Melihat Lebih Dekat Proses Hujan Buatan untuk Atasi Kekeringan

- Editor

Senin, 21 September 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kekeringan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Fenomena El Nino ditakutkan para petani. Sawah-sawah gagal panen. Waduk mengering.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta masyarakat tenang. Pemerintah sudah mengambil langkah untuk mengatasi kekeringan. Salah satunya dengan membuat hujan buatan.

detikcom berkesempatan untuk ikut dalam proses Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau biasa disebut hujan buatan pada Selasa (25/8/2015). Menggunakan pesawat CN 295 TNI AU, penerbangan dimulai dari Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur pukul 14.00 WIB.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pesawat diterbangkan oleh pilot Letkol Penerbang Lilik Eko Susanto dan co pilot Kapten Penerbang Suyanto. Ada 11 kru dari TNI AU, 2 dari BPPT dan sejumlah wartawan.

Pesawat membawa sekitar 2 ton garam. Garam itu disimpan di delapan tangki yang masing-masing berisi sekitar 12-13 Kg. Targetnya adalah sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

Garam tersebut disemai di atas awan agar menimbulkan hujan. Kepala Bidang Kajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT
Tri Handoko Seto mencari titik-titik awan yang berpotensi untuk terjadinya hujan.

“Kita observasi lapangan, mengecek hasil prediksi radar dan satelit, di sekitar Jawa Tengah, bagian tengah dan selatan ada peluang pertumbuhan awan awan potensial untuk disemai,” ujar Tri Handoko.

72968c98-5ea0-4889-877a-ca30e96cd1f1_169Pesawat meluncur ke arah timur. Ketika dekat dengan Gunung Ceremai, terlihat awan yang berpotensi untuk hujan. Keran dibuka agar garam tersebar melalui pipa yang berada di bawah pesawat.

Setelah mendapat instruksi, para kru kemudian memukul-mukul tangki yang berisi garam dengan palu yang terbalut kain. Fungsinya agar garam luruh dan lancar dijalur pipa tersebut. Hal itu dilakukan di setiap titik penyemaian garam.

Kru dibagi dua tim. Tim pertama memukul tangki di depan, tim kedua memukul tangki di belakang. Mereka berurutan satu persatu menghabiskan garam dari depan ke tengah, dari belakang ke tengah.

Suara tangki bergemuruh bersautan. Kaca pada pipa di bawah menjadi panel indikator lancarnya garam turun. Tentu ditambah dengan kekuatan udara dari luar pesawat yang menyedot garam-garam tersebut.

Titik penyemaian dilakukan di atas wilayah Cirebon, Brebes, Tegal, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung dan Semarang. Penyemaian dilakukan dari ketinggian 8000-10000 kaki.

“Kalau lihat awan tadi sedang pertumbuhan, kami perkirakan 2-3 jam kedepan akan hujan, meski tidak deras, cukup untuk memenuhi keinginan hujan,” jelas Tri.

Tri mengakui mencari awan potensial tidak mudah. Tantangannya, awan pada musim kemarau biasanya muncul di titik-titik dekat pegunungan.

“Ini sulit, sangat berbahaya. Kami, pilot dan co pilot harus memperhitungkan jarak dengan gunung, tapi tetap efektif dalam penyemaian. Kita harus hati-hati,” ungkapnya.

Setelah garam habis, pesawat kembali ke Lanud Halim Perdanakusumah. Penerbangan ditempuh selama tiga jam.

Rencananya hujan buatan ini akan terus dilakukan di sejumlah titik di Indonesia yang mengalami kekeringan. Diantaranya di wilayah Selatan dan Timur Indonesia seperti NTT, Jawa, NTB, Lampung, Bali, dan Sulawesi Selatan.

Foto: Mega Putra(ega/hri)

Mega Putra Ratya – detikNews

Sumber: detik.com, Selasa 25 Aug 2015

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB