Home / Berita / Pupuk Mikroba Tingkatkan Produktivitas

Pupuk Mikroba Tingkatkan Produktivitas

Lahan suboptimal atau kurang produktif bisa disuburkan dengan memberi paduan pupuk hayati berbasis mikroba dan biodekomposer. Inovasi itu diharapkan meningkatkan produktivitas padi, jagung, dan kedelai (pajale) hingga mewujudkan swasembada komoditas pangan utama itu.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Muhammad Syakir, Jumat (11/3), di Jakarta, memaparkan, perluasan areal pertanian lahan suboptimal dan menyuburkannya dengan pupuk itu juga bisa memacu produksi komoditas rerumputan untuk pakan ternak sapi, tebu, bawang merah, dan cabai merah.

Luas lahan suboptimal (LSO) atau ada kendala pengelolaan di Indonesia 33,4 juta hektar (ha), terdiri dari 25,8 juta ha lahan kering dan 7,6 juta ha lahan rawa. “Dari 8,2 juta hektar lahan sawah, ada 3,15 juta termasuk lahan suboptimal,” ucapnya.

Lahan suboptimal itu meliputi 1,05 juta ha lahan sawah rawa dan 2,1 juta ha lahan sawah tadah hujan. Produktivitas padi sawah di lahan rawa 2-3 ton gabah kering giling (GKG) per hektar dan di lahan sawah tadah hujan 3-4 ton GKG per ha.

Dorong produktivitas
Sementara produktivitas padi di lahan sawah intensif di Pulau Jawa mencapai 12 ton GKG per ha. “Pupuk hayati dan biodekomposer berpeluang meningkatkan produktivitas komoditas pertanian di lahan optimal maupun suboptimal,” kata Syakir.

Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi menjelaskan, pupuk hayati hasil inovasi itu ialah pupuk berbasis mikroba untuk meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Pupuk hayati disebut Agrofit itu berbentuk serbuk, mengandung konsorsia (gabungan) sejumlah bakteri endofitik, yakni bakteri Azotobacter sp. JBN05, Azospirillum sp. KR6, Bacillus sp. KT6D, dan Khamir Candida sp. YBN3.

Adapun biodekomposer ialah mikroba yang mempercepat dekomposisi bahan organik dari sisa tanaman jadi kompos. Itu menyediakan unsur hara, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan memegang air, dan aktivitas biologi tanah.

Biodekomposer yang dinamai AgroDekol itu adalah konsoria dari strain-strain fungi Trichoderma dan khamir non patogen Candida sp terpilih yang tumbuh cepat dan menghasilkan enzim untuk dekomposisi jaringan tanaman keras berupa lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Hasil uji coba, Agrofit pada tanaman jagung dan bawang merah menekan penggunaan pupuk NPK kimia hingga 50 persen dan meningkatkan produksi jagung dan bawang merah 35 persen.

Adapun AgroDekol mempercepat dekomposisi biomassa tanaman dengan menurunkan karbon dan nitrogen 60 persen dalam 7-14 hari. Tanpa AgroDekol, butuh lebih dari 30 hari. Aplikasi AgroDekol pada limbah pabrik gula menghambat pertumbuhan mikroba patogen dan mengurangi bau busuk. (YUN)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Maret 2016, di halaman 13 dengan judul “Pupuk Mikroba Tingkatkan Produktivitas”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: