Home / Berita / Manusia Membantai Gajah sejak Zaman Purba

Manusia Membantai Gajah sejak Zaman Purba

Sebuah judul berita Kompas yang dimuat Sabtu, 14 November 1981, tampak menyolok di pojok kiri atas halaman 9 itu, “Gajah Asia akan Musnah 30 Tahun Lagi”. Ramalan yang disampaikan ahli konservasi Thailand, Boonsong Lekagul, itu juga meliputi populasi gajah Indonesia. Waktu itu, diperkirakan ada 300 gajah (Elephas maximus sumatranus) di Sumatera.

Tiga puluh tahun kemudian, tahun 2011, ramalan tersebut belum terbukti. Masih ada ribuan gajah sumatera di Indonesia. Namun, data jumlah gajah tersebut cenderung tidak akurat dan hanya berdasarkan perkiraan.

Berdasarkan data Forum Konservasi Gajah Indonesia tahun 2016, seperti dikutip Kompas, populasi gajah sumatera saat ini diperkirakan 1.300 ekor. Jumlah itu menyusut separuhnya dibandingkan 10 tahun lalu. Berdasarkan data Wildlife Conservation Society, 10 tahun lalu gajah sumatera berjumlah 2.400 ekor, sekarang tinggal separuhnya. Gajah di Sumatera Barat bahkan dianggap sudah punah.

Menyusutnya jumlah gajah itu adalah kematian akibat konflik dengan manusia. Sampai Februari 2016, ada sejumlah laporan pertemuan gajah liar dengan manusia di Sumatera yang sering berakhir dengan konflik. Konflik tersebut lebih sering berakhir dengan kematian gajah.

Dari data World Wildlife Fund (WWF), sejak 2012 hingga 2016, sebanyak 152 gajah ditemukan mati di 13 kantong di Sumatera. Ke-13 kantong dari 56 habitat gajah sumatera itu berada di Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Barat.

Terakhir, Kamis (25/2/2016), seekor gajah ditemukan mati di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Umumnya gajah dibantai pemburu liar untuk diambil gadingnya.

Peneliti Charles Santiapillai dan Peter Jackson, dalam penelitian tahun 1990 menemukan, di Sumatera ada 26 lokasi yang potensial merupakan tempat terjadinya konflik antara gajah dan petani. Di dalam laporannya itu, digambarkan penyebaran hampir 5.000 ekor gajah sumatera di 44 kawasan atau wilayah di mana sebagian telah dibuka menjadi lahan transmigrasi.

Perspektif arkeologi
Konflik gajah yang masih terjadi pada abad modern ini sebenarnya tidak baru. Sejumlah penemuan arkeologi menunjukkan bahwa manusia telah membantai gajah sejak zaman purba. Namun, berbeda dengan modus operandi sekarang yang untuk kepentingan ekonomi, manusia purba membantai gajah untuk hidup subsisten, yaitu dijadikan makanan.

Arkeolog Universitas Southampton, Inggris, misalnya, menemukan sisa-sisa gajah purba (Palaeoloxodon antiquus) yang disembelih manusia purba di daerah Ebbsfleet, Kent, Inggris, pada 2003 (Giant prehistoric elephant slaughtered by early humans, Sciencedaily.com, 19 September 2013).

Di sekitar sisa-sisa tulang dan karkas gajah purba yang telah punah itu, juga ditemukan batu api untuk mengiris daging. Peneliti mengonfirmasi tahun sisa gajah itu 420.000 tahun silam, yaitu pada masa Interglacial Hoxnian.

“Penemuan batu api dan karkas gajah itu menunjukkan daerah Ebbsfleet adalah tempat penyembelihan gajah oleh sekelompok manusia purba,” tutur Francis Wenban-Smith, peneliti Universitas Southampton.

Peneliti Universitas Tubingen, Jerman, juga menemukan sisa-sisa gajah purba (Elephas antiquus) di Megalopolis, Yunani. Peneliti menemukan sisa potongan tulang dan alat-alat dari batu. Alat-alat itu diperkirakan untuk memotong tulang gajah. Sisa gajah purba itu diperkirakan berasal dari 300.000-600.000 tahun silam, yaitu pada masa pleistocene pertengahan.

“Bukti itu menunjukkan dulu Megalopolis adalah tempat penyembelihan gajah,” ujar Katerina Harvati, peneliti Universitas Tubingen.

Gajah di dunia masuk dalam ordo Proboscidea, dengan 350 anggota spesies, termasuk Palaeoloxodon antiquus dan Elephas antiquus. Sebagian besar gajah-gajah itu telah punah dengan berbagai sebab, termasuk dibantai manusia.

Di dunia modern, kini tinggal dua keluarga gajah yang tersisa, yaitu gajah afrika (Elephas africana) dan gajah asia ( http://www.worldwildlife.org/species/elephant). Gajah asia terbagi atas empat spesies, yaitu gajah pigmi kalimantan (Elephas maximus borneensis), gajah sumatera, gajah sri lanka (Elephas maximus maximus), dan gajah india (Elephas maximus indicus). Jadi, dua kelompok gajah asia berada di wilayah Indonesia.

Konflik gajah dan manusia itu terjadi karena manusia “menjajah” jalur jelajah gajah untuk tempat tinggal transmigran atau perkebunan kelapa sawit. Shalihuddin Djalal Tandjung, dosen Ekologi dan Ilmu Lingkungan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada dalam artikelnya di Kompas, 27 September 1994, menyebut, gajah sumatera telah menetapkan pilihan jalur migrasi itu sejak satu juta tahun yang lalu. Jadi, gajah telah merasa memiliki hutan sumatera selama sejuta tahun.

Sepanjang jalur migrasinya, gajah makan daun-daunan dan buah-buahan. Sesuai dengan usianya, seekor gajah memerlukan makanan dedaunan hijau sekitar 5 persen berat badannya atau 50 kilogram hingga 300 kilogram dedaunan setiap hari.

2e043879abd5405a80320041a867d903Tempat makan itu mereka pertahankan secara agresif dari gangguan siapa pun, hewan lain, atau manusia. Wilayah yang dipertahankan itu bila suatu saat ternyata ditempati hewan lain atau manusia, tetap mereka kunjungi. Gajah tentu saja akan marah jika wilayahnya telah dimasuki makhluk lain. Pada saat itu, sifat agresifnya muncul.

Salah satu bukti terbaru bahwa gajah menjelajahi jalur migrasinya misalnya terjadi di Aceh. Seperti dilaporkan wartawan Kompas, sedikitnya 50 gajah liar, pada 6 November 2015 memasuki kebun warga di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur.

Gajah yang masuk ke Desa Seumanah Jaya berasal dari Kabupaten Bener Meriah. Gajah tersebut berjalan dari Bener Meriah lalu melewati Aceh Utara dan berhenti di Seumanah Jaya. Sejak belasan tahun lalu, Seumanah Jaya rutin disambangi gajah liar karena kawasan itu merupakan jalur utama gajah.

Masih di Desa Seumanah Jaya, dari 50-an gajah yang bertahan di kebun warga, seekor gajah sumatera berjenis kelamin betina mati karena tersengat kabel listrik yang dipasang di area perkebunan warga.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas, gajah tersebut ditemukan mati tak jauh dari area perusahaan sawit swasta dan perkebunan warga, Rabu, 11 November 2015, sekitar pukul 10.00. Saat ditemukan, posisi gajah itu tergeletak dengan kaki kiri dan kanan terangkat ke atas. Tak jauh dari bangkai gajah tersebut, terdapat kabel telanjang dan papan peringatan bertuliskan “awas kesetrum”.

Beberapa langkah telah dilakukan untuk menghambat punahnya gajah sumatera. Upaya hukum hingga mengadili pelaku pemburu gading sudah dilakukan. Wildlife Conservation Society, seperti dikutip Kompas (1/3), mencatat, ada 20 kasus perdagangan gading gajah selama periode 2010-2015.

Namun, vonis yang dijatuhkan hakim dinilai tidak memberikan efek jera. Di Aceh, seperti dicatat Wildlife Conservation Society, pelaku perdagangan gading gajah hanya divonis 10 bulan penjara pada 4 Juni 2015.

Menanggapi meningkatnya kematian gajah itu, mulai direncanakan untuk memetakan wilayah jelajah gajah sumatera. Upaya konservasi gajah sumatera sudah cukup baik. Setidaknya ada beberapa lokasi pusat latihan gajah (PLG) di Indonesia, seperti PLG Duri di Riau, PLG Lhok Asan di Aceh, dan PLG Way Kambas di Lampung.

Itulah tempat perlindungan gajah terakhir yang paling dekat dengan habitat mereka. Gajah-gajah yang berada di kebun binatang hanya akan menunggu kematian dalam kesendirian. Saatnya kita sadar…

SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas Siang | 1 Maret 2016

———–

Target dan Visi Tak Seiring Upaya

Dalam program pembangunan jangka menengah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memasang target peningkatan populasi 25 spesies satwa dilindungi yang kondisinya terancam punah sebesar 10 persen, termasuk gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus).

Dalam kenyataannya, konflik dengan manusia terus bertambah marak di sejumlah wilayah kantong gajah. Dari 56 kantong yang tersebar di 8 provinsi di Sumatera, gajah telah dinyatakan punah pada 13 kantong.

Bersamaan dengan itu, perburuan gading memperparah penyusutan populasi gajah dalam angka yang cukup mencengangkan.

Hingga tahun 2007, populasi gajah mencapai sekitar 2.400 atau susut drastis dari tahun 15 tahun sebelumnya. Dengan target peningkatan populasi, kondisi saat ini bukannya membaik. Populasi gajah kini menjadi hanya sekitar 1.300 ekor, membawanya ke dalam status terancam punah.

“Target peningkatan populasi 10 persen adalah target yang ambisius. Tanpa komitmen dan upaya yang seimbang untuk mencapainya, ini sama saja seperti menargetkan diri kita untuk gagal,” ujar Wulan Pusparini, Peneliti Gajah dari Wildlife Conservation Society (WCS), Selasa (1/3/2016).

Menurut aktivis Lingkungan di Ekosistem Bukit Tigapuluh, Jambi, Suwandi, gajah dan manusia di wilayah itu semula hidup berdampingan sebelum tahun 2006 ketika ruang jelajah gajah belum dibuka menjadi kebun akasia, kebun karet, dan sawit, serta pembalakan dan perambahan.

Pembukaan habitat besar-besaran di wilayah ini yang hampir 300.000 hektar telah mengakibatkan kelompok-kelompok gajah kehilangan rumah dan sumber makanan. Kawanan gajah kini lebih banyak berusaha mencari makanan di sekitar kebun dan permukiman warga sehingga memicu konflik satwa dan manusia. Ke mana pun mereka menjelajah kerap diusir warga dan petugas keamanan perusahaan.

Kesalahan produk kebijakan di masa lalu, katanya, perlu segera dibenahi. “Bagaimanapun pemerintah harus menyediakan ruang jelajah bagi satwa. Mengabaikan hidup mereka sama saja membiarkan konflik satwa dan manusia terus berlangsung,” katanya.

IRMA TAMBUNAN

Sumber: Kompas Siang | 2 Maret 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: