Home / Sosok / Arifin Jamian Memproduksi Garam Tanpa Kenal Musim

Arifin Jamian Memproduksi Garam Tanpa Kenal Musim

Arifin Jamian Maun (56) membuktikan bahwa hujan bukanlah hambatan untuk memproduksi garam. Bahkan kalau mau, ia bisa panen garam setiap hari. Kualitasnya pun bisa diatur sendiri, untuk kebutuhan garam industri atau garam konsumsi.

Bagaimana Arifin cara Arifin memproduksi garam? Warga Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur itu menggunakan metode pengolaharan garam dalam rumah prisma garam bertingkat yang ia kembangkan sendiri sejak 2014. Ia menyebut metode ini vertikultura.

Metode yang digunakan Arifin merupakan modifikasi sistem green house yang mempercepat proses penguapan air laut menjadi kristal garam. Rumah prisma garam ditutupi dengan plastik geomembran khusus yang didesain mampu menangkap panas udara secara maksimal sehingga mempercepat proses pengkristalan.

Rumah prisma juga mampu melindungi air tua dari resiko curah hujan yang tinggi dan mampu mengeliminasi kotoran serta debu yang menempel pada kristal garam. Karena air tua terlindungi, produksi garam bisa dilakukan nyaris di sepanjang musim, termasuk saat musim hujan sehingga hasil produksi garam bisa ditingkatkan. Selama ini, dengan cara tradisional produksi garam hanya bisa dilakukan saat musim kemarau, dalam kurun waktu 3-4 bulan.

Arifin menjelaskan, pada Januari-Maret, saat curah hujan sedang tinggi, ia bisa memproduksi 20 ton garam. Padahal pada Januari-Maret, saat curah hujan tinggi saja, Arifin masih bisa memproduksi 20 ton garam. April-Juli bisa produksi 15 ton, mulai Agustus diperkirakan minimal 20 ton dari sekitar 1 hektar tambak garam prismanya. Secara kualitas, garam yang dihasilkan juga jauh lebih bersih.

Padahal, dengan metode konvensional, produksi garam hanya sekitar 80 ton dalam kurun tiga bulan panas. Itupun petani mesti berlomba dengan mendung dan hujan. Ketika gerimis turun, garam muda terpaksa mesti dipanan lebih dini daripada mencair lagi dan membuat mereka rugi. Artinya, produksi akan merosot.

Rumah prisma garam yang dibuat Arifin bentuknya mirip piramid. Bentuk seperti itu, menurut Arifin, secara teknis lebih tahan angin dan mampu menahan suhu panas lebih banyak. Saat ini, ia membangun 10 unit rumah prisma yang masing-masing berukuran 7×7 meter. Dengan demikian, luas total rumah prismanya sekitar 4.900 meter persegi. Biaya untuk membangun satu unit rumah prisma itu adalah Rp 5 juta. Dalam 1 hektar area tambak, bisa dibuat lebih dari 10 rumah prisma, bergantung keinginan petani.

Ia mengklaim, rumah prismanya bisa menghasilkan 1 kilogram garam per meter per segi setiap hari. Jika ada satu hektar rumah prisma, maka setiap hari bisa dihasikan 10 ton garam. Dalam setahun produksi garam sekitar 360 ton dari satu hektar rumah prisma. Kalau rumah prisma diperbanyak hingga luasnya 10.000 hektar, maka garam yang dihasilkan sekitar 3,65 juta ton.

Angka ini sudah melampaui target produksi garam Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2016, yakni 3,6 juta ton dari 25.830 hektar areal tambak yang tersebar di di 44 kabupaten/kota di Indonesia. Target produksi garam rakyat tahun 2018 adalah 4,1 juta ton.

Arifin yakin, target produksi garam rakyat secara nasional bisa dicapai jika semua petani garam menerapkan sistem prisma. “Indonesia tidak akan kekurangan garam, dan tidak perlu impor. Tetapi, semua itu butuh dukungan semua pihak, termasuk akses modal,” ujar Arifin.

Arifin mengaku mendapat dukungan dari produsen plastik geomembran, PT Kencana Tiara Gemilang (KTG). Bersama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan beserta Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya Malang, KTG sejak 2016 terus mengkaji metode produksi garam dengan rumah prisma sejak 2016. Harapannya, metode ini bisa terus disempurnakan.

Terus mencoba
Petani garam asal Lamongan itu terus mencoba berbagai teknik untuk meningkatkan hasil produksi garam dengan rumah prisma. Ia pernah menggunakan mika untuk bahan penutup rumah prisma tetapi baru beberapa bulan jebol. Ia terus mencari bahan yang cocok dan akhirnya mendapatkan geomembran.

KOMPAS/ADI SUCIPTO–Arifin Jamian Ma’un di rumah prisma garam miliknya di Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Ia lantas mencoba sistem geomembran tanpa rumah prisma dengan teknologi filter ulir. Dengan cara ini ia bisa menghasilkan 120-150 ton garam. Lebih tinggi dari produksi garam dengan sistem tradisional yang hanya menghasilkan 80-100 ton garam dalam tiga bulan panas. “Semua model sudah saya coba,” tegasnya.

Akhirnya ia mengembangkan rumah prisma garam bertingkat dengan penutup geomembran. Sejauh ini, hasilnya sangat baik. Produksi garam bisa ditingkatkan 3-4 kali lipat dari cara tradisional, yakni sekitar 400 ton setahun. “Dengan cara ini produksi garam jadi tak kenal musim,” ujarnya.

Ia kini berusaha mendorong para petani garam di Brondong, Lamongan untuk beralih dari metode produksi tradisional ke metode rumah prisma. Saat ini di Brondon terdapat 191 hektar tambak garam yang dikelola oleh 23 kelompok tani. Mereka tersebar di Desa Sedayulawas, Brengkok, Sidomukti, Lohgung dan Labuhan. Namun, para petani menganggap biaya untuk membuat rumah prisma garam masih mahal. Arifin berusaha meyakinkan petani bahwa metode rumah prisma itu murah karena bisa dipakai 5-8 kali dengan hasil yang jauh lebih banyak dibandingkan cara tradisional.

Guru
Sebelum menekuni garam, Arifin menjadi guru dan kepala dusun. Ia juga aktif mengisi khotbah Jumat di masjid-masjid dan menulis buku-buku religi. Pada 2011, ada program pengembangan usaha garam rakyat. Arifin tertarik ikut program tersebut. Setelah itu, ia mulai memproduksi garam dengan cara tradisional seperti yang dilakukan petani garam lain di kampungnya. Namun, hasilnya tidak membuat ia puas.

Ia lantas mencoba metode terpal tanpa penutup selama dua tahun dari 2011. Hasilnya pun kurang memuaskan. Ia akhirnya mulai merintis metode rumah prsima garam pada 2014. Ia lantas mengembangkan lagi metode itu pada 2018 menjadi rumah prisma garam bertingkat. Ternyata hasilnya bagus. Ia kemudian mencoba mengembangkan produksi garam untuk industri.

Kini, hati Arifin benar-benar telah tertambat pada garam. Apalagi, tambaknya sering dijadikan tempat praktik dan penelitian mahasiswa. Ia juga sering diminta berbagi ilmu mengelola garam di berbagai kota seperti Cirebon, Rembang, Probolinggi, Pasuruan, Surabaya, Gresik, Bogor dan Jakarta. Ia juga dilibatkan dalam riset terkait garam oleh perguruan tinggi, antara lain di Universitas Udayana, Universitas Hangtuah, Universitas Trunojoyo, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Brawijaya Malang.

Ia dengan senang hati membagi ilmunya. Ia ingin semakin banyak petani yang menerapkan metode rumah prisma garam. Dengan begitu, mereka bisa memproduksi garam di kala panas dan hujan.

Arifin Jamian Maun

Lahir: Lamongan 2 Februari 1962

Istri: Nur Cahyani

Anak: Jihaduddin Rifki Al Hanif, Zazilatul Hikmiyah, Novandi Zahidah Islam, Johan Imamul Bilad, Rulli Dian Izarul Haq.

Pendidikan :
MI Muhamadiyah Sedayulawas
MTs Muhammadiyah Brondong
SMA Muhammadiyah Kertosono, Nganjuk di Ponpes Roudlotul Ilmiyah Kertosono
IAIN Sunan Ampel Surabaya sampai Semester VIII, tidak sampai lulus
Pekerjaan: petani garam

Penghargaan :
Aplikasi Teknologi, Inovasi Baru Garam Bisnis dari PT Telkom 2017
Inovasi Bidang Energi, Pemanfaatan Energi Matahari untuk Garam dengan Rumah Prisma, dari Bupati Lamongan 2017

ADI SUCIPTO KISSWARA

Sumber: Kompas, 3 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Bambang Yuwono dan Hary Sudiyono Candra, Pembelajaran Digital untuk Siswa Sekolah

Bambang dan Hary, pendiri PesonaEdu, membuat buku digital interaktif untuk membantu siswa dan guru dalam ...

%d blogger menyukai ini: