malah pusing atau pegal.

Tidur berkualitas bisa dicapai jika durasi waktu tidurnya terpenuhi. Selain itu, tidur harus berkesinambungan atau tidak mudah terbangun. Penentu lainnya adalah kedalaman tidur alias tidur yang pulas hingga tak merespon rangsangan lingkungan atau bisa bermimpi.

KOMPAS/M ZAID WAHYUDI–Psikolog klinis Aurora Lumbantoruan (kiri), Pendiri Am Life International Lew Mun Yee (tengah), dan konsultan kesehatan Edward Yong (kanan) menjadi pembicara dalam diskusi menyambut Hari Tidur Sedunia di Jakarta, Senin (12/3). Tahun ini, Hari Tidur Sedunia jatuh pada 16 Maret.

Untuk membuat tidur berkualitas bisa dilakukan dengan menjadikan tidur sebagai aktivitas rutin, yaitu tidur dan bangun di waktu yang sama tiap hari. “Tubuh menyukai sesuatu yang rutin,” kata Aurora.

Pencahayaan ruang tidur juga perlu dibuat redup hingga tubuh rileks, tidak siaga seperti saat hari terang. Tubuh yang rileks bisa dicapai dengan memiliki rutinitas sebelum tidur yang membuat tubuh santai.

Selain itu, tempat tidur harus ditata senyaman mungkin dengan tidak menaruh barang apapun di ranjang, terutama pekerjaan dan gawai. “Pikiran harus dijaga tetap tenang. Makin berusaha ingin cepat tidur atau khawatir terlambat bangun, makin susah kita untuk tidur,” katanya.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 13 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: