Home / Berita / Makrofita Akuatik Mengatasi Polusi Air

Makrofita Akuatik Mengatasi Polusi Air

AKHIR-AKHIR ini, polusi air akibat proses eutrofikasi (penyuburan per-airan) merupakan masalah menonjol dalam ekologi perairan tawar. Tanaman makrofita akuatik, semisal kiambang (Salvinia sp.), enceng gondok (Eichhornia crassipes) atau mata lele (Lemna sp.) dengan mudah dapat kita temui di mana-mana. Di danau, kolam, rawa, gorong-gorong sampai sungai yang alirannya mulai melambat.

Perairan tersebut mungkin berubah menjadi ‘sop hijau’ dengan adanya pertumbuhan algae yang melimpah. Kekeruhan semakin menjadi-jadi dengan semakin banyak terakumulasinya jaringan algae yang mati. Sebagai air minum, kini air tidak lagi nikmat. Sedangkan untuk tempat rekreasi, perairan tersebut tidak lagi memenuhi syarat. Betapa tidak, tanaman di atas tentu akan menghambat kegiatan rekreasi perairan, seperti kegiatan berenang, berperahu atau berlayar.

Makrofita akuatik yang menutupi permukaan perairan itu juga menghalangi keleluasaan sinar matahari menembus perairan, sehingga algae terhalang melakukan fotosintesis. Di sisi lain, dengan banyaknya jaringan tanaman atau algae yang mati mengakibatkan kerja bakteri pengurai semakin giat sehingga konsentrasi oksigen di dalam air semakin menipis. Padahal kontak dengan udara luar semakin terbatas. Keanekaragaman faunapun semakin menyusut sebab hanya organisme yang membutuhkan sedikit oksigen yang masih mampu bertahan.

RAI

Sebenarnya, proses eutrofikasi di alam dapat dicegah, karena adanya daya pulih (self purification) dari sistem perairan tersebut. Namun karena adanya berbagai aktivitas manusia, seperti penebangan hutan yang semakin tak terkendali serta pemakaian pupuk secara berlebihan, mau tidak mau membuat sistem perairan semakin subur. Makrofita akuatik pun tumbuh tidak terkendali.

KASUS DANAU BALATON
Kendati mempunyai sederet dosa, namun bila ditangani dengan benar, makrofita akuatik ternyata dapat pula mengun-tungkan. Kita dapat menengok kasus danau Balaton, Hungaria. Dahulu, sebelum memasuki danau Balaton, sungai Zala lebih dulu melebar menggenangi wilayah semacam delta seluas 50 kilometer persegi. Kecepatan air jauh berkurang, selain karena semakin banyaknya sedimentasi, juga karena adanya makrofita akuatik yang tumbuh di delta tersebut.

Melalui proses fotosintesis, makrofita akuatik tersebut mampu mengurangi sedimentasi dengan memanfaatkan kandungan nutrien seoptimal mungkin. Maka tidak heran, ia dapat berbiak melimpah dalam waktu relatif singkat. Selain itu, juga menciptakan lingkungan yang cocok bagi kehidupan miroorganisma pengurai. Akibatnya, air yang masuk danau Balaton jauh berkurang sedimentasinya. Danau pun terhindar dari proses eutrofikasi dan segala efek sampingnya. Kecerahan dan keanekaragaman fauna pun tetap tinggi.

Namun, beberapa tahun lalu, dibuat-lah tanggul-tanggul sepanjang sisi-sisi sungai Zala sehingga air tidak bisa menggenangi daerah sekitarnya. Daerah delta tersebut lalu digunakan untuk bercocok tanam. Kecepatan air sungai Zala kini semakin besar untuk mencapai danau. Sedimentasi sungai tidak ada yang menghalangi. Eutrofikasi selanjutnya tidak bisa dihin-dari. Menyadari hal ini, pemerintah setempat membangun zona penyangga seperti dahulu, dan letaknya tepat di bibir sungai.

MAKROFITA MENGATASI POLUTAN
Makrofita akuatik adalah golongan tanaman air yang ukurannya relatif besar, mulai dari kelompok paku-pakuan (Pteridophyta) sampai tanaman berbiji (Spermatophyta). Bentuk kehidupan makrofita akuatik dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama, kelompok makrofita emer-gen. Kelompok ini mempunyai perakaran di dasar perairan dan batang tegak ke atas menembus permukaan air. Contohnya: tanaman rumput-rumputan atau teki-tekian yang tumbuh di tempat tergenang, seperti Phragmites sp., Scirpus sp., atau Thypa sp. Kedua, kelompok makrofita akuatik terapung. Meliputi tanaman yang hidupnya terapung di atas permukaan air dengan perakaran tidak sampai ke dasar, seperti enceng gondok, dan tanaman yang berakar di dasar namun daun-daunnya tersusun terapung di permukaan air, seperti kelompok teratai (Nymphaea sp.). Sedangkan kelompok terakhir adalah kelompok makrofita akuatik submergen, yaitu tanaman air yang berakar di dasar namun batangnya tidak pemah keluar dari permukaan air, seperti Potamogeton crespus atau Littorella uniflora.

Mekanisme makrofita akuatik mengatasi polusi air, berbeda tergantung bentuk kehidupannya. Dikom-binasikan dengan metode pembersihan secara mekanis, makrofita terapung efektif digunakan pada tahap-tahap awal penanganan polusi air. Enceng gondok merupakan jenis yang populer dan sering dipakai baik di daerah tropis atau sub tropis. Seperti dijelaskan di bagian muka, enceng gondok efektif mengkonversikan nutrien yang terbawa sedimen menjadi biomassanya. Di daerah tropik, produksi biomassanya bisa mencapai 25 gram berat kering per hari per meter persegi. Terdiri atas 0,8 g N atau 0,15 g P per meter per segi per hari. Dengan demikian secara berkala, panen enceng gondok bisa dilakukan dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan; seperti pembuatan gas bio, pupuk, makanan temak atau bahkan ada yang memanfaatkan menjadi bahan baku kertas.

Sedangkan untuk makrofita akuatik emergen cocok digunakan pada tahap ke-2 atau ke-3. Selain mampu mengkonversikan nutrien dalam sedimen, makrofita jenis ini ternyata mempunyai keuntungan lain, yaitu sebagai pemasok oksigen pada daerah perakaran malcrofita. Hal ini tidak lain karena adanya ruang kosong antar sel sebagai alat transportasi oksigen dari bagian atas ke bagian akar atau rhizome. Selanjutnya oksigen yang keluar dari perakaran akan merangsang kerja bakteri aerob, selain meningkatkan kandungan oksigen di dalam air, yang sangat penting untuk kehidupan fauna akuatik. Tipe makrofita akuatik submergen hanya bisa dipakai pada tahap terakhir karena jenis ini sangat bergantung atas besarnya sinar matahari yang ia terima. Dengan demikian ia tidak menyukai keadaan yang keruh atau banyak sedimen. Keuntungan jenis ini adalah kemampuan menambah oksigen di dalam perairan melalui stomata daunnya akibat terus berlangsungnya proses respirasi. Jenis ini masih dalam tahap penelitian.

Dengan demikian penggunaan makrofita dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mengatasi masalah polusi air. Sedangkan untuk masing-masing jenis makrofita akuatik dapat dibuat dalam sistem penampung air buatan secara terpisah dan disusun secara paralel.

Denmark adalah salah satu negara yang telah cukup jauh mengembangkan penampungan limbah cair dengan makrofita akuatik. Menurut Hans Brix dan Hans-Hendrik Schierup dalam majalh Ambio, (dua orang peneliti yang bergerak di bidang makrofita), sistem ini mempunyai beberapa keuntungan antara lain biaya operasi dan energi yang dibutuhkan rendah. Sedangkan biomassa makrofita akuatik sendiri dapat dipanen dan dipergunakan untuk berbagai keperluan. Dan penelitian-penelitian untuk meningkatkan kapasitasnya, sampai saat ini terus dilakukan.

(T. Apriliyanto) 23

Sumber: Majalah AKU TAHU/ DESEMBER 1991

Share
%d blogger menyukai ini: