Home / Berita / Melongok Kepemimpinan di Kapal Riset Tercanggih

Melongok Kepemimpinan di Kapal Riset Tercanggih

Kapal Riset Baruna Jaya VIII yang dioperasikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia merupakan kapal paling canggih milik Indonesia untuk fungsi penelitian kelautan. Kapal bikinan galangan kapal Mjellem & Karlsen Verft AS di Norwegia pada 1998 itu kini dipimpin nakhoda Mohammad Afandi Juluhun yang mulai bertugas sejak Maret 2015.

Sejak Kamis (7/5), kapal tersebut memulai lagi ekspedisi kelautan di bawah koordinasi Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Seperti diwartakan kantor berita Antara, ekspedisi itu bakal dilakukan simultan di perairan Samudra Hindia dalam tajuk Ekspedisi Widya Nusantara (Ewin) dan Ekspedisi Sabang 2015.

Pengungkapan profil oseanografi serta potensi Samudra Hindia timur guna menentukan proses biogeokimia di kawasan itu menjadi tujuan Ewin. Diketahui bahwa proses biogeokimia di kawasan itu diatur arus Equatorial Jet dan arus Sumatera.

Adapun Ekspedisi Sabang dilakukan untuk mengungkap keadaan geologi serta oseanografi menyusul pengaruh Samudra Hindia dan Selat Malaka. Kegiatan itu juga untuk mengetahui keberadaan aktivitas hidrotermal dan biodiversitas di lokasi penelitian, seperti dikutip dari kantor berita Antara.

Selama 24 hari ekspedisi, Afandi kembali memimpin pelayaran tersebut. Pria kelahiran Ambon, 38 tahun lalu itu, bakal mengoordinasikan 23 orang di bawah kepemimpinannya dalam berbagai tugas pelayaran selama ekspedisi berlangsung.

Tentu saja menarik untuk melongok gambaran kepemimpinan dalam kapal riset yang memiliki lima laboratorium riset dengan sejumlah kemampuan, seperti memetakan topografi bawah laut, itu. Ini belum termasuk fakta bahwa memang terdapat perbedaan antara bekerja di atas kapal yang tengah berlayar di lautan dan yang bekerja di daratan.

dcc51471cd24437eb512640a2d51e2f1Nakhoda Kapal Riset Baruna Jaya VIII, Mohammad Afandi Juluhun (kedua dari kanan) tengah menyimak paparan peneliti kelautan asal Jerman, Dr. Andreas Kunzmann dalam kapal tersebut yang tengah sandar di Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara, Selasa (13/4).–Kompas/Ingki Rinaldi

Hal itu terutama terkait persepsi mengenai ruang dan waktu yang relatif berbeda serta toleransi pada tingkat kesalahan seminimal mungkin terkait risiko keselamatan kerja yang lebih besar daripada kondisi di darat. Guna beroleh gambaran tersebut, Jumat (17/4), Mohammad Afandi Juluhan mengungkapkan tiga hal yang sebaiknya ada dalam kepemimpinan di kapal dan tiga hal yang sebaiknya dihindari.

Afandi yang sudah bergabung di LIPI sejak 17 tahun terakhir menjadi nakhoda kapal tersebut menggantikan nakhoda sebelumnya, Bangun Aritonang, yang meninggal. Adapun nakhdoa pertama sejak kapal tersebut dioperasikan hingga 2011 adalah Irham Danil, diteruskan oleh Indra AS (2011-2013).

Afandi menjelaskan, secara struktur terdapat dua bagian pekerjaan dalam kapal. Keduanya adalah bagian mesin dan dek dengan penanggung jawab masing-masing pada kepala kamar mesin (chief engineer) dan mualim satu (chief officer).

92d040a129004c1281dee9e521d01071Ruang mesin Kapal Riset Baruna Jaya VIII.—Kompas/Ingki Rinaldi

Selain itu, terdapat pula pekerjaan di tingkatan penunjang (supporting level) yang dilakukan anak buah kapal dan tingkatan operasional yang dilakukan para petugas (officer). Adapun nakhoda berikut kepala kamar mesin, mualim, dan sebagainya berada pada tingkatan manajemen tinggi.

Sebagai pelaut dan pegawai negeri sipil, mereka terikat dua aturan. Pertama, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara yang diturunkan dalam sejumlah peraturan dan kebijakan LIPI. Kedua, aturan-aturan baku pelayaran sebagaimana tertuang dalam International Safety Management Code yang dikeluarkan Organisasi Maritim Internasional (IMO).

Afandi mengatakan, pola kepemimpinan di kapal mengacu pada prosedur operasional standar. Sekilas, jika merujuk pada hal itu, tinggal mengikuti proses dan langkah-langkah yang sudah ditetapkan.

Namun, ada tiga hal yang mesti dihindari dalam kepemimpinan di kapal dan upaya untuk mengatasinya pun merupakan perpaduan antara seni dan kepatuhan pada aturan baku. Hal pertama yang harus dihindari ialah kesenjangan beban kerja di antara orang-orang dalam kapal.

Ia menambahkan, jika ini sampai terjadi, kemungkinan bisa memengaruhi kinerja dan prestasi kerja yang bersangkutan. Maka, untuk menghindarinya, diperlukan pertemuan teknis untuk menyamakan persepsi ihwal pekerjaan berbeda-beda serta latar pendidikan yang beragam.

Hal kedua ialah kejenuhan kerja yang bisa jadi dipicu oleh kerinduan pada rumah (homesick) atau pekerjaan yang berulang-ulang dalam tempo lambat dan rentang waktu panjang. Dalam pengambilan sampel di lautan, hal ini terjadi karena sejumlah pengaruh dan metode ilmiah pengambilan sampel yang mesti ditaati.

Sejumlah kondisi yang meliputi keadaan cuaca, ombak, dan angin dalam batas toleransi tertentu menjadi patokan saat prosedur pengambilan sampel dilakukan. Kerap kali, atas dasar ukuran-ukuran tersebut, pengambilan sampel harus ditunda dulu untuk sementara waktu.

Jika kejenuhan ini terjadi dalam kadar berlebihan, bukan tidak mungkin taruhannya ialah risiko kerja. Karena itulah, tidak ada cara selain menerapkan kode keselamatan pekerjaan secara ketat dan tidak menoleransi pelanggaran yang berdimensi pidana.

Terkait kemungkinan terjadinya homesick, Afandi mengatakan, durasi pelayaran Kapal Riset Baruna Jaya VIII yang biasanya kurang dari sebulan relatif belum memunculkan sindrom tersebut. Ini berbeda, misalnya, dengan pelayaran yang dilakukan kapal-kapal lain dengan durasi hingga satu tahun.

Hal ketiga yang mesti dihindari ialah kecelakaan kerja. Afandi mengatakan, keselamatan kerja merupakan hal terpenting yang mesti dijaga dan tidak ada toleransi hal itu terjadi. Guna menghindari kecelakaan kerja, latihan atau simulasi keadaan darurat dilakukan secara berkala dan tiba-tiba.

“Kami tidak pernah memberitahukan sebelumnya saat hendak melakukan latihan itu. Tujuannya untuk mengetahui apakah seseorang sudah betul-betul memahami instruksi keselamatan atau belum,” katanya.

Ia mengatakan, kerap kali mereka yang belum paham instruksi keselamatan dan melakukan kesalahan saat latihan diberi hukuman. Ia menilai, hal itu penting karena perkara keselamatan di laut adalah mutlak dan tidak bisa diperlakukan dengan main-main.

Sementara itu, tiga hal yang mesti ada dan dihadirkan dalam kepemimpinan di kapal ialah komunikasi kerja yang baik, prestasi kerja setiap orang, dan keselamatan kerja. Upaya untuk menjamin keberadaannya ialah dengan melakukan hal-hal yang sudah disebutkan di atas dengan tekanan pada pertemuan rutin bersama kru guna mengomunikasikan perkembangan dan tantangan yang dihadapi.—Ingki Rinaldi

Sumber: Kompas Siang | 11 Mei 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: