Home / Berita / Teknik Budidaya Terpadu di Lahan Kering Diperkenalkan

Teknik Budidaya Terpadu di Lahan Kering Diperkenalkan

Untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mencapai target Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada 2045, telah dikembangkan teknik budidaya terpadu di lahan kering, terutama tanaman padi dengan varitas super. Penerapannya dapat meningkatkan produktivitas hampir 100 persen dibandingkan pertanian konvensional.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Balitbangtan) Muhammad Syakir menyampaikan hal itu dalam peluncuran teknik budidaya Largo Super di Desa Banjarejo Kabupaten Puring Kebumen, Senin (12/2).

Kebumen dipilih sebagai lokasi uji coba pertanian di lahan kering karena memiliki hampar lahan kering sepanjang pantai selatan, baik terbuka maupun ditanami tanaman tahunan, terutama kelapa.

Largo (larikan padi gogo) Super merupakan terobosan teknologi budidaya terpadu padi lahan kering ini dengan menerapkan cara tanam jajar legowo (jarwo) untuk populasi per hektar minimal 200.000 rumpun padi. Penanaman dilakukan dengan memakai alat mesin tanam benih langsung (atabela) melalui pola larik jarwo 2:1.

Varietas unggul padi gogo padi yang ditanam adalah Inpago 8, 9, 10, dan 11, IPB 9G, HIPA 8, serta Situ Petenggang.

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Panen padi di Desa Ngeluk, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Kamis (11/1).

Budidaya dengan produktivitas tinggi ini dicapai dengan memadukan pupuk dan pestisida nabati dan biodekomposer. Areal yang ditanami seluas lebih dari 100 hektar.

Terkait hasil teknik budidaya yang baru ini, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balitbangtan Andriko Noto Susanto memaparkan, produktivitas empat varietas baru Inpago melebihi 25 hingga 98 persen dibandingkan padi yang biasa ditanam petani setempat, yaitu Ciherang dan Mekongga.

Produktivitas padi di Kecamatan Puring 4 ton gabah kering giling per hektar. Adapun Inpago 8 hasilnya 5 ton per hektar meningkat 25 persen dan yang tertinggi Inpago 10 hasilnya 7,93 ton per hektar, lebih hampir 4 ton atau 98, 25 persen.

Lebih lanjut, Syakir mengatakan, setelah keberhasilan penerapan Largo Super di Kebumen, teknologi pertanian ini akan dikembangkan di lahan kering di 33 provinsi di Indonesia. Ke depan lahan kering akan dikembangkan menjadi sumber penghasil padi.

Saat ini ada lahan kering seluas 24 juta hektar yang dimanfaatkan, tetapi belum optimal. Sementara potensi lahan kering yang belum termanfaatkan ada 45 juta hektar se-Indonesia. Lahan kering yang dimanfaatkan meliputi lahan kering masam, lahan rawa pasang surut, lahan perkebunan kelapa, kelapa sawit dan karet. Lahan tanaman hutan jati dan sengon serta lahan kering daratan tinggi.

Untuk itu, padi inovasi teknologi padi spesifik untuk intensifikasi padi lahan kering dikembangkan. Penanaman padi pada lahan kering dilakukan Balitbangtan dengan menyiapkan padi gogo produktivitas tinggi. Selain itu, tanaman perkebunan yang sekitar 35 juta hektar juga akan dimanfaatkan untuk penanaman pati, meliputi antara lain lahan kelapa sawit seluas 12 juta hektar dan kelapa 3,5 juta hektar.

Di perkebunan kelapa, masih ada intensitas matahari hingga 75 persen. ”Dengan demikian, lahan perkebunan juga dapat menjadi lahan pertanian, tidak dibedakan,” kata Syakir.–YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 12 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: