Home / Berita / Karta Pustaka ditutup; Hilangnya Tonggak Memori Kebudayaan

Karta Pustaka ditutup; Hilangnya Tonggak Memori Kebudayaan

Tak ada angin, tak ada hujan, tak ada kabar awal, tetapi kepastian itu terjadi. Kegiatan Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda, Karta Pustaka, di Yogyakarta ditutup. Tidak ada lagi kegiatan di tempat itu, tinggal menunggu proses pengajuan pembubaran kepada pemerintah dan menjual semua aset kepada masyarakat luas.


Memang bukan lonceng kematian kegiatan berbudaya dan intelektualitas di Yogyakarta dengan penutupan lembaga nirlaba tertua di Yogyakarta itu. Namun, sejarah bagaimana mewujudkan kegiatan budaya di Yogyakarta tahun 1970-an dengan seluruh suka dukanya, semua tersimpan di sana. Seniman dan cendekiawan Yogyakarta yang pernah berkiprah merasa kehilangan tonggak memori perjuangan bagaimana membangun kegiatan budaya di Yogyakarta.

”Sungguh ini peristiwa mengejutkan. Sepertinya kita ditinggalkan sahabat yang mati mendadak,” kata budayawan Landung Simatupang, yang pada masa mudanya berkiprah di Karta Pustaka.

Landung memang mendengar semua arsip kegiatan budaya dan keintelektualan di Karta Pustaka diserahkan kepada lembaga lain, seperti Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Sebagian lain diserahkan kepada Yayasan Teater Garasi, yang sering meneliti.

”Namun, dari segi rasa, kami tetap merasa kehilangan. Bukan itu saja, dengan ditutupnya lembaga nirlaba seperti Karta Pustaka, beban Bentara Budaya yang juga merupakan lembaga nirlaba menjadi berat karena sudah tidak ada teman lagi,” katanya.

Penjualan Aset Yayasan Karta PustakaBagi Direktur Karta Pustaka Anggi Minarni, penutupan Karta Pustaka memang sudah ”garis sejarah” apabila dilihat dari visi-misi utama, yakni menyeimbangkan hubungan Belanda-Indonesia lewat kebudayaan setelah kemerdekaan Indonesia. ”Visi-misi disusun dalam jadwal 50 tahun. Sekarang, cita-cita sudah tercapai. Enggak ada jarak dan problem lagi hubungan Indonesia-Belanda. Ada kebebasan saling kunjung di antara dua negara,” katanya.

Menurut Anggi, kerja budaya dan kerja intelektual ditularkan Karta Pustaka selama 50 tahun mengabdi. Dari kerja itu, Karta Pustaka telah mampu membangun spirit relasi budaya antarbangsa, khususnya Belanda dan Indonesia, yang akhirnya melahirkan keharmonisan.

”Yang pasti, Karta Pustaka selama 50 tahun berkarya telah menanamkan spirit tujuan berbudaya. Setidaknya, setelah Karta Pustaka, muncul lembaga kebudayaan yang misinya juga segaris dengan Karta Pustaka. Oleh karena itu, jangan dilihat fisik Karta Pustaka sudah tidak ada, tetapi spiritnya yang perlu diambil dan terus berkembang di Indonesia, khususnya Yogyakarta. Spiritnya tetap hidup,” ujar Anggi.

Bahasa Belanda
Karta Pustaka berdiri tahun 1968. Awalnya hanya merupakan tempat kursus bahasa Belanda yang dirintis Nyonya E Th Simadibrata-Piontek. Lalu bergabung budayawan Dick Hartoko dan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) waktu itu, Soepojo Padmodipoetro. ”Romo Dick Hartoko mengusulkan agar kursus bahasa Belanda dibuatkan yayasan, yang tidak hanya bergerak dalam kursus, tetapi juga perpustakaan serta kerja sama budaya antara Belanda dan Indonesia. Akhirnya Ibu Simadibrata mendatangi Kedutaan Belanda untuk bekerja sama. Lalu, dibuatlah jadwal kerja selama 50 tahun dalam hal penyeimbangan hubungan Indonesia-Belanda,” tutur Anggi.
Penjualan aset

Sejak Senin (1/12), aset-aset yang dimiliki Karta Pustaka dijual. Buku-buku koleksi perpustakaan dijual kepada masyarakat umum. Buku-buku yang dipajang di gedung Karta Pustaka di Suryodiningratan, Yogyakarta, itu laku keras. ”Fakultas Ilmu Budaya UGM membeli dua kamar berisi buku kami,” kata Anggi.

Penjualan semua aset, menurut Anggi, untuk memenuhi Undang-Undang Ketenagakerjaan yang memberi pesangon kepada karyawan yang diputus hubungan kerja. ”Kalau semua terjual, saya kira cukup untuk pesangon karyawan,” katanya.

Samuel Indratma, perupa Yogyakarta, menyatakan miris melihat penjualan buku-buku itu. ”Untung masih dijual kepada orang Indonesia,” katanya.

Menurut Samuel, sikap budaya orang Yogyakarta, khususnya dalam hal kebudayaan, lebih berkompromi pada kebersamaan. ”Banyak peristiwa kebudayaan tercipta lebih karena swadaya. Kita tidak sendirian mempertahankan kehidupan Karta Pustaka. Misalnya kerja sama dengan universitas atau lembaga lain, pasti teratasi,” katanya.

Landung menyatakan, pelaku budaya perlu berdiskusi untuk memikirkan bagaimana mempertahankan Karta Pustaka. ”Ini penyelamatan memori budaya,” kata Landung.

Menurut Landung, keberadaan lembaga itu merupakan embrio munculnya seniman, perupa, dan cendekiawan di Yogyakarta. ”Kegiatan budaya hampir semua lahir dari lembaga itu, termasuk Linus Suryadi AG saat membacakan karyanya yang legendaris, Pengakuan Pariyem, juga terjadi di sana. Karta Pustaka pun saksi betapa kurang perhatiannya pemerintah pada kebudayaan. Lembaga seperti Karta Pustaka dan Lembaga Indonesia-Perancis justru yang menghidupkan kebudayaan Yogyakarta,” tuturnya.

Cendekiawan Universitas Sanata Dharma, Budi Subanar, menyatakan, tutupnya Karta Pustaka lebih dipengaruhi situasi dunia terhadap Indonesia. ”Saya pernah bicara dengan beberapa orang dari Universitas Leiden, Belanda, bahwa studi tentang Indonesia menurun. Bahkan, fakultas tentang studi Indonesia di Universitas Leiden disederhanakan,” ujarnya.

Menurut Budi Subanar, studi tentang Indonesia di Australia dan Amerika Serikat pun menurun. ”Ini saya kira yang memengaruhi ditutupnya Karta Pustaka,” katanya.

Dengan ditutupnya Karta Pustaka, ditutup pula kursus bahasa Belanda. ”Ini akan memengaruhi studi sejarah. Boleh dibilang, Karta Pustaka memiliki literatur tentang Indonesia pada masa lalu,” ungkapnya.

Penutupan Karta Pustaka rasanya memang menjadi dilema kebudayaan di Indonesia.

Oleh: Thomas Pudjo Widijanto

Sumber: Kompas, 4 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: