Home / Berita / Mayoritas Kasus Kebutaan Bisa Dicegah

Mayoritas Kasus Kebutaan Bisa Dicegah

Sebagian besar kebutaan bisa dicegah. Sayangnya, mayoritas warga tak mengetahuinya sehingga banyak orang telanjur mengalami kebutaan.


Menurut optalmolog komunitas dari Rumah Sakit Mata Cicendo, Syumarti, di Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/12), katarak menjadi penyebab utama kebutaan yang bisa dicegah. Itu bukan berarti terhindar dari katarak, melainkan memperlambat proses terjadinya katarak.

”Semakin bertambah usia seseorang, risiko katarak makin besar. Kita bisa memperlambat prosesnya dengan upaya pencegahan,” kata Syumarti.

Upaya yang bisa dilakukan untuk memperlambat terjadi katarak antara lain menghindari paparan sinar ultraviolet yang berlebihan ke mata, tidak merokok, dan menghindari dehidrasi atau kekurangan cairan kronis. Upaya lain adalah, jika mengalami diabetes, kadar gula pasien harus dikendalikan.

Selain itu, untuk mencegah kebutaan kepada bayi baru lahir, harus dilakukan imunisasi rubella kepada ibu hamil.

Hasil Rapid Assessment of Avoidable Blindness tahun 2014 kepada warga berusia di atas 50 tahun di Jawa Barat menunjukkan prevalensi kebutaan 2,8 persen. Sebanyak 71,7 persen di antaranya karena katarak. Penyebab lain kebutaan yang dapat dicegah adalah gangguan refraksi, kekeruhan kornea akibat infeksi, dan diabetes retinopati.

Menurut Syumarti, berdasarkan pengalamannya di RS Mata Cicendo, kesadaran masyarakat di kota besar untuk memeriksakan kesehatan matanya sudah baik. Namun, kesadaran masyarakat di daerah, terutama yang tinggal di pelosok, masih rendah sehingga banyak warga terlambat ditangani dan menjadi buta.

Di daerah, ada banyak penyebab terjadinya kebutaan selain faktor penyakitnya itu sendiri, di antaranya akses terhadap layanan kesehatan yang terbatas, transportasi mahal, dan pasien takut menjalani operasi. ”Ketika bakti sosial ke daerah, kami menemukan lebih dari 60 persen sudah buta dan harus sudah dioperasi,” ujar Syumarti.

Direktur Utama Rumah Sakit Mata Cicendo Hikmat Wangsaatmadja menjelaskan, tantangan terbesar kesehatan mata di Indonesia adalah sebagian besar masyarakat tak paham bahwa kebutaan bisa diatasi dan dicegah. ”Jangan sampai masyarakat pasrah dengan kondisi matanya yang sakit. Nanti kalau sudah buta akan rugi karena tak produktif,” ucapnya menegaskan.

Menurut Hikmat, penapisan kesehatan mata secara berkala di masa anak-anak penting dilakukan. Pemeriksaan dasar penglihatan menggunakan alat sebaiknya dilakukan sebelum anak berusia enam tahun. Sebab, di usia enam tahun, perkembangan mata anak sudah seperti mata orang dewasa.

Jika ditemukan ada refraksi, dokter akan memberikan rekomendasi pemakaian alat bantu penglihatan. Jika dibiarkan, refraksi mata bisa menyebabkan kebutaan dan pasien menjadi tak produktif. (ADH)

Sumber: Kompas, 18 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: