Merayakan Sains di Indonesia Science Expo 2019

- Editor

Sabtu, 19 Oktober 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia akan menyelenggarakan Indonesia Science Expo 2019 pada 23-26 Oktober 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Banten. Melalui acara tahunan yang digelar sejak 2015 ini, masyarakat diajak merayakan sains melalui pameran sains, konferensi, serta lomba karya ilmiah remaja.

KOMPAS/BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA–Dialog acara Indonesia Science Expo (ISE) 2019 di Kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Jumat (18/10/2019). Hadir sebagai pembicara, Kepala LIPI Laksana Tri Handoko (tengah), Penanggung jawab ISE 2019 Agus Haryono (kedua dari kiri), dan Sekretaris Utama LIPI Nur Tri Aries (kedua dari kanan).

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan, tujuan utama Indonesia Science Expo (ISE) 2019 adalah untuk mendekatkan dan memasyarakatkan sains kepada masyarakat. Rangkaian dan konsep acara dibuat sepopuler mungkin sehingga bisa dinikmati semua kalangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Jadi, ini bukan acara yang rumit dan eksklusif untuk peneliti saja, ya. Mulai dari profesor hingga pelajar, dari tua hingga muda, semua bisa datang menikmati dan merayakan sains,” ujar Handoko dalam jumpa pers bertajuk, ”Highlight Program Indonesia Science Expo 2019” di Kantor LIPI, Jakarta, Jumat (18/10/2019).

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menemukan tiga spesies baru kodok wayang dari hutan dataran tinggi Sumatera, yaitu Sigalegalephrynus gayoluensis (Gayo, Aceh), Sigalegalephrynus burnitelongensis (Telong, Aceh), dan Sigalegalephrynus harveyi (Dempo, Sumsel) yang diperlihatkan spesimennya di laboratorium Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Jawa Barat, Selasa (8/10/2019). Selain kodok, peneliti LIPI juga menemukan spesies katak tanduk Kalimantan (Megophrys Kalimantanensis) dan burung jenis baru Myzomela prawiradilagae dari Alor, Nusa Tenggara Timur.

Handoko menjelaskan, pokok acara ISE terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pameran, konferensi, dan lomba karya ilmiah. Namun, selain tiga kegiatan itu, masih ada berbagai kegiatan yang dikemas populer, seperti menonton film sains, ngopi bareng peneliti, dan coaching clinic bertema sains.

Acara itu akan diisi pameran lebih dari 300 gerai yang bertemakan sains. Gerai itu diisi oleh lembaga penelitian dan pengembangan (Litbang) dari lembaga riset dalam dan luar negeri, pelaku industri, universitas, dan sekolah-sekolah.

Selain pameran bertemakan sains, dalam acara itu akan ada 10 konferensi dengan pembicara mulai dari ilmuwan, pejabat negara, hingga tokoh masyarakat, baik dari dalam maupun luar negeri. Adapun tema konferensi tersebar ke berbagai disiplin ilmu mulai dari teknologi informasi, kimia, biologi, hingga metalurgi.

Untuk menarik partisipasi langsung masyarakat, ISE 2019 juga menggelar lomba karya ilmiah remaja dalam acara bertajuk Youth Science & Innovation Fair (YSIF).

KOMPAS/BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA–Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko

Handoko mengatakan, ISE 2019 mengambil tema ”Today and Beyond”. Tema ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa sains adalah jawaban permasalahan hari ini dan masa depan.

”Sains itu bukan soal hal-hal rumit ilmuwan dan laboratorium, tetapi sains sesungguhnya menawarkan solusi hari ini dan untuk masa depan. Itu pesan yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat,” ujar Handoko.

Djoned AS dari PT Terabuana Agro, salah satu pengisi pameran, menyambut baik ISE yang rutin digelar tiap tahun. Melalui ISE, perusahaan yang memasok alat produksi pertanian ini dapat mengomunikasikan produk hasil inovasi yang dilakukan perusahaannya.

”Kami ingin menunjukkan bahwa inovasi sains itu juga bisa menghasilkan nilai ekonomis asalkan bisa menjawab permasalahan di lapangan,” ujar Djoned.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS-+Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan penghargaan kepada karya anak bangsa dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-50, National Young Inventor Awards (NYIA) ke-11, International Youth Science and Innovation Fair (IYSIF), dan Indonesian Young Green Award (IYGA) di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Banten, Minggu (4/11/2018) sore, dalam Indonesia Science Expo 2018.

Perbedaan
Penanggung jawab ISE 2019 Agus Haryono mengatakan, terdapat beberapa perbedaan ISE tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu pameran unggulan yang ingin ditampilkan di gerai LIPI adalah spesies flora fauna langka yang ditemukan peneliti LIPI, yaitu spesies langka katak bertanduk dan tanaman bajakah.

”Temuan langka dan baru seperti ini perlu ditampilkan ke publik. Ini jadi nilai perbedaan ISE tahun ini dibandingkan sebelumnya,” ujar Agus yang juga Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI.

Handoko mengatakan, setelah empat tahun penyelenggaraan, ISE yang masuk tahun kelima ini diyakininya bakal menyedot lebih banyak pengunjung. Tahun ini, LIPI menargetkan jumlah pengunjung sebanyak 80.000 orang, melebihi jumlah pengunjung tahun lalu yang sebanyak 45.000 orang.

”Silakan semuanya datang merayakan sains. Acara ini gratis, tidak perlu membeli tiket masuk,” ujar Agus.

BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA

Editor HENDRIYO WIDI

Sumber: Kompas, 18 Oktober 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 17 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru