Home / Berita / Kemampuan Peneliti Kependudukan Perlu Ditingkatkan

Kemampuan Peneliti Kependudukan Perlu Ditingkatkan

Kemampuan peneliti di bidang kependudukan dan keluarga berencana perlu terus ditingkatkan karena laju pertumbuhan penduduk yang semakin cepat dan dinamis. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.

Peningkatan kemampuan peneliti ini menjadi fokus penekanan dalam Konferensi Dua Tahunan Soal Kependudukan dan Kesehatan Asia Tenggara yang berlangsung di Batu, Jawa Timur, 8-9 November 2018. Kegiatan ini diikuti sekitar 250 peserta dari 11 negara. Mereka terdiri atas berbagai latar belakang, seperti akademisi, pejabat pemerintahan, hingga organisasi masyarakat.

Konferensi yang merupakan hasil kerja sama Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Portsmouth Inggris didukung oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) serta Kedutaan Besar Inggris, ini, akan membicarakan berbagai persoalan kependudukan dan kesejahteraan keluarga, seperti migrasi, fertilitas, penyakit, dan gaya hidup.

DEFRI WERDIONO–Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Universitas Portsmouth Sherria Hoskins tengah memberi sambutan pada pembukaan Konferensi Dua Tahunan Soal Kependudukan dan Kesehatan Asia Tenggara yang berlangsung di Batu, Jawa Timur, Kamis (8/11/2018).

“Kita merasakan kemampuan periset kita, peneliti kita belum sehebat kemampuan peneliti di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan universitas. Padahal kita sudah membuka peluang adanya peneliti-peneliti internal di BKKBN,” ujar Sekretaris Utama BKKBN Nofrijal saat jumpa pers setelah pembukaan konferensi, Kamis (8/11/2018).

Hadir pada kesempatan ini Pelaksana Tugas Kepala BKKBN Sigit Priohutomo, Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf, Rektor Universitas Brawijaya Nuhfil Hanani, dan Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Universitas Portsmouth Sherria Hoskins, serta pihak Kedutaan Besar Inggris.

Menurut Nofrijal, ada sejumlah faktor yang memengaruhi masih lemahnya kemampuan peneliti, mulai dari latarbelakang sampai perkembangan metodologi penelitian yang berlangsung cepat. Ia menyebut beberapa hal yang perlu dibenahi dan ditingkatkan, di antaranya soal metodologi, pengambilan sampel, dan penulisan hasil riset yang harus cepat diketahui oleh pengambil kebijakan.

Dampaknya, hasil penelitian sulit masuk ke jurnal penelitian internasional dan nasional lantaran belum memenuhi standardisasi yang diberlakukan.

Nuhfil Hanani mengatakan, baik Universitas Brawijaya maupun Portsmouth memiliki pusat riset soal kependudukan dan kesehatan. Di Brawijaya ada 60 pusat penelitian, belum termasuk yang ada di fakultas. Pihaknya pun berharap ada ide yang bisa ditindaklanjuti dari konferensi kali ini.

Sherria menyambut baik keterlibatan banyak pihak dalam konferensi, mulai dari ilmuwan, peneliti medis, hingga peneliti sosial. Keberadaan pejabat pemerintahan juga penting karena mereka merupakan pengambil kebijakan.

Sementara itu, terkait dengan pertumbuhan penduduk di wilayahnya, Syaifullah Yusuf mengatakan dunia kampus juga ikut berperan dalam hal pengendalian laju pertumbuhan penduduk di Jatim. Jatim memiliki penduduk 40 juta jiwa atau terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa Barat.

Menurut Syaifullah ada lima hal yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, yakni sosialisasi pentingnya dua anak cukup, program transmigrasi, penambahan fasilitas kesehatan, peningkatan mutu pendidikan, dan peningkatan pendapatan keluarga.–DEFRI WERDIONO

Sumber: Kompas, 8 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...