Katarak Terjadi Lebih Cepat

- Editor

Rabu, 4 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hanya Bisa Disembuhkan Melalui Operasi
Penduduk Indonesia, seperti penduduk di kawasan tropis lain, lebih cepat mengalami katarak daripada penduduk di negara-negara subtropis. Penyebab utamanya paparan sinar ultraviolet yang tinggi. Namun, risiko katarak bisa dicegah dengan berbagai langkah.

“Orang Indonesia terkena katarak sekitar 15 tahun lebih cepat ketimbang penduduk negara subtropis. Kasus tertinggi di Sulawesi Utara, 3,7 persen penduduknya katarak,” ujar Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Dedi Kuswenda pada peluncuran Corporate Social Responsibility Pollux Habibie Vision “Sepuluh Ribu Mata”, Selasa (3/5). Turut hadir presiden ketiga RI, BJ Habibie, dan Ketua Bank Mata Indonesia Tjahjono D Gondhowiarjo.

Katarak ditandai kekeruhan lensa mata yang seharusnya bening dan mengaburkan penglihatan. Katarak tak menimbulkan rasa sakit dan tergolong sangat umum terjadi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dedi mengatakan, kebanyakan warga dengan katarak terpapar sinar UV dalam waktu lama, misalnya masyarakat pesisir atau nelayan. Mereka terpapar sinar matahari tanpa perlindungan cukup, misalnya topi atau caping.

Untuk mencegah katarak, siapa saja bisa menggunakan kacamata anti UV. Tidak semua kacamata hitam memiliki lapisan pelindung itu sehingga perlu memilih kacamata yang tepat.

Selain itu, untuk warga yang bekerja di luar ruang, sangat dianjurkan menggunakan topi lebar seperti caping. “Misalnya nelayan di laut. Penggunaan caping mengurangi risiko katarak. Sebab, caping lebih menutupi mata daripada topi biasa,” ujar Dedi.

Tjahjono D Gondhowiarjo menekankan pentingnya gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dan tidak merokok. Gaya hidup sehat mengurangi risiko terkena penyakit degeneratif, seperti diabetes yang dapat diikuti katarak.

2066a091bd2b484ab975a484702dd5faBerdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi katarak di Indonesia adalah 1,8 persen dari seluruh penduduk Indonesia, sekitar 4 juta jiwa. Setiap tahun, ada satu penderita katarak baru dari 1.000 orang. Katarak juga jadi salah satu faktor tertinggi penyebab kebutaan di Indonesia.

Teknologi operasi
Tjahjono menguraikan, 80 persen informasi sehari-hari diterima melalui mata. Oleh karena itu, katarak menurunkan kualitas hidup. Katarak juga hanya dapat disembuhkan melalui operasi.

“Dua minggu setelah operasi, penglihatan yang tadinya hanya 30-40 persen dapat meningkat jadi 90-100 persen,” ujarnya.

Melalui operasi, lensa mata keruh diganti lensa artifisial. “Biaya operasi tergantung jenis lensa artifisial yang digunakan, ada yang murah sampai mahal,” ujar Tjahjono. Saat ini, biaya operasi katarak di rumah sakit pemerintah sekitar Rp 8 juta.

Operasi katarak saat ini, kata Tjahjono, jamak menggunakan teknik fakoemulsifikasi. Teknik itu menghancurkan lensa katarak lewat tenaga ultrasonik. Operasinya memakan waktu 10-15 menit. Namun, kendalanya ketersediaan alat yang belum banyak.

“Sering kali, ketika CSR operasi katarak, yang ditargetkan jumlah operasi katarak. Namun, untuk peralatan, tidak ada yang mendonasikan alatnya sehingga kami harus mencari alatnya lagi,” kata Tjahjono. (C01)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Mei 2016, di halaman 14 dengan judul “Katarak Terjadi Lebih Cepat”.

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 23 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB