Home / Artikel / Masa Depan Pendidikan Tinggi dan Universitas

Masa Depan Pendidikan Tinggi dan Universitas

Banyak ahli membayangkan sebuah dunia di mana universitas dan perusahaan bekerja sama untuk menata kembali pendidikan dengan cara yang dapat mengubah kehidupan warga dunia dan berdampak positif bagi generasi masa depan.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Pegawai Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Bappenas bekerja di area co-working space di Kantor Bappenas, Jakarta, Kamis (16/1/2020). Co-working space yang terbuka ini berfungsi sebagai salah satu area kerja terintegrasi antarpegawai dan antarbagian.

Tempat bekerja terus berubah dengan kecepatan yang terus meningkat seiring dengan kemajuan teknologi yang mengubah industri dan pekerjaan.

Agar semua sektor dan bisnis tetap relevan dan kompetitif, dibutuhkan pembaruan, diversifikasi, dan pembangunan keterampilan (skill) yang benar-benar baru secara berkelanjutan. Keadaan ini menuntut investasi berkelanjutan dalam pendidikan, peningkatan keterampilan (upskilling), dan pelatihan ulang keterampilan (reskilling).

Namun, pendidikan konvensional membutuhkan investasi yang cukup besar baik dalam hal finansial maupun waktu, dan terkadang tanpa laba yang jelas. Bagi banyak calon mahasiswa, kemampuan kerja dan laba atas investasi adalah yang utama bagi mereka. Pada saat yang bersamaan, banyak indikator yang memprediksi bahwa gelar sarjana akan menjadi semakin tidak berguna pada masa yang akan datang.

Untuk menanggapi prediksi tentang masa depan gelar sarjana universitas konvensional itu, universitas harus menghapus departemen, program, dan fungsi yang ada serta menggabungkan satu dengan yang lainnya dan pada akhirnya akan menjadi lebih fokus pada kemampuan kerja, peningkatan keterampilan, dan pelatihan ulang keterampilan para tenaga kerja.

Universitas tidak akan memiliki pilihan lain selain fokus pada pelatihan berbasis praktik dan mengubah kurikulum mereka untuk memenuhi tuntutan dari para pemberi kerja dan pasar kerja.

Pendidikan modular
Di masa depan, para mahasiswa akan mempunyai jalur alternatif yang akan membawa mereka langsung ke pekerjaan yang lebih baik daripada jalur tunggal pendidikan yang lebih konvensional. Salah satu jalur ini adalah program apprenticeship yang disponsori perusahaan di mana para mahasiswa akan dilatih untuk memperoleh keterampilan yang secara khusus dicari oleh pemberi kerja.

Menyadari perubahan-perubahan ini, institusi-institusi pendidikan tinggi perlu mulai berinovasi untuk menemukan cara-cara baru yang bisa mendekonstruksi gelar dan membangun jalur pendidikan dan karier yang non-linear dan modular.

Bidang yang paling cepat berkembang dewasa ini sering kali terletak di persimpangan dua profesi yang tampaknya tidak saling berkaitan. Sebagai contoh, ilmu data (data science) adalah salah satu bidang yang paling cepat berkembang, tetapi seorang ilmuwan data (data scientist) sering kali juga membutuhkan pengetahuan yang kuat di bidang industri perusahaan tempat mereka bekerja.

Ini membutuhkan seperangkat keterampilan hibrid yang unik dan dapat menjadi tantangan untuk diajarkan dalam lingkungan pendidikan konvensional. Ketika teknologi terus mengubah berbagai industri, apa yang dicari oleh para calon karyawan juga akan terus berubah dengan lebih cepat.

Skenario terbaik adalah apabila ada disrupsi yang terjadi, dan pekerjaan tidak akan menjadi usang tetapi akan berubah secara alami yang mana akan dibutuhkan banyak peningkatan keterampilan. Skenario terburuknya adalah kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan otomatisasi membuat pekerjaan tertentu menjadi tidak dibutuhkan dan orang-orang akan perlu dilatih ulang agar dapat beradaptasi dan menjadi relevan untuk masuk ke industri baru.

ANTARA FOTO/ADWIT B PRAMONO–Beberapa mahasiswa meracik cairan pembersih tangan di Laboratorium Kimia Universitas Negeri Manado, Tondano, Sulawesi Utara, Kamis (19/3/2020).

Tidak perlu memedulikan apakah itu peningkatan keterampilan (upskilling) atau pelatihan ulang keterampilan (reskilling), diperkirakan bahwa yang disebut dengan mikrokredensial (micro-credentialing) atau pendidikan modular (modular education) akan menjadi tren besar dan juga dapat menyebabkan disrupsi di masa depan yang berarti mendapatkan gelar mini atau sertifikasi dalam topik tertentu, baik secara luas maupun spesifik.

Pekerja akan perlu terus-menerus meningkatkan dan melatih kembali keterampilan mereka melalui pendidikan berbasis ”modul-modul kecil” (small modules) sebagaimana perusahaan bertransformasi. Misalnya, pekerja akan dapat memperoleh sertifikat dalam keamanan siber (cyber-security) tanpa harus menyelesaikan sebuah gelar. Selanjutnya, penyedia pendidikan akan semakin terspesialisasi dalam penawaran mereka, dengan fokus pada satu industri atau bidang tertentu.

Masa depan pendidikan universitas diperkirakan akan dibangun di atas setumpukan kredensial modular yang kadang didapat dari lembaga yang berbeda dan menjadi jenis gelar baru dan program yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik di mana pun mereka berada, terlepas dari latar belakang mereka.

Dengan menggunakan metode pembelajaran modular, siswa pada dasarnya akan dapat mengatur pendidikan mereka sendiri sesuai dengan keahlian khusus yang mereka butuhkan untuk meningkatkan karier mereka. Perusahaan yang sedang merekrut juga akan memiliki wawasan yang lebih jelas tentang rangkaian keterampilan yang dimiliki calon pekerja karena kredensial modular pendidikan mereka akan menunjukkan jenis keterampilan yang diperoleh kandidat tersebut.

Menurut Business Insider, perusahaan Apple, Google, dan Netflix tidak mengharuskan karyawan untuk memiliki gelar yang membutuhkan waktu empat tahun dan ini bisa segera menjadi hal yang lumrah. Perusahaan kelas dunia seperti Google dan Apple merekrut karyawan yang memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan, dengan atau tanpa gelar. LinkedIn menemukan banyak perusahaan terkemuka saat ini tidak mengharuskan karyawan memiliki gelar sarjana.

Setelah analisis lebih lanjut dari data tersebut, LinkedIn mengidentifikasi beberapa posisi tertentu yang lebih mungkin diisi oleh lulusan non-perguruan tinggi, termasuk teknisi elektronik, perancang mekanik, dan perwakilan pemasaran (marketing representatives).

Dengan cara yang sama seperti kredensial modular memberikan jalur mandiri untuk memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan, hal itu juga menciptakan cara revolusioner untuk mendapatkan sebuah gelar. Ini bisa disebut dengan pembelajaran yang bisa ditumpuk (stackable learning). Ketika Anda mendapatkan sertifikat yang Anda peroleh melalui program modular dan ”menumpuk” (stack) hal-hal tersebut untuk membentuk kredensial atau gelar yang lebih besar.

Model baru ini akan mengurangi siklus waktu belajar, membagi paket pembelajaran konvensional seperti gelar diploma, sarjana, dan master menjadi kepingan yang lebih kecil, seperti Lego dan masing-masing dengan kredensial dan hasil keterampilannya sendiri. Institusi pendidikan tinggi dapat menggunakan Massive Open Online Courses (MOOCs) sebagai salah satu sarana yang dapat digunakan untuk memberikan gelar dan kredensial modular ini.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Mahasiswa semester 2 Jurusan Strategi Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara mengikuti mata kuliah Digital Videografi di Gading Serpong, Tangerang, Banten, Senin (27/1/2020). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan kebijakan Kampus Merdeka yang diharapkan akan memberikan keleluasaan bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan diri sesuai dengan tuntutan zaman.

Selain MOOCs, program blended Massive Open Online Courses (bMOOCs) juga telah muncul sebagai strategi pembelajaran gabungan yang menggabungkan penggunaan aktivitas yang didukung platform MOOC dan konten berbasis video dengan aktivitas tatap muka di kelas. Penelitian terkait pengajaran dan pembelajaran terbaru menunjukkan bahwa pembelajaran daring sering kali membuahkan hasil yang sama atau lebih baik daripada pembelajaran konvensional di ruang kelas karena fleksibilitasnya, tempo yang dipersonalisasi, dan umpan balik instan yang mana semua hal tersebut didasarkan pada pembelajaran sains kognitif terbaru.

Pendidikan modular akan membuat kita lebih mudah untuk memperoleh keterampilan dan nilai nyata yang lebih cepat daripada gelar konvensional. Para profesional yang sedang bekerja dapat mempelajari keterampilan baru dalam waktu yang lebih singkat, bahkan ketika mereka sedang bekerja dan mereka yang mencari gelar dapat melakukannya dengan cara yang memberikan hasil dalam keterampilan dan kredensial pada saat proses tersebut daripada hanya pada akhirnya.

Spesialis vs generalis
Prediksi lain yang menarik tentang masa depan pendidikan tinggi adalah tentang sejauh mana seorang spesialis akan dinilai daripada seorang generalis. Banyak perusahaan akan lebih memilih spesialis daripada generalis. Berpaku pada permintaan pasar kerja, menjadi spesialis tidak berarti bahwa keterampilan lunak (soft skill) akan menjadi kurang penting.

Banyak pakar di tempat kerja memperkirakan keterampilan lunaklah yang akan membantu pekerja membedakan diri mereka dari rekan-rekan mereka ketika mereka melamar pekerjaan. Keterampilan ini termasuk komunikasi, empati, perhatian, kreativitas, kolaborasi, dan kepemimpinan.

Saat kita menyongsong kepastian masa depan yang diisi dengan robot dan kecerdasan buatan (AI), kemampuan unik manusia semacam ini mungkin akan menjadi lebih penting dari sebelumnya. Pekerja masa depan perlu mempersiapkan diri untuk melakukan pekerjaan dengan komponen teknologi yang kuat bersama dengan memiliki keterampilan lunak yang diperlukan. Dengan kata lain, keterampilan lunak akan terus menjadi penting, tetapi sebagian besar pekerjaan akan membutuhkan tingkat kompetensi teknologi yang lebih tinggi dibandingkan hari ini.

Banyak ahli membayangkan sebuah dunia di mana universitas dan perusahaan bekerja sama untuk menata kembali pendidikan dengan cara yang dapat mengubah kehidupan warga dunia dan berdampak positif bagi generasi yang akan datang. Pekerja, pemberi kerja, dan penyedia pendidikan harus gesit, fleksibel, dan siap untuk beradaptasi ketika teknologi terus mendisrupsi industri dan mengubah pekerjaan apa yang akan ada atau tidak ada. Seseorang yang selalu belajar dan perusahaan yang mendorong budaya belajar yang akan menjadi juaranya.

Apa pun itu, satu hal yang pasti ketika memprediksi masa depan pendidikan tinggi dan universitas ialah bahwa kita akan melihat semakin banyak alternatif untuk universitas konvensional. Oleh karena itu, penyampaian pendidikan dari universitas konvensional perlu diubah secara radikal melalui peningkatan keterampilan, pelatihan ulang keterampilan, dan inovasi terus-menerus untuk dapat beradaptasi dengan tuntutan tempat kerja modern dan gaya hidup tenaga kerja modern.

(Said Irandoust, Mantan Rektor Universitas Boras di Swedia, Mantan Presiden Asian Institute of Technology, AIT, di Thailand)

Sumber: Kompas, 3 April 2020

Share
x

Check Also

Inovasi Farmasi-Alat Kesehatan

Ada kesempatan dalam kesulitan. Pandemi Covid-19 ini membuka peluang bagi kita untuk meraih kesempatan menjadi ...

%d blogger menyukai ini: