Home / Berita / Kiprah Para Insinyur Perempuan

Kiprah Para Insinyur Perempuan

Jumlah perempuan yang berkarier di bidang science, technology, engineering , and mathematics (STEM) masih minim. Di Indonesia, sebagian kecil perempuan sudah membuktikan bahwa bidang tersebut tak mengenal gender. Mereka terlibat di berbagai proyek penting.

MENGENAKAN wearpack atau baju bengkel berkelir putih, Ulfa Dwinda Umar tampak sibuk di Balai Operasi Lantai 13, Reaktor Serbaguna (RSG) G.A. Siwabessy, Pusat Penelitian limu Pengetahuan dan Teknologi, Tangerang Selatan. Sambil menggenggam papan alas yang menjepit kertas berisi tabel, perempuan berkerudung biru tersebut mengecek lampu indikator pada panel listrik reaktor nuldir itu.

Setelah mengecek dengan saksama, perempuan 27 tahun itu mencentang daftar isian pada tabel. Yang dilakukan Ulfa merupakan pekerjaannya saban hari di ruangan reaktor nuklir sebagai petugas Subbidang Sistem Elektrik Bidang Pemeliharaan Reaktor. “Job desk-nya pemeliharaan, perawatan rutin, dan perbaikan di ranah elektrik. Jadi, semua tentang kelistrikan reaktor,” ujar Ulfa saat ditemui Tempo, Rabu, 7 Desember lalu.

Selain melakukan pemeliharaan, tugas lain Ulfa tak kalah berat. Ia harus menjaga pasokan listrik agar operasional reaktor berjalan tanpa hambatan. RSG G.A. Siwabessy merupakan reaktor nuklir terbesar di Asia Tenggara yang beroperasi sejak 1.987. Dilansir dari situs web Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), yang kini bernama BRIN, reaktor ini dijalankan untuk kegiatan penelitian, produksi isotop untuk bidang industri hingga kesehatan, tes atau uji material, serta percobaan ilmu pengetahuan.

Reaktor berusia puluhan tahun itu tak pernah mengalami insiden. Operasional sehari-harinya menggunakan pasokan listrik berlapis, dari PLN hingga cadangan genset dan uninterruptiblepower supply (UPS). Berbagai sumber tenaga ini diperlukan supaya reaktor tetap aman clijalankan. “Jadi, tidak pernah PLN tiba-tiba matiin. Kalau akan ada pemadaman listrik, harus bersurat,” ujar Ulfa, yang juga memiliki tugas berkomunikasi dengan perusahaan listrik pelat merah itu.

Ulfa merupakan satu-satunya pegawai perempuan di unit elektrik reaktor Siwabessy. Minimnya pekerja perempuan membuat sosok Ulfa lebih mudah dikenali. Toh, ia tetap mampu melakukan pekerjaan fisik, seperti memanjat untuk memperbaiki alat kerek di ruangan reaktor. Selama bekerja, ia mengaku tidak pernah menemui kendala berarti.

Ulfa menjadi salah satu contoh kecil dari minimnya jumlah perempuan yang berkutat di bidang ilmu pengetahuan, teknologi; rekayasa, dan matematika atau science, technology, engineering, and mathematics (STEM). Sejumlah riset mengkonfirmasi kondisi tersebut.

Riset LinkedIn Jobs on the Rise 2022, misalnya, menunjukkan, sepanjang 2021 hanya 33,3 perempuan yang bekerja sebagai ilmuwan data dan hanya 27,8 persen bekerja sebagai machine learning engineers. Padahal dua pekerjaan tersebut memiliki pertumbuhan tercepat selama lima tahun terakhir dan diproyeksikan terus tumbuh di masa depan.

Secara global, hanya tiga dari 10 perempuan peneliti yang bekerja di industri STEM. Meslci di tingkat sarjana persentase perempuan di STEM mencapai 50 persen, angka tersebut berangsur-angsur menurun menjadi 30 persen pada jenjang master dan 18 persen di jenjang doktor.

Sejak duduk di bangku SMP; Ulfa memang tertarik dengan dunia elektronika. Mata pelajaran favoritnya pun hitung-hitungan. Begitu kuliah di President University; Cikarang, ia tak ragu memilih jurusan teknik elektro. Bahkan, peminatannya adalah arus kuat, di mana mahasiswa teknik elektro umumnya memilih arus lemah.

Semasa kuliah hingga bekerja, kata Ulfa, bidang pekerjaan kelistrikan juga masih didominasi laki-laki. Namun bukan berarti perempuan tidak bisa. Salah satu kelebihan perempuan; kata Ulfa, adalah sifat telaten dan teliti. Ia pun kerap mengingatkan dan mengomeli rekan kerjanya apabila ada pengecekan yang belum lengkap. “Rasanya teman-teman saya bakal terlewat sesuatu kalau saya enggak ada,” katanya.

Pembuktian Kaum Perempuan
Lingkungan kerja Puspitasari Ramadania tak kalah menantang. Sehari-hari, perempuan berusia 32 itu berjibaku dengan radiasi nuklir. Petugas proteksi radiasi BRLN ini memiliki tugas yang cukup penting, yaitu memantau area kerja dan keselamatan, termasuk pengelolaan limbah radioaktif reaktor Siwabessy.

Ita—sapaan akrabnya—bertugas mengukur analisis sampel serta memastikan para pekerja aman selama bekerja dan saat meninggalkan area reaktor nuklir. Alat yang biasanya dia gunakan untuk menganalisis sampel radioaktif adalah spektrometer gama. Untuk dapat menjalankan tugasnya, Ita mengantongi lisensi dari Badan Pengavitas Tenaga Nuldir serta sertifikat ahli keselamatan dan kesehatan kerja (K3) umum dari Kementerian Ketenagakerjaan.

Alumnus Universitas Padjadjaran ini mengungkapkan, jumlah pekerja perempuan di unit kerjanya hanya ada empat dari 21 orang. Bahkan satu orang akan pensiun tahun depan.

Menurut dia, industri nuldir selama ini masih dianggap sebagai bidang profesi maskulin. Dengan demikian, tidak banyak perempuan yang minat bekerja di bidang tersebut. Padahal, kata Ita, tugas yang harus dikerjakannya dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Walau lebih sering mendapatkan shift satu yang dimulai pukul 06.00, ada kalanya Ita juga harus bekerja dari pagi sampai bertemu pagi lagi. “Itu hanya kondisi tertentu, seperti saat perpanjangan izin pengoperasian reaktor nuldir,” ujarnya.

Ita bercerita, kemampuannya pernah diragukan karena dia perempuan. Dengan begitu, kegiatannya pun jadi terbatas. “Banyak (orang masih memiliki) pola pikir seperti itu. Padahal sebenarnya kita bisa,”

Tantangan serupa juga pernah dialami Shabrina Fadhilah ketika pertama kali bekerja di bidang minyak dan gas. Ia menghadapi prasangka bahwa perempuan lulusan teknik mesin tidak akan maksimal dalam bekerja. “Seolah-olah kemampuannya tidak diperhitungkan,” kata perempuan berusia 30 tahun itu. Sejak kuliah hingga bekerja, lingkungan Shabrina memang didominasi kaum laki-laki. Bahlan, di angkatan kampusnya, hanya ada delapan perempuan di jurusan mesin dan perkapalan.

Pengalaman tak menyenangkan juga pernah ia alami dalam pekerjaan. Saat berkunjung ke sebuah lokasi pengolahan migas, Shabrina menjadi korban pelecehan berupa godaan tak senonoh dari pekerja laki-laki di sana. Namun, ia memilih untuk tak acuh demi keselamatan dirinya.

Prasangka yang dialaminya ketika bekerja lantas terbantahkan. Selama berkarier, Shabrina terlibat di sejumlah proyek migas. Pada 2014-2017, misalnya, ia menjadi inspektor untuk proyek kilang gas di Senoro, Sulawesi Tengah. Kemudian pengembangan lapangan gas Matindok hingga menginspeksi resertifikasi PGN Saka dan Chevron Pacific Indonesia di Duri. Riau.

Saat itu; ia banyak turun ke sejumlah fasilitas kilang dan pabrik-pabrik untuk memantau alat-alat yang baru dibuat. Kini, setelah lulus S-2 teknik mesin, Shabrina berkarier sebagai reliability engineer. Profesi ini lebih banyak berkutat dengan data rekayasa.

Secara fungsional, reliability engineer bertugas membantu mendesain dan menentukan perawatan sebuah fasilitas migas. “Selain harus berpikir bagaimana agar proses produksi berjalan lancar, kami harus memikirkan keberlanjutannya,” katanya. Selain itu, ia menilai risiko atas aset-aset dalam fasilitas migas, dampaknya terhadap lingkungan dan pekerja, menentukan waktu perawatan, hingga mekanisme perbaikan kerusakan.

Asal mula Shabrina terjun di bidang ini tak lepas dari peran sang ayah. Sejak kecil, perempuan asal Jakarta ini kerap melihat ayahnya berkutat dengan mesin-mesin, entah itu barang elektronik atau kendaraan. “Aku kayak terpukau. Kok bisa ada orang kayak dia. Aku berpikir I want to be like him,” ujarnya. Bahkan, ia pernah menuliskan cita-citanya ingin menjadi insinyur teknik mesin di buku tahunan sekolah dasar.

Begitu lulus SMA, Shabrina pun kuliah di jurusan teknik mesin di Universitas Indonesia, sealmamater dengan ayahnya. Namun Shabrina tak mengikuti jejak sang ayah yang berkecimpung di dunia manufaktur. Minyak dan gas adalah bidang yang dipilihnya untuk berkarier.

Terhambat Stereotipe Gender
Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Lenny N. Rosalin, mengungkapkan ada beberapa penyebab rendahnya partisipasi perempuan dalam bidang STEM. Merujuk pada penelitian UNESCO, 61 persen perempuan mempertimbangkan stereotipe gender saat mencari kerja. Kemudian so persen perempuan kurang tertarik bekerja di bidang STEM karena kuatnya dominasi kaum laki-laki.

Khusus di industri nuklir, Lenny menilai kurangnya informasi menyebabkan orang tua banyak yang melarang anaknya. Padahal, kata dia, nuklir memiliki manfaat pada bidang kedokteran, pertanian, makanan, pengelolaan air, bahkan mitigasi perubahan nuklir. “Kami yakin perempuan dapat terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa menuju Indonesia yang lebih sejahtera dan setara,” kata Lenny dikutip dari situs web Kementerian PPPA.

Koordinator Operasi Reaktor di DPFK RSG G.A. Siwabessy, Dwi Haryanto, menilai perempuan punya kemampuan yang sama dengan pria dalam bekerja. Di Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran, para pekerja perempuan juga bisa mendapatkan surat izin bekerja atau lisensi untuk profesi operator hingga perawatan reaktor nuklir.

Untuk mendukung pekerja perempuan, Dwi mengatakan, lembaganya juga menerapkan aturan khusus. Misalnya, ketika pegawainya ada yang hamil, untuk sementara tidak ditempatkan di daerah rawan radiasi. “Setelah melahirkan dan sudah bekerja kembali seperti biasa, tidak ada hambatan,” katanya. Keistimewaan lainnya, para tenaga perempuan tidak diberikan shift malam.

Di samping itu, walau perempuan memiliki kekurangan dalam pekerjaan yang membutuhkan fisik, Dwi mengatakan mereka memiliki kelebihan yang jarang dimiliki lelaki. “Ketelitian mereka. Jadi, kita jangan lihat kekurangannya, tapi kelebihannya yang harus didorong,” ujar Dwi.

FRISKI RIANA
—————————-

Mengenalkan STEM kepada Remaja Perempuan

Masih rendahnya keterlibatan kaum perempuan di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) mendorong Yayasan Cinta Anak Bangsa berinisiatif mengadakan program Girls4Tech. Diikuti belasan ribu remaja perempuan.

PADA sebuah rapat terbatas dua tahun lalu, tepatnya di awal masa pandemi Covid-19, Presiden Joko Widodo menyatakan situasi pandemi diharapkan bisa menjadi momentum untuk mempercepat transformasi digital di Tanah Air. Untuk mencapai hal itu, kata Jokowi, salah satu faktor penting yang dibutuhlan adalah ketersediaan sumber daya manusia. Diperkirakan, hingga 2035, kebutuhan talenta digital mencapai 9 juta orang.

Sebelum Presiden Jokowi menyatakan hal itu, sejumlah inisiatif untuk menyiapkan talenta digital sebetulnya sudah bermunculan. Salah satunya adalah program Girls4Tech yang diinisiasi Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Organisasi nirlaba yang berfokus menciptakan kemandirian anak muda melalui pendidikan dan pemberdayaan ekonomi serta promosi gaya hidup sehat ini memulai program tersebut sejak 2019 bersama Mastercard Indonesia.

Lev,at Girls4Tech, YCAB berniat menumbuhkan minat anak-anak usia sekolah di bidang ilmu pengetahuan, telmologi, rekayasa, dan matematika (science, technology, engineering, and mathematics/STEM). Program berbentuk pendidikan dan pelatihan gratis berbasis kurikulum STEM itu diarahkan untuk menjangkau siswi di tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dari kalangan prasejahtera.

“Kita perlu menabur bibit muda ini agar mereka siap. Setidaknya, mereka tahu ada profesi lain dan baru ke depan, yang fokusnya di bidang teknologi,” kata Manajer Program YCAB, Amanda Kalangit, kepada Tempo, Kamis lalu.

Walau dicanangkan pada 2cd.9, program Girls4Tech baru terlaksana pada Agustus 2020 secara daring. Yayasan Cinta Anak Bangsa memberikan pelatihan dengan metode gamifikasi selama lima hari. Bentuknya berupa game edukatif, video animasi, dan buku elektronik. “Ada instruksi-instruksi menarik. Karena target pesertanya siswi SD sampai SMA„ kami rancang agar mereka lebih tertarik,” ujar Amanda.

Dalam pelatihan itu, para remaja perempuan pun mendapat materi pengenalan teknologi, perkembangan teknologi dari masa ke masa, hingga lima profesi baru di bidang teknologi, yaitu software engineer, cryptologist, fraud detective, cybersecurity specialist, dan design engineer. Arnanda mengungkapkan, alasan program menyasar para siswi adalah karena partisipasi perempuan yang berkarier di bidang STEM masih rendah, atau hanya 30 persen.

Pada tahun pertama, program ini berfokus di empat provinsi, yaitu Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Namun, karena peminatnya juga bermunculan dari daerah lain, YCAB pun memperluas jangkauan program Girls4Tech. Selain itu, kini sudah hampir 4.000 pelajar laki-laki menerima pelatihan ini atas keinginan mereka. Dua tahun berjalan, program Girls4Tech telah menjangkau soo sekolah dan 48 ribu siswi di 19 provinsi.

Amanda menuturkan program ini juga mendapat dukungan dari pemerintah. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan. Riset, dan Teknologi memberikan rekomendasi sekolah-sekolah )ang membutuhkan pembelajaran STEM. Terlepas dari hal itu, YCAB juga membulm registrasi secara umum untuk sekolah-sekolah. “Kami punya registrasi lewat media sosial dan sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah. Jadi, ada beberapa saluran.”

Sepanjang pelatihan ini berjalan, Amanda menilai antusiasme para peserta, terutama remaja perempuan, cukup tinggi. YCAB pun meluncurkan program tambahan dengan tingkatan lebih maju. Misalnya, memilih 100 anak setiap tahun untuk mengikuti program intensif (bootcamp) STEM yang diisi para praktisi dan instruktur. Program pelatihan yang banyak diikuti pelajar SMP ini membahas banyak hal, dari bahasa pemrograman Python, belajar membuat game, hingga materi soal teknologi robotik.

Oparator reaktor bersama petugas Proteksi Radiasi dan Ahli K3 Umum Instalasi Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy, Puspitasari Ramadania, saat melakukan proses target iradiasi pada kolam reaktor di Reaktor Serbaguna GA.Siwabessy, Tangerang,Banteb, Rabu, 7 Desember 2022. TEMPO/ Hilman Fathurrahman W.

Menurut Amanda, program pendidikan ini hanya akan berlangsung selama tiga tahun. Artinya, Girls4Tech akan berakhir pada 2023, dengan menargetkan 6o ribu siswi di 20 provinsi. Untuk mengejar target tersebut, Amanda dan timnya mulai melaksanakan pelatihan secara hibrida dalam tiga bulan terakhir.

Para instruktur akan datang dan bisa melihat langsung kendala yang dialami para pelajar serta mengevaluasi hal-hal yang sudah mereka pelajari. “Harapannya, program ini bisa memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk bereksplorasi. Kemudian, mereka juga paham bahwa kaum perempuan pun bisa masuk ke bidang STEM,” kata alumnus Universitas Sam Ratulangi tersebut.

FRISKI RIANA
————————-

Menghadapi Stigma di Bidang Nuklir

Dikomentari cara berpakaian sampai ditakut-takuti soal pekerjaan merupakan dua hal yang dihadapi para insinyur nuklir perempuan. Di luar itu, mereka juga menghadapi prasangka dari orang av+am. Bagaimana kisah para perempuan di industri yang terkesan maskulin ini?

DARI teras kolam reaktor nuklir, seorang perempuan berpakaian montir terlihat berhati-hati memindahkan beberapa tabung panjang yang terendam di dalam cairan H2O. Isi tabung itu adalah beberapa bongkah batu topas yang mengalami proses iradiasi selama 3-10 jam di Pusat Reaktor Serbaguna G.A Siwabessy, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Serpong, Tangerang Selatan.

“Kalau sudah 10 jam, kami tarik lagi ke atas,” kata Camelia, perempuan yang sedang bekerja di area reaktor itu, kepada Tempo, Rabu lalu. Kegiatan merendam dan mengangkat target iradiasi di balai operasi tersebut merupakan tugas sehari-hari Camelia sebagai operator nuklir. Namun bukan itu pekerjaan utamanya. Jika reaktor nuklir berkapasitas 30 megawatt tersebut sedang diaktifkan, Camelia-lah yang bertugas mengoperasikannya dari ruang kendali.

Sebagai operator, tugasnya tidak main-main. Ia harus mempertahankan reaktor pada batas dan kondisi operasi. Misalnya, suhu kolam tidak boleh lebih dari 38 derajat Celsius. Perempuan berusia 25 tahun itu bakal sibuk mendata suhu kolam dan derajat keasaman (pH) air selama reaktor beroperasi. “Itu wajib direkam karena akan ada inspeksi dari Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir),” kata dia.

Camelia merupakan perempuan pertama yang direkrut Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan—kini bemama Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN) sebagai operator nuklir di reaktor Siwabessy. Ia bergabung menjadi pegawai negeri di sana sejak 2019. Total pegawai yang bekerja sebagai operator nuklir ada 30 orang, dua di antaranya perempuan, termasuk Camelia.

Oparator reaktor nuklir, Camelia saat melakukan target iradiasi pada kolam reaktor di Reaktor Serbaguna GA. Siwabessy,Tangarang, Banten Rabu, 7 Desember 2022. TEMPO/ Hilman Fathurrahman W.

Dikomentari sampai Ditakut-takuti
Tiga tahun lalu, Camelia membayangkan pekerjaan operator reaktor nuklir tak berbeda dengan pegamai kantoran. Pada hari pertamanya bekerja, ia berdandan dan mengenakan sepatu wedges. Seniornya, yang kebanyakan pria lebih tua, menegur Camelia. “Saya dibilangin, kalau pakai wedges, jangan (kerja) di sini, ke bank saja,” ujar puan asal Palembang itu.

Selain cara berpakaiannya yang disoroti, Camelia sempat ditakut-takuti oleh rekan kerjanya karena berani bekerja sebagai operator. Ia sempat merasa dilematik untuk melanjutkan pekerjaan itu. “Tapi akhirnya lanjut. Sekarang sudah berteman baik dengan mereka, ya sudah biasa saja.”

Tantangan lain yang harus dihadapi Camelia ketika bekerja di bidang nuklir adalah stigma. Saat memberi tahu seorang dosennya setelah lolos rekrutmen di Batan, ia malah disarankan agar cepat menikah. Alasannya, ada pandangan yang menganggap radiasi nuklir bisa membuat perempuan menjadi infertil.

Saat itu, Camelia hanya tersenyum mendengarkan ucapan sang dosen. Ia membuktikan bahwa pandangan tersebut salah. Faktanya, Camelia kini memiliki seorang anak berusia 14 bulan. Bahkan seniornya ada yang memiliki tiga anak. “Ternyata bekerja di reaktor nuklir tidak semenyeramkan itu. Jadi, stigma itu sudah terbantahlan,” kata dia.

Intan Nafisah punya kisah berbeda. Petugas pengembang teknologi nuklir ini kerap menerima reaksi ataupun pendapat yang tak masuk akal. Saat tahu dirinya bekerja di reaktor nuklir, banyak orang yang beranggapan Intan bekerja sebagai pembuat bom.

Menurut Intan, kepercayaan publik terhadap teknologi nuldir terbilang masih rendah. Ia pun terbiasa menjelaskan fungsi-fungsi nuklir kepada orang-orang di sekitarnya. Termasuk tentang pekerjaannya sebagai pengamas dosis radiasi di lingkungan kerjanya.

Perempuan berusia 26 tahun itu mengungkapkan bahwa kesempatan bekerja di bidang nuklir sesungguhnya sangat luas. Bahkan Badan Tenaga Atom Intemasional mendorong para perempuan untuk mendapat pendidikan lebih tinggi lewat beasiswa. “Sebab, secara data, kurang dari seperempat wanita yang bekerja di nuklir, khususnya di sektor keamanannya,” ujar Intan.

Mendorong Perempuan Mendalami Nuklir
Industri nuklir selama ini memiliki kesan maskulin lantaran lebih banyak pria yang menggelutinya. Salah satu negara dengan proporsi pekerja perempuan yang cukup banyak di bidang nuklir adalah Rusia.

Co-founder Asosiasi Perempuan di Industri Nuklir, Alexandra Ryabykh, mengatakan bahwa lebih dari 3o persen karyawan di industri nuklir Rusia, seperti perusahaan Rosatom, adalah perempuan. Bahkan 22 persen perempuan menempati posisi manajerial di perusahaan energi nuklir milik Rusia tersebut. “Dibanding negara lain, 22 persen ini cukup tinggi,” kata dia kepada Tempo di Atom Expo, Sochi, akhir November lalu.

Selama ini, kata Alexandra, ada stereotipe mengenai profesi pria dan wanita. Karena itu, ia bersama asosiasinya mulai menggagas sejumlah program untuk memerangi stereotipe tentang perempuan. Sasarannya adalah generasi muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Salah satu proyeknya bernama Women in STEM (science, technology, engineering, and mathematic). Asosiasi itu sering mengadakan diskusi dan menghadirkan tokoh-tokoh perempuan yang menjadi pemimpin di bidang STEM. Hal itu dilakukan agar para perempuan muda tertarik menggeluti bidang ini. “Kami menghubungkan pakar dan generasi muda untuk bertukar pengetahuan serta pengalaman,” katanya.

Program selanjutnya, Alexandra berencana membuat klub mentoring dengan menarik lebih banyak pakar dan sism. internasional untuk bergabung. Selain itu, ia sedang berupaya membentuk des%an internasional untuk mendukung perempuan di bidang nuklir.

Alexandra mengajak Indonesia untuk bergabung dalam dewan tersebut. “Ini merupakan prakarsa yang penting bagi kami, dan kami harap akan membantu mengubah persepsi perempuan di semua negara,” kata anggota dewan Forum Wanita Eurasia tersebut.—Friski Riana.

———————
Mereka yang Jadi Teladan

JUMLAH perempuan yang berkarier di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (science, technology, engineering and mathematicsatau STEM) masih terbilang rendah. Salah satu alasannya adalah persepsi lingkungan kerja yang didominasi laki-laki. Selain itu, industri yang dekat dengan ilmu pasti ini dianggap banyak mengandalkan fisik.

Kesenjangan tersebut turut tecermin dalam riset Linkedln Jobs on the Rise 2022. Penelitian ini menunjukkan, sepanjang 2021, hanya 33,3 perempuan yang bekerja sebagai data scientist specialists dan hanya 27,8 persen sebagai machine learning engineers. Padahal dua pekerjaan tersebut memiliki pertumbuhan tercepat selama lima tahun terakhir dan diproyeksikan terus bertumbuh pada masa depan.

Untuk meningkatkan partisipasi perempuan, Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) memandang bahwa perlu ada sosok perempuan pemimpin di perusahaan berbasis STEM yang tampil sebagai tokoh panutan. Berikut ini sejumlah nama yang bisa menjadi kandidat ikon perempuan di bidang STEM.

– Tri Mumpuni

Ilmuwan kelahiran Semarang ini merupakan pemberdaya listrik di lebih dari 60 lokasi terpencil di Indonesia. Berbagai penghargaan telah diraih Tri atas perannya dalam menyediakan energi lokal, terutama melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro serta persediaan air bersih bagi masyarakat.

Penghargaan yang diraihnya antara lain Climate Hero 2005 dari World Wildlife for Nature, Ashden Awards 2012, Magsaysay Awards 2012, dan masuk dalam The World’s 500 Most Infiuential Muslim 2021 untuk kriteria sains dan teknologi.

– Silvia Halim

Satu-satunya perempuan dalam jajaran dewan direksi PT MRT Indonesia ini telah memimpin pembangunan fasilitas kereta MRT Jakarta. Pada 2019, Silvia menerima penghargaan dari GE Indonesia, perusahaan manufaktur asal Amerika Serikat.

Selama menjabat, Silvia bertanggung jawab pada tiga bidang. Pertama, wilayah konstruksi yang meliputi stasiun, depot, trackwork, sistem kereta, dan rolling stock MRT Jakarta. Kedua, operasi dan pemeliharaan yang meliputi stasiun, depot, jalur kereta, sistem kereta, dan kereta MRT Jakarta. Ketiga, pengembangan yang berorientasi pada bisnis di stasiun.

– Moorissa Tjokro

Nama Moorissa mulai dikenal luas sejak dua tahun lalu. Saat itu, ia menempati posisi autopilot software engineer di perusahaan mobil listrik yang berbasis di San Francisco, California, Amerika Serikat. Ia juga dipercaya ikut menggarap fitur swakemudi atau full self-driving untuk mobil listrik Tesla.

Dari situs blog pribadinya, Moorissa kini bekerja sebagai senior software systems engineer di Cruise, perusahaan startup robotaxi yang tengah mengembangkan sistem otonomi L4.

– Premana Wardayanti Permadi

Dosen Institut Tekologi Bandung ini merupakan perempuan pertama peraih gelar doktoral di bidang astrofisika. Premana, yang juga menjabat Kepala Observatorium Bosscha ITB, bahkan memiliki asteroid dengan nama dirinya, yaitu asteroid 12937 Permadi.

Walau divonis menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), Premana tetap aktif meneliti, mengajar, hingga menggerakkan pendidikan astronomi untuk anak-anak.

– Arvilla Delitriana

Perempuan kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara, ini juga layak menjadi sosok panutan. Namanya pernah mencuat pada dua tahun lalu karena sukses merancang jembatan lengkung bentang panjang untuk kereta ringan atau LRT di Kuningan, Jakarta Selatan.

Arvilla, 51 tahun, memiliki beberapa rancangan karya selama lebih dari 20 tahun berkarier. Di antaranya Jembatan Pedamaran 1 dan 2 di Riau, Jembatan Kereta Cirebon-Kriya, Jembatan Perawang di Riau, Jembatan Bagan Siapi-api, Jembatan Kali Kuto Semarang, Jembatan Soekarno di Manado, Jembatan Layang Pasupati Bandung, dan Jembatan Interchange Solo-Kertosono.

NASKAH: FRISKI RIANA
Koran Tempo, Minggu, 11 Desernber 2022

Share
%d blogger menyukai ini: