Home / Artikel / Estuari Zone Resultante Pencemaran Limbah

Estuari Zone Resultante Pencemaran Limbah

SEIRING dengan pertambahan waktu, roda pembangunan berjalan dengan pesat. Kesuksesan pembangunan mutlak didukung dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemampuan teknis yang baik dari pengelolanya. Pembangunan industri sebagai salah satu aspek pembangunan perlu disertai dengan pemaham-an mengenai kelestarian lingkungan hidup.

Lingkungan merupakan suatu faktor kehidupan yang tidak dapat kita abaikan begitu saja peranannya dalam pembangunan. Karena berbagai segi kepentingan terkait di dalamnya.

Seringkali kita menerima informasi dari berbagai inass media bahwa banyak pembangunan industri yang menyebabkan merosotnya kualitas lingkungan di sekitarnya.

Terlepas dari pro dan kontra terhadap dampak-dampak pembangunan dari segi sosial ekonomi, akibat yang ditimbulkan secara ekologis perlu kita kaji dan tangani secara mendalam pula. Pencemaran lingkungan hidup dapat bersumber dari limbah industri, pertanian dan pemukiman yang dapat berupa bahan kimia, limbah cair, limbah panas maupun limbah organik.

Pencemaran lingkungan dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem yang tentunya akan berdampak pula bagi kehidupan manusia.

Selama ini limbah-limbah industri umumnya dibuang ke sungai-sungai, karena masih ada anggapan bahwa sungai akan mengencerkan konsentrasi limbah yang dibuang, sehingga tingkat toksisitas (racun) limbah menjadi berkurang. Selain itu sungai masih dianggap sebagai tempat pembuangan yang praktis. Di Indonesia, pengaturan tentang penggunaan sungai belum berjalan dengan baik. Sungai berfungsi beraneka ragam seperti untuk minum, mandi, mencuci, pertanian, perikanan, maupun untuk tempat pembuangan limbah industri. Penggunaan yang beraneka ragam ini sebenarnya masih dapat ditolerir jika tidak mengganggu dan membahayakan kehidupan manusia maupun kelangsungan lingkungan hidup.

Penggunaan air yang menyebabkan merosotnya kualitas air sehingga di bawah baku mutu air yang ditetapkan oleh Menteri KLH, akan menimbulkan benturan-benturan kepentingan dan dampak sosial yang cukup rawan dalam masyarakat.

Estuari (muara sungai) adaIah badan air yang airnya berasal dari air tawar dan pemasukan dari air laut, menunjukkan kombina-si dinamis dari komunitas air ta-war dan air laut yang mempunyai sejumlah karakteristik unik (Southwick, 1976). Estuari merupakan media hidup bagi organisme-organisme akuatik yang mempunyai batas toleransi tertentu terhadap bahan pencemar. Adanya perubahan sifat fisiko-kimia perairan akan mempengaruhi kehidupan organisme di perairan tersebut (estuari).

Karena estuari merupakan tempat bercampurnya massa air tawar dan air laut, maka estuari merupakan tempat menumpuk-nya atau mengendapnya bahan-bahan atau partikel yang dibawa oleh air laut maupun oleh air sungai. Bahan yang dibawa dapat berupa bahan organik maupun bahan anorganik yang semua-nya dapat bersifat racun. Akibat dari penumpukan bahan-bahan tersebut, akan berpengaruh terhadap sifat fisika-kimia perairan, sehingga pola kehidupan organisme perairan akan berubah.

Mekanisme Percampuran Air di Estuari
Pada estuari terjadi percampuran air sungai dan air laut yang mempunyai kadar salinitas yang berbeda. Percampuran pada estuari akan menyebabkan air tawar berada pada lapisan atas dan air laut pada lapisan bawah. Akibat adanya arus sungai dan aksi ombak, maka terjadi turbulensi seperti pada gambar di bawah ini:

Dengan adanya aksi ombak dari laut, maka daerah estuari merupakan perangkap nutrien, sehingga bahan organik yang dibawa sungai dari daerah daratan akan menumpuk dan berputar-putar pada daerah estuari tersebut. Di samping nutrien juga zat beracun yang berasal dari buangan limbah industri dan aktivitas manusia lainnya di daerah daratan akan terbawa arus sungai ke estuari. Bahan-bahan pencemar ini akan membahayakan kehidupan organisme akuatik di daerah estuari.

Oleh karena itu dapat dikata-kan bahwa semua bahan-bahan yang berasal dari daratan yang terbawa oleh arus sungai akan mengendap atau menumpuk lebih dahulu di daerah estuari akibat adanya turbulensi air sebelum akhirnya akan sampai ke laut. Sehingga estuari merupakan zone penumpukan bahan-bahan, baik itu yang bersifat racun maupun tidak.

Indikator Pencemaran Air
Untuk mengetahui tingkat pencemaran air yang terjadi di estuari, dapat digunakan beberapa parameter sebagai indikator pencemaran. Parameter yang sering dipakai sebagai indikator pencemaran adalah parameter; (1) fisika, (2) kimia, (3) biologi. Ketiga parameter tersebut saling mendukung analisa tentang kualitas air di daerah yang terjadi pencemaran. Suatu studi yang paling sederhana yang dapat dilakukan untuk mengetahui ting-kat pencemaran yang terjadi adalah dengan menggunakan parameter biologi (benthos).

Menurut Odum (1971), ben-thos adalah jasad-jasad nabati atau hewani yang hidup di permukaan dasar atau di dalam dasar perairan. Benthos mempunyai pola gerakan yang relatif paling lamban dibandingkan organisme akuatik lain seperti, nekton dan plankton. Karena benthos hidupnya relatif sesil (tetap), maka hewan ini akan mengalami kontak secara langsung dengan lingkungannya yang dapat berubah-ubah.

Kualitas lingkungan yang rendah (tercemar) akan menyebabkan struktur komunitas benthos mengalami perubahan pula dalam keanekaragaman, keseragaman, maupun dominasinya. Perubahan-perubahan tersebut dapat kita ketahui melalui indeks-indeks struktur komunitas di atas.

Agar tercapai keseimbangan pembangunan dengan kelestarian lingkungan hidup, perlu peran serta semua pihak secara aktif, sehingga program pembangunan yang berwawasan lingkungan dapat dicapai. Program “Prokasih” (program kali bersih) yang telah dicanangkan oleh pemerintah perlu disambut hangat oleh semua pihak dengan tindakan-tindakan yang nyata dari kita. Dan semua langkah kebersamaan itu tentunya harus dimulai dari diri kita masing-masing…(Kurniawan Setiadi, mahasiswa IPB)

Sumber: SUARA MERDEKA 13 Mei 1991

Share
%d blogger menyukai ini: