Home / Berita / Lumbung Pangan di Lahan Suboptimal

Lumbung Pangan di Lahan Suboptimal

Luas lahan pertanian di Indonesia menurun karena beralih fungsi. Akibatnya produksi pangan berkurang sehingga mengancam ketahanan pangan. Pemanfaatan lahan suboptimal dengan sistem pertanian terpadu bisa jadi solusi.

Dalam program Nawacita, Pemerintah mencanangkan mengembalikan kedaulatan dan ketahanan pangan Indonesia, antara lain dengan swasembada padi, jagung dan kedelai (pajale) pada 2025. Indonesia ditargetkan jadi Lumbung Pangan Dunia tahun 2045.

Pencapaian target ini, terutama swasembada pajale, menuntut ada lahan baru seluas 4,7 juta hektar, dan 1,4 juta hektar di antaranya untuk persawahan. Itu tak mudah mengingat lahan subur menciut dan kebutuhan pangan di negeri berpopulasi keempat terpadat di dunia ini meningkat. Laju konversi lahan menurut data Kementerian Pertanian 0,11 juta hektar per tahun.

DOKUMEN PUSLITBANG TANAMAN PANGAN BALITBANGTAN KEMENTAN–Tanaman padi di antara tanaman kelapa di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Pencapaian target ini, terutama swasembada pajale, menuntut ada lahan baru seluas 4,7 juta hektar, dan 1,4 juta hektar di antaranya untuk persawahan. Itu tak mudah mengingat lahan subur menciut dan kebutuhan pangan di negeri ini meningkat.

Sementara lahan pertanian subur di Indonesia terbatas. Menurut data Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Kementan, dari wilayah daratan Indonesia seluas 189,2 juta hektar, hanya 16 persen yang subur. Daerah subur yang umumnya di Jawa terus menyusut karena alih fungsi lahan jadi permukiman.

Mayoritas daratan adalah lahan suboptimal atau produktivitas rendah, yaitu seluas 157,2 juta hektar. Itu didominasi lahan kering masam 108,8 juta ha di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Selebihnya, lahan kering beriklim kering, lahan rawa pasang surut, dan gambut.

Wilayah daratan Indonesia seluas 189,2 juta hektar, mayoritas adalah lahan suboptimal atau produktivitas rendah, yaitu seluas 157,2 juta hektar.

“Lahan suboptimal seluas 86 juta hektar bisa dipakai, tapi bersaing dengan sektor lain seperti industri dan permukiman,” kata Anny Mulyani dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (Balitbangtan) Kementan.

Sebagian lahan suboptimal tersisa bisa untuk pertanian, tetapi harus memakai teknologi pertanian agar produktivitas tinggi. Menurut Kepala Balitbangtan M Syakir, lahan kering yang bisa dimanfaatkan 3,5 juta hektar berupa padang alang-alang. Lahan di sela tanaman perkebunan seperti kelapa sawit dan karet 2 juta hektar juga dapat digunakan.

Teknik Largo Super
Budidaya di lahan kering butuh penerapan teknologi mengatasi kekeringan, kekurangan unsur hara esensial, dan hama penyakit. Balitbangtan mengintroduksi inovasinya, yakni pembibitan, pengolahan tanah, pemupukan, pemberantasan hama, dan penanganan pascapanen.

Inovasi teknologi budidaya bagi lahan kering diformulasikan jadi sistem pertanian terintegrasi yang diberi nama Largo Super. Istilah ini diambil dari kata larikan padi gogo memakai model tanam jajar legowo (Jarwo) Super dengan perbandingan jarak 2 : 1. Sistem Jarwo Super dikembangkan lebih dulu untuk lahan sawah irigasi.

Inovasi teknologi budidaya bagi lahan kering diformulasikan jadi sistem pertanian terintegrasi yang diberi nama Largo Super.

Uji coba penerapan Largo Super di Kacamatan Puring, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah menunjukkan produktivitas varietas padi unggul naik 100 persen dibanding varietas padi biasa. Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Andriko Noto Susanto, 4 varietas baru Inpago dikenalkan, yakni Inpago 8-11.

Pada panen perdana pertengahan Februari lalu, produktivitasnya melebihi 25-98 persen dibanding padi Ciherang dan Mekongga yang mencapai 4 ton gabah kering giling per hektar. Produktivitas tertinggi dicapai Inpago 10 yakni 7,93 ton per hektar. Teknik Largo Super ini diuji coba lahan sela di perkebunan kelapa.

KOMPAS/YUNI IKAWATI–Varietas padi Inpago 9 produktivitasnya hampir 8 ton per hektar, dua kali lipat dibanding varietas padi Ciherang.

Selain itu, ada beberapa komponen teknologi ramah lingkungan demi mencapai produktivitas tinggi. Teknologi itu berupa pengolahan tanah dengan pupuk organik dan pestisida hayati.

Untuk penyiapan tanah, biodekomposer Agrodeko dipakai memercepat dekomposisi atau pengomposan biomassa tanaman jadi 14 hari. Tanpa itu, perlu waktu lebih dari 30 hari. Ada unsur hara dan perbaikan struktur tanah untuk mengikat air dan mendorong aktivitas biologi tanah. Dalam Agrodeko, terkandung konsorsia strain fungi Trichoderma dan khamir non patogen Candida sp yang bisa mendekomposisi selulosa tanaman.

Pupuk hayati berbasis mikroba meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk hayati dihasilkan antara lain Agrofit. Ada konsorsia isolat bakteri di jaringan tanaman. Bakteri itu antara lain Azotobacter sp. JBNO5, Azospirillum sp. KR6, Bacillus sp. KT6D, dan Khamir Candida sp. YBN3. Penggunaan pupuk hayati ini menekan penggunaan pupuk NPK kimia 50 persen dan menambah produksi panen 35 persen.

Penggunaan pupuk hayati Agrofit dan biodekomposer Agrodeko dikombinasikan kompos dan pupuk kimia lain. Itu kunci perbaikan kesuburan tanah untuk mendorong produksi Pajale.

Abu sekam yang mengandung 50 persen silika pun bisa jadi pupuk. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapenen Pertanian mengembangkan biosilika.

“Dengan pupuk biosilika, tanaman padi tak mudah rebah, tahan hama dan penyakit tanaman, serta tahan iklim kering,” kata Kepala BB Pascapanen Pertanian, Prof Risfaheri.

Untuk pemanfaatan lahan suboptimal, Balitbangtan menghasilkan 12 varietas padi Inpago dan meluncurkan Inpara (Inbrida Padi Rawa) 9 varietas.

KOMPAS/YUNI IKAWATI–Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Muhammad Syakir di Desa Banjareja Kebumen, Jawa Tengah, memperlihatkan produksi inpago 10 yang mencapai 7,9 ton perhektar, atau meningkat 98 persen.

Lahan gambut
Sementara pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian dirintis Pusat Teknologi Bioindustri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak 2008 di Kalimantan Barat dan Riau. Untuk menyuburkan lahan gambut, ditambahkan limbah selulosa dari kebun sawit dan memasukkan konsorsia isolat mikroba tertentu. Isolat mikroba dari lahan gambut, limbah sawit, dan kotoran sapi.

Konsorsia mikroba bersimbiosa mutualisme hingga menekan keasaman atau pH lahan gambut naik dari 3,5 jadi 5,5. “Lahan gambut punya keasaman tinggi atau kebasaannya (pH) rendah, antara 2,8 dan 4,5,” kata Diana Nurani, Kepala Program Pupuk dan Pestisida Hayati BPPT.

Dengan cara ini, pembakaran serasah dan limbah kelapa sawit untuk meningkatkan pH tanah gambut bisa dicegah. Pupuk ini dalam proses mendapat paten.

Lahan payau untuk tanam padi dirintis dengan varietas Inpari oleh tim peneliti dari Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto. Uji coba penanaman padi Inpari Unsoed 79 Agritan, di Desa Nyamplung Sari, Pemalang. Produktivitasnya 4-6 ton per hektar di lahan bersalinitas tinggi.

Lahan payau untuk tanam padi dirintis dengan varietas Inpari oleh tim peneliti dari Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto.

Sementara sistem pembibitan dan penanaman padi di rawa lebak dikembangkan pakar pertanian dari Universitas Sriwijaya, Benyamin Lakitan. Budidaya di lahan rawa lebak diterapkan di Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, memakai rakit dari rumput berondong (nama lokal). Rakit dirancang dari limbah botol plastik bekas kemasan air agar bisa dipakai selama tiga tahun.–YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 5 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: