Home / Berita / Kesiapan Perguruan Tinggi Hadapi Revolusi Industri 4.0 Dibahas di USU

Kesiapan Perguruan Tinggi Hadapi Revolusi Industri 4.0 Dibahas di USU

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menggelar rapat kerja nasional di Universitas Sumatera Utara, Medan, mulai Selasa (16/1). Salah satu agenda penting yang dibahas dalam rakernas ini adalah kesiapan pendidikan tinggi dan lembaga riset di Indonesia untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 atau revolusi industri generasi keempat.

Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot dengan kecerdasan buatan, hingga mobil tanpa pengemudi. Kesiapan perguruan tinggi dan lembaga riset menghadapi revolusi industri generasi keempat akan menjadi tema khusus dalam rakernas Kemristekdikti ini.

Kesiapan tersebut antara lain dalam hal kelembagaan, bidang studi, kurikulum, sumber daya, pengembangan universitas siber, riset dan pengembangan, serta inovasi.

Sekretaris Jenderal Kemristekdikti Ainun Na’im mengatakan, sejumlah pembicara kunci akan hadir dalam rakernas, yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Penasihat Senior untuk Presiden Islamic Development Bank Hayat Sindi, dan Guru Besar Cyber Hankuk University of Foreign Studies Jangyoun Cho. Sri Mulyani hadir secara khusus untuk menyampaikan kondisi perekonomian nasional.

AFP/ROB LEVER–Dalam foto yang diambil pada 8 Januari 2017 ini, tampak sebuah robot yang dibuat insinyur Taiwan tengah bermain catur dalam Consumer Electronic Show di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Superkomputer, robot dengan kercerdasan buatan, hingga kendaraan tanpa pengemudi menjadi penanda era revolusi industri generasi keempat.

Selain para pembicara tersebut, pendiri dan CEO Ruangguru Adamas Belva Syah Devara serta Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta Suyanto juga akan berbicara dalam rakernas.

Ainun mengatakan, sejak tahun lalu, rakernas secara bergilir digelar di perguruan tinggi negeri di daerah. Untuk tahun ini, rakernas digelar di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ainun Na’im (kanan) didampingi Rektor USU Runtung Sitepu memberikan keterangan pers mengenai penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional Kemristekdikti 2018 di Medan, yang dimulai Selasa (16/1) hingga Rabu.

Menurut Ainun, dengan tema yang diusung rakernas, diharapkan perguruan tinggi dan lembaga riset di Indonesia bisa menjadikan ajang ini sebagai konsolidasi.

”Dengan pertemuan semua PTN, Kopertis, dan lembaga penelitian di bawah Kemristekdikti, jadi kesempatan untuk saling mengenal. Tujuannya, agar mudah kolaborasi,” ujar Ainun.

Rektor USU Runtung Sitepu menyambut baik penunjukan USU, yang merupakan perguruan tinggi tertua di Sumatera, sebagai tuan rumah Rakernas Kemristekdikti 2018.

”Kami berharap, lewat pertemuan nasional ini, semua institusi bisa saling berbagi dan belajar yang berguna bagi pengembangan riset, teknologi, dan pendidikan tinggi di Indonesia,” ucap Runtung.–ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 16 Januari 2018
———————————–

Perguruan Tinggi Siber Didorong Berkembang

Pengembangan perguruan tinggi siber di Indonesia menjadi keharusan sebagai penyesuaian era revolusi industri 4.0. Untuk itu, pengembangan kuliah siber perlu dukungan agar tumbuh lebih banyak lagi dan meningkat dari sekadar mata kuliah menjadi program studi.

”Sekitar empat tahun lalu perguruan tinggi Indonesia sudah mulai mengembangkan mata kuliah secara daring. Sekarang, hal itu didorong supaya tidak hanya sekadar mata kuliah. Program studi yang penuh secara daring atau kombinasi juga harus mulai dikembangkan,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti) Ainun Na’im di Medan, Sumatera Utara, Selasa (16/1).

Pengembangan perguruan tinggi atau universitas siber menjadi salah satu fokus pembahasan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemristek dan Dikti yang dimulai pada hari Selasa (16/1) di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

Kemristek dan Dikti sejak tahun lalu rakernas secara bergilir di perguruan tinggi negeri (PTN) di sejumlah daerah. Tahun ini, USU dipilih menjadi tuan rumah.

Ainun mengatakan, revolusi industri 4.0 bukan ancaman, melainkan peluang yang harus disambut dengan inovasi asing. Perguruan tinggi di luar negeri ada yang secara konsorsium menawarkan program studi daring (online). Biayanya lebih murah sekitar 50 persen dari yang konvensional.

Ajang konsolidasi
Ainun mengatakan, rakernas sebagai ajang konsolidasi bagi seluruh pemangku kepentingan Kemristek dan Dikti. Acara tersebut tidak terpusat di Jakarta, tetapi bergantian di PTN di daerah. Tahun lalu rakernas dimulai di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

”Ajang pertemuan semua PTN, Kopertis (Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta), dan lembaga penelitian di bawah Kemristek dan Dikti menjadi kesempatan untuk saling mengenal. Tujuannya, agar mudah kolaborasi,” kata Ainun.

Tema Rakernas Kemristek dan Dikti tahun 2018 adalah ”Ristek Dikti di Era Revolusi Industri 4.0”. Kesiapan PT dan lembaga penelitian untuk menghadapi revolusi industri 4.0 dalam berbagai bidang, seperti kelembagaan, bidang studi, kurikulum, sumber daya, pengembangan cyber university, riset dan pengembangan, dan inovasi, akan dibahas.

Ainun mengatakan, dalam rakernas pada Rabu hadir sejumlah pembicara kunci. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hadir untuk menyampaikan paparan tentang kondisi perekonomian nasional.

Selain itu, hadir pula Penasihat senior untuk Presiden Islamic Development Bank Hayat Sindi, Profesor Jangyoun Cho dari Cyber Hankuk University of Foreign Studies; Pendiri dan CEO Ruangguru Adamas Belva Syah Devara; serta Rektor Universitas Amikom Yogyakarta Suyanto.

Rektor USU Runtung Sitepu menyambut baik ditunjuknya USU yang merupakan PT tertua di Sumatera sebagai tuan rumah Rakernas Kemristek dan Dikti 2018.

”Kami berharap lewat pertemuan nasional ini, semua institusi bisa saling berbagi dan belajar yang berguna bagi pengembangan riset, teknologi, dan pendidikan tinggi di Indonesia,” kata Runtung. (ELN)

Sumber: Kompas, 17 Januari 2018
————————–

Era Digital Bersambut

Sekarang ini muncul kebutuhan pada penguasaan literasi baru. Ada literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia yang harus dipastikan diajarkan kepada mahasiswa.

Perguruan tinggi Indonesia perlu merespons secara cepat perubahan yang terjadi pada era revolusi industri berbasis digital. Untuk itu, strategi pendidikan tinggi harus disesuaikan agar tetap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa.

”Perbaikan dalam tata kelola institusi perguruan tinggi yang berkualitas serta anggaran pendidikan yang efisien dan berbasis luaran (output) juga ditingkatkan. Sebab, pendidikan jadi fondasi dan syarat penting untuk kemajuan negara,” ujar Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara rapat kerja nasional Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Tahun 2018 di Universitas Sumatera Utara, Medan.

Hadir dalam acara ini Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, serta Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi.

Sri Mulyani mengatakan, pada era disruptif teknologi saat ini, dunia pendidikan menjadi garis depan di era digital. Perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Perguruan tinggi harus mampu merespons kebutuhan masyarakat yang sudah banyak melakukan kegiatan pembelajaran secara daring agar tidak ditinggalkan atau harus tutup.

Menkeu mengatakan, anggaran pendidikan tahun 2018 adalah Rp 444,13 triliun, baik untuk alokasi pusat maupun daerah. Anggaran 20 persen dari total APBN ini merupakan suatu pemihakan yang nyata bagi pendidikan dan riset Indonesia. Namun, hasilnya perlu ditingkatkan dengan mengubah strategi pendidikan. Sebab, Vietnam dengan alokasi sama, 20 persen APBN untuk pendidikan, daya saing pendidikannya di internasional melesat. Salah satunya dilihat dari hasil Programme International for Student Assessment.

Revolusi industri generasi keempat atau revolusi industri 4.0 mengedepankan otomasi dalam proses produksi. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, seperti big data dan kecerdasan buatan, sangat menonjol.

Menristek dan Dikti mengatakan, secara global, revolusi industri 4.0 menyentuh seluruh hidup manusia, ada transformasi sistem manajemen, tata kelola, dan informasi. Sejumlah elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan dilaksanakan oleh Kemristek dan Dikti untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa, antara lain sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi, seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran.

Selain itu, mulai diupayakannya program Cyber University, seperti sistem perkuliahan jarak jauh (distance learning) sehingga mengurangi intensitas pertemuan dosen dan mahasiswa. Cyber University ini nantinya diharapkan menjadi solusi bagi anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang berkualitas.

Pembelajaran digital
Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Patdono Suwignjo menyatakan perlunya pengembangan pendidikan jarak jauh dengan teknologi digital diakomodasi. Standar pembelajaran, instrumen pendidikan tinggi jarak jauh, disiapkan aturannya. ”Jika tak mengembangkan pembelajaran digital, PTN dan PTS kecil kita bisa kalah bersaing dengan PT asing yang bakal segera masuk,” katanya.

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad mengatakan, PT harus berinovasi untuk mencari kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkan pengguna. Kolaborasi dengan industri jadi keharusan. (ELN)

Sumber: Kompas, 18 Januari 2018

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: