Home / Berita / Lomba Karya Ilmiah Remaja, Hari ini Jadi Batu Pijakan Kami

Lomba Karya Ilmiah Remaja, Hari ini Jadi Batu Pijakan Kami

“Saya nyaris tidak percaya. Senang sekali rasanya berkesempatan ikut dalam ajang ini. LIPI benar-benar mendukung kami untuk berkembang. Semoga generasi muda semakin rajin berinovasi untuk memajukan bangsa ini”

Itulah ucapan syukur William Wijaya (17), siswa SMA Santa Laurensia, Tangerang, setelah berhasil meraih tiga penghargaan dalam Indonesia Science Expo 2018 (ISE).

ISE 2018 yang dihelat 1-4 November, di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Banten, menampilkan berbagai karya ilmiah yang kreatif dan inovatif. Dalam perhelatan ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan penghargaan dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-50, National Young Inventor Awards (NYIA) ke-11, International Youth Science and Innovation Fair (IYSIF), dan Indonesian Young Green Award (IYGA).

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Penelitian yang dilakukan William (17) pada ujung sayang pesawat. Pada layar adalah tampilan menggunakan aplikasi Solidworks yang berfungsi sebagai komputasi. Sayap tersebut (kanan) dihubungkan melalui kabel dan digerakan untuk mengukur tekanan. Pameran ISE 2018, Minggu (4/11/2018) di ICE, Tangerang, Banten.

Pengamatan William pada manuver burung elang di udara, berhasil membawanya mengembangkan penelitian tentang pengaruh sudut ujung sayap pesawat terbang (angle of wingtip) terhadap efisiensi sayap, mengurangi turbulensi, dan memperpanjang umur sayap pesawat.

Selama dua tahun, ia mengembangkan penelitian ini. Uji coba secara berkala dilakukan di Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika dan Aeroakustika Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, hingga mengetahui efektivitas kerja dari penyesuaian sudut ujung pesawat. Selain itu, juga dilakukan berbasis komputer dengan memanfaatkan program Solidworks.

“Ini jadi batu pijakan untuk terus mengembangkan penelitian,” ujarnya dengan sumringah, usai penganugerahaan sekaligus penutupan ISE 2018, Minggu (4/11/2018) sore.

Dua tahun usahanya berbuah manis. Ia berhasil meraih juara pertama LKIR Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik, medali emas IYSF untuk ilmu pengetahuan teknik, dan anugerah khusus penelitian berbasis komputer.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–William Wijaya (17) memegang bagian sayap pesawat, sedang menjelaskan tentang penelitiannya kepada pengunjung asal India dalam ISE 2018 di ICE, Tangerang, Banten, Minggu (4/11/2018).

Lain halnya dengan dua siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang. Musyaffa Teguh Fahlevi (17) dan Ketut Shri Satya Yogananda (17), mencoba cara mengurangi kandungan mikroplastik pada produksi garam laut dengan memanfaatkan sabut kelapa sebagai penyaring. Asumsi yang dibangun yaitu laut tercermar mikroplastik, maka garam pun ikut tercemar. Model pengujiannya dengan mengaplikasikan serabut kelapa dengan ketebalan 5 cm, 10 cm, dan 20 cm.

“Air laut yang masuk ke tambak akan disaring melalui pipa yang dipasangi saringan dari serabut kelapa. Serabut kelapa tidak mengganggu proses pembuatan garam,” kata Musyaffa yang bercita-cita menjadi dokter umum.

Berdasarkan pengujian, serabut kelapa dengan ketebalan 5 cm paling efektif bekerja. Selain berhasil mereduksi mikroplastik dengan ukuran 1 mm maupun kurang dari 1 mm, kualitas garam yang dihasilkan juga tergolong bagus. Selama proses pengujian, turut diperhatikan pula debit air dari penyaringan, konsentrasi senyawa kimia garam laut, dan Ph level air laut agar tidak asam dan basah karena dapat merusak garam laut yang bersifat netral.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Penyaring dari pipa paralon yang dipasangi serabut kelapa dengan ketebalan 5 cm (kiri) dan mikroplastik berukuran 1 mm dan di bawah 1 mm (botol) dalam ISE 2018, Minggu (4/11/2018) di ICE, Tangerang, Banten.

Kepedulian
Karya ilmiah juga dihasilkan dari lingkungan sekitar. Dalam perhelatan ISE 2018, banyak srikandi yang menunjukkan hal tersebut.

Salah satunya adalah Angeline Freshbi Chesa Halim (18) dan Anglila Siddha Pramarthastri (17). Siswi SMAN 8 Yogyakarta ini, melakukan proyek Terapi Autisme Online (Temen) melalui saluran youtube. Inisiatif mereka, berhasil membawa pulang juara pertama LKIR Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan.

Memanfaatkan saluran youtube, mereka membuat video terapi autisme ABA (Applied Behavioural Analysis) untuk mengajarkan kemampuan kognitif dasar pada anak autis. Terapi ini berupa pengenalan huruf dan angka. Selain itu, ada terapi wicara yaitu melafalkan kata-kata sederhana.

“Banyak penyandang autis di sekitar kami. Orangtua mengeluhkan mahalnya biaya terapi. Kami masih muda dan mau mencoba membantu,” ucap Angeline, terbata-bata karena terkejut meraih juara pertama.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Angeline Freshbi Chesa Halim (18) dan Anglila Siddha Pramarthastri (17), siswi SMAN 8 Yogyakarta, menjelaskan Terapi Autis Online (Teman) kepada pengunjung ISE 2018, Minggu (4/11/2018) di ICE, Tangerang, Banten.

Selain itu, dari Bidang Hayati ada Widya Arum M (17) dan Nur Faridah (16) dari SMAN 1 Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Merek membuat Sago’s Decaffeinated Robusta. Produk kopi rendah kafein, memanfaatkan Rhizopus sp (jamur).

Teknik fermentasi ini, dilakukan pada biji kopi robusta asal Ambarawa. Biji kopi dicuci, ditiriskan, lalu dikukus, kemudian ditiriskan lagi. Biji kopi dibiarkan hingga suhunya menjadi 30 derajat celcius atau di bawahnya. Selanjutnya, campurkan dengan jamur, disimpan atau diperam dalam plastik yang dilubangi selama 48 jam.

“Kadar Kafein dari 7,54 persen menjadi 0,03 persen. Sejauh ini, efek samping tidak ada. Aman untuk penderita asam lambung dan hipertensi,” ucap Widya.

Namun, varian kopi tersebut belum beredar dipasaran. Masih ada serangkaian uji coba yang akan dilakukan untuk lebih menjamin keamanan produk.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Sago’s Decaffeinated Robusta. Produk kopi rendah kafein, memanfaatkan Rhizopus sp (jamur) dalam ISE 2018 di ICE, Tangerang, Banten, Minggu (4/11/2018).

Begitu banyak karya ilmiah yang ditampilkan. Mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi turut berpartisispasi. LIPI berharap, ajang ini mampu meningkatkan riset-riset kalangan muda serta mengglobalkan Indonesia.

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko menjelaskan, anugerah karya ilmiah sebagai bentuk apresiasi. Namun, dibalik kompetisi tersebut ada daya saing, melatih mentalitas, dan mendorong kreativitas. Tujuannya untuk memajukan generasi muda serta penelitian Indonesia.

“Ruang bagi anak muda untuk berkembang. Kami membantu memoles bakat dan kreativitas. Semoga ISE 2018 menguatkan pijakan mereka untuk melompat lebih tinggi,” ujarnya. (FRANSISKUS WISNU WARDHANA DHANY)–NASRULLAH NARA

Sumber: Kompas, 6 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...