Home / Berita / Kompetisi Internasional Asah Mutu Mahasiswa

Kompetisi Internasional Asah Mutu Mahasiswa

Sejumlah mahasiswa Indonesia berprestasi gemilang di kancah internasional. Pencapaian itu berpengaruh kepada pengembangan materi perkuliahan dan penguatan jejaring global. Hendaknya, target memenangi lomba bisa memacu pemerintah dan perguruan tinggi membenahi mutu.

Tercatat, sepanjang tahun 2017 mahasiswa Indonesia menang di berbagai kompetisi bertaraf global seperti Shell Eco Marathon, Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation, and Technology Exposition, dan lomba robotika negara-negara ASEAN. Mereka mengantongi medali emas, perak, dan perunggu.

Universitas Gadjah Mada misalnya, sepanjang tahun 2017 memperoleh setidaknya 1.000 medali di berbagai bidang perlombaan. Salah satu fakultas yang banyak memenangi lomba ialah Fakultas Teknik (FT) yang menyumbang 180 medali untuk perguruan tinggi tersebut.

Dekan FT UGM Nizam yang dihubungi dari Jakarta, Rabu (4/4/2018) mengatakan bahwa mengikuti lomba mengasah keterampilan teknis dan karakter dosen serta mahasiswa. Ilmu yang dipelajari benar-benar diuji di lapangan.

“Selain itu, dosen dan mahasiswa belajar berkolaborasi antarbidang, bahkan antarfakultas. Mereka juga dituntut bisa mengembangkan kemampuan perencanaan teknis, keuangan, promosi, membuat purwarupa, hingga ke produk akhir,” papar Nizam. Hal ini berpengaruh kepada pengembangan materi perkuliahan.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Salah satu anggota tim Cassiopeia dari Institut Teknologi Bandung memberi pemaparan inovasi di bidang pengalaman bersalon kepada dewan juri lomba L’Oreal Brandstorm 2018 di Jakarta, Rabu (4/4/2018). Pemenang lomba akan dikirim ke Paris, Perancis untuk berlomba dengan tim dari 42 negara.

Tim FT UGM berhasil memenangi kompetisi mobil ramah lingkungan Shell Eco Marathon di Singapura. Saat ini, tim sedang mencari sponsor untuk memberangkatkan mereka ke London, Inggris untuk mengikuti lomba tingkat dunia. “Proses ini mengajar mahasiswa dan dosen membangun jejaring dengan pihak-pihak luar,” kata Nizam.

Salah satu contoh mahasiswa Indonesia yang siap berlomba di tingkat internasional adalah tim dari Universitas Prasetya Mulya. Mereka memenangi ajang “L’Oreal Brandstorm 2018” dengan tantangan inovasi di dalam pengalaman bersalon.

Pada bulan Mei tim ini akan berangkat ke Perancis untuk berlomba dengan mahasiswa dari 42 negara. “Tentunya ini kesempatan berharga bagi kami untuk menguji kemampuan. Pasti akan ada berbagai pelajaran berharga yang akan kami alami di Paris karena bisa bertukar ilmu dengan delegasi lain,” tutur salah satu anggota tim, Erica Santoso.

Ia mengutarakan bahwa dengan mengikuti lomba, selama tiga bulan timnya mengecap magang di perusahaan multinasional.

Belum merata
Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Amich Alhumami mengingatkan bahwa prestasi tersebut belum menggambarkan kondisi pendidikan tinggi Indonesia secara umum. “Mahasiswa yang berprestasi hanya segelintir dibandingkan jumlah total. Itu pun biasanya dari perguruan tinggi yang besar,” ujarnya.

Permasalahan klasik masih menjadi momok mutu pendidikan tinggi. Kurangnya sarana dan prasarana, ketersediaan dosen, dan belum membudidayanya pola pikir ilmiah beserta kemampuan riset masih menghambat peningkatan kompetensi sivitas akademika.

“Menumbuhkan jiwa akademik yang berpikir kritis, kreatif, dan inovatif merupakan solusi mendasar yang harus segera dilakukan,” kata Amich.

Ia mengakui bahwa kemampuan menulis, menganalisa, dan mencari solusi masih harus ditingkatkan. Komitmen perguruan tinggi memberi pendidikan optimal sangat diperlukan. Salah satunya dengan memastikan dosen yang mengajar memiliki pendidikan yang cukup seperti S-2 dan S-3 sehingga menguasai cara melakukan riset dan inovasi yang benar.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM Safira Latifa yang turut ikut L’Oreal Brandstorm 2018 mengatakan, walaupun timnya kalah, mereka tetap mendapat ilmu baru. “Saya dan teman-teman sering mengikuti lomba terkait iklan dan pemasaran. Setiap lomba tantangannya selalu berbeda meskipun sama-sama tentang pemasaran,” ucapnya.

Ia mengaku ilmu yang dipelajari selama kuliah sangat bermanfaat dalama persiapan lomba. Selain itu, ilmu baru yang mereka pelajari di kala lomba juga dibagi dengan teman-teman.

Dalam lomba L’Oreal Brandstorm 2018 misalnya, Safira dan tim menemukan bahwa inovasi tidak melulu berupa teknologi canggih, tetapi juga bisa dari pengalaman fisik akan pelayanan yang baik. (DNE)–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 5 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: