Home / Berita / Kebijakan Baru Hambat Penerapan Teknologi

Kebijakan Baru Hambat Penerapan Teknologi

Peraturan baru yang melarang peneliti terjun langsung ke masyarakat untuk mengenalkan teknologi baru di satu sisi memperkuat peran para tenaga penyuluh. Namun, itu berpotensi memperlambat proses desiminasi teknologi. Mengantisipasi itu, dikembangkan strategi baru, yaitu pembukaan pusat informasi teknologi perikanan yang bisa diakses langsung masyarakat.

Selain itu, peneliti juga mendampingi tenaga penyuluh. Sesuai Keppres Nomor 63 Tahun 2015, teknologi yang dihasilkan lembaga riset tidak bisa disampaikan langsung kepada masyarakat. Merespons itu, Balitbang Kelautan dan Perikanan membentuk unit pemberdayaan masyarakat. ”Meski sekarang tak langsung memberi teknologi kepada masyarakat, Balitbang KP tetap membantu melalui sistem informasi teknologi. Pusat Inovasi Teknologi untuk memberi layanan informasi dan pendampingan teknologi,” kata Kepala Bidang Pelayanan Teknis Sosial Ekonomi Balai Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Catur Pramono Adi pada pembukaan Bimbingan Teknis Teknologi Adaptif Kelautan dan Perikanan di Sukamandi, Jawa Barat, Senin (23/11). Program pelatihan itu diikuti 32 penyuluh perikanan dari wilayah Jawa Barat. Menurut Kepala Balai Diklat Aparatur Sukamandi Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan Hasrat AS, pelatihan produk teknologi bagi para penyuluh itu diharapkan meningkatkan pendapatan 50.000 nelayan dan pembudidaya melalui alih teknologi tepat guna. Jumlah penyuluh ikan di Jawa Barat saat ini 179 orang. (YUN)
———————–
Pengobatan Tradisional Samin Belum Dikodifikasi

Pengumpulan informasi etnomedisin atau pengobatan tradisional berdasar pengetahuan masyarakat Samin di Desa/Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, Jawa Timur, mendapati 19 jenis penyakit bisa diobati atau disembuhkan menggunakan 21 jenis tumbuhan, 4 jenis hewan, dan bahan mineral alam. ”Kodifikasi atau pengumpulan informasi pengetahuan etnomedisin dari ratusan suku di Indonesia itu mendesak sebelum informasi dan pengetahuan itu hilang. Potensi hilang besar karena tak ada minat dari ahli waris, sumber daya alam punah, atau terabaikan,” kata pengajar dan peneliti di Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Ratna Kurnia Illahi dalam Simposium Internasional Ke-2 Pengobatan Tradisional dan Alternatif di Surabaya, Senin (23/11). Ratna dibantu mahasiswanya meneliti etnomedisin masyarakat Samin tahun 2014. Beberapa pengetahuan itu: cabai untuk penyakit rematik, puyang untuk mengobati gatal, temulawak untuk meningkatkan produksi ASI, temu ireng untuk obat batuk, pepaya untuk menangani malaria, asem jawa untuk obat batuk, pule untuk anti kolera, dan cacing untuk mengobati demam. Meski sebagian informasi itu diketahui umum, tetap penting pendokumentasian pengolahan dan pemrosesan bahan alam itu, serta hubungannya dengan kebajikan masyarakat konstituennya. (ODY)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 November 2015, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: