Home / Berita / Swasembada Garam Belum Bisa Tercapai

Swasembada Garam Belum Bisa Tercapai

Teknologi Pengolahan Ditingkatkan

Meski telah mencapai swasembada garam konsumsi pada 2012, pemerintah belum dapat mencapai target swasembada garam nasional pada 2015. Penyebabnya, berbagai masalah produksi garam bagi kebutuhan industri belum teratasi.
Hal itu mengemuka dalam temu media ”Membangun Industri Garam Nasional Berbasis Inovasi” yang diselenggarakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Jumat (21/2), di Jakarta.

Asisten Deputi Kelautan Perikanan dan Peternakan Kemenko Kesra Jafi Al Zagladi mengungkapkan berbagai masalah dalam pengembangan garam industri, antara lain kurangnya dukungan teknologi untuk menghasilkan garam berkualitas tinggi dan tingkat kemurnian tinggi sesuai dengan kebutuhan industri.

Meski target swasembada garam industri tak tercapai pada 2015, landasan pengembangan tengah dipersiapkan. Tahun ini diselesaikan desain besar pengembangan garam dalam rangka membangun kluster garam.

Pada jangka menengah hingga 2019 ditargetkan, pembuatan garam aneka pangan, produksi garam beryodium berbasis sentra. Adapun penguasaan teknologi dan pembuatan garam farmasi akan tercapai pada 2025.

Saat ini, produksi garam nasional baru mencapai tingkat kemurnian sekitar 92 persen. Padahal, industri memerlukan kemurnian 97 persen ke atas,” ujar Jafi.

217806_3820434622918_916028730_nUntuk kebutuhan farmasi, kata Jafi, diperlukan garam berkadar 97,8 persen. Adapun untuk industri 97 persen. Garam berkadar tinggi, antara lain, diperlukan dalam produksi minyak dan pembuatan kaustik soda.

Teknologi pengolahan
Untuk meningkatkan kemurnian garam, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menerapkan teknologi pengolahan untuk membuat garam farmasi dari garam rakyat. Garam diolah menjadi cairan infus. Pengembangan teknologi pembuatan garam juga dilakukan Universitas Indonesia dan Universitas Trunojoyo.

Teknologi yang telah diterapkan industri, kata Ismail dari PT Garam, adalah teknologi geomembran untuk menghasilkan 60 persen garam berkualitas tinggi dengan kadar garam di atas 94 persen.

Untuk meningkatkan kualitas garam rakyat, demikian Budi Sulistyo, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir Balitbang KKP, dikembangkan rancang bangun proses pemurnian garam hingga meningkatkan kemurnian menjadi 94 persen.

”Selain itu, dari limbah garam telah dihasilkan magnesium sebagai bahan pembuatan cairan infus. Uji coba produksi magnesium dilakukan tahun ini di Pamekasan,” katanya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan Achmad Purnomo mengatakan, untuk mengatasi masalah pengembangan garam industri diperlukan keterpaduan semua pemangku kepentingan.

”Untuk swasembada garam tidak hanya perlu pengembangan teknologi, tetapi juga aspek tata niaga dan pemberdayaan masyarakat,” kata Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil KKP Sudirman Saad. (LKT/YUN)

Sumber: Kompas, 24 Februari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: