Home / Berita / Kecerdasan Buatan; Manusia Berkembang Komplementer

Kecerdasan Buatan; Manusia Berkembang Komplementer

Pemikiran bahwa manusia akan kalah segalanya oleh kecerdasan buatan sejauh ini masih spekulatif. Kemungkinan yang akan terjadi hubungan manusia dan kecerdasan buatan bersifat komplementer. Menyerahkan kehidupan sepenuhnya kepada teknologi juga merupakan tragedi.

Guru Besar Ekonomi Bisnis Universitas Prasetiya Mulya Prof Djisman S Simandjuntak di Bali, Rabu (3/5), mengatakan, adalah sebuah kenyataan bahwa kemampuan mesin untuk belajar sudah terbukti membaik dan terus mengalahkan manusia dalam permainan, mengenali-mengerti suara, menerjemahkan kata-kata dan kalimat, serta menggubah puisi. Kemampuannya yang berasal dari proses mengasah pengetahuan yang berdasar pada data besar juga membaik.

“Akankah kecerdasan buatan dapat menyamai manusia dalam segala hal melebihi inteligensi manusia? Untuk saat ini pemikiran itu sangat spekulatif. Namun, manusia dan komputer mungkin akan berkembang komplementer. Komputer akan mengerjakan tugas yang terspesialisasi dalam inteligensi yang dapat dialgoritmakan dan manusia bekerja dalam hal-hal yang intuitif atau bahkan spekulatif. Kinerja kendaraan yang otonom (driveless car) tampaknya akan kalah dibandingkan dengan kendaraan komplementer yang mengandalkan kerja sama manusia dan komputer,” katanya.

CEO GE Indonesia Handry Satriago juga mengatakan, kecerdasan buatan adalah bikinan manusia. Hal ini berarti kecerdasan manusia bergantung pada bagaimana manusia mengkreasi sebuah program.

“Kita menyaksikan konvergensi antara perangkat lunak dan perangkat keras. Untuk itu harus didukung kemampuan otak manusia,” ujarnya.

Paradoks digital
Djisman mengungkapkan, saat ini manusia sedang menjelang ke masa Hyperbrave New World atau masa ketika terjadi perubahan sangat cepat akibat perkembangan teknologi, salah satunya digital. Akan tetapi, secara paradoksal juga terjadi ketimpangan literasi digital. Ketimpangan ini masih akan melebar sebelum menyempit secara perlahan. Persoalannya, ketimpangan literasi saat ini diperburuk oleh masalah perpecahan akibat teknologi digital itu.

Ia menunjukkan masalah perpecahan itu sudah muncul di beberapa negara. Perpecahan digital itu memperkuat perpecahan sosial seraya membentuk masyarakat granular atau masyarakat yang mengelompok dalam kepentingan-kepentingan sempit. Akibatnya teknologi komunikasi malah dipakai menjadi alat diskomunikasi dengan membatasi komunikasi sesama kalangan sempit itu (incestuous communication) dan bahkan membakar perpecahan karena masalah primordial.

Tragedi kemanusiaan
Di tengah euforia teknologi digital, budayawan Radhar Panca Dahana mengingatkan, manusia akan menggunakan teknologi apa pun untuk membantu pekerjaannya. Namun, yang perlu diperhatikan adalah apakah substitusi manusia oleh mesin bisa memunculkan kualitas kehidupan yang lebih baik.

Ia menyebut sistem dan manajemen yang membuat orang hanya bekerja secara mekanik, baik secara biologis maupun fisik, sebagai sebuah tragedi kemanusiaan. Apalagi, jika semuanya kemudian digantikan oleh hal-hal artifisial, seperti mesin atau produk-produk kecerdasan.

Akhirnya, kebudayaan tidak lagi memanusiakan manusia meski memudahkan kehidupan manusia. “Di titik ini, ada kritik terhadap pemeo yang mengatakan bahwa teknologi tidak bisa dielakkan atau harus diterima apa adanya. Saya sangat mengkritik hal ini karena semua ciptaan manusia tidak bisa diterima begitu saja, tetapi bisa ditawar. Semua teknologi bisa kita tolak pada beberapa bagian, misalnya media sosial bisa kita tolak 80 persen, atau bahkan 100 persen. Bahkan, anak usia 0 sampai 17 tahun tidak bisa dibiarkan terjun langsung ke media sosial karena mereka belum bisa bertanggung jawab secara personal, mental, dan spiritual,” ujar Radhar.

Radhar mencontohkan, dalam bentuk teknologi, nuklir bisa kita tolak. Banyak hasil teknologi yang bisa ditawar atau bahkan ditolak.

Mirip dengan Radhar, pengajar Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Saras Dewi, juga mengingatkan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu terus dilakukan, dan kecerdasan buatan adalah inovasi termutakhir. Namun, aplikasi temuan-temuan itu perlu dipertimbangkan dan juga dipahami konsekuensi etisnya.

Mengutip pandangan filsuf dan teolog Jacques Ellul dalam buku The Technological Society, ia menggarisbawahi, pengembangan teknologi digital mengejar satu tujuan, yakni efisiensi. Namun, menyerahkan secara total kehidupan pada kecerdasan buatan berarti meninggalkan relasi. (MED/ABK/NAR/MAR)
———-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Mei 2017, di halaman 1 dengan judul “Manusia Berkembang Komplementer”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: