Home / Berita / Kandungan Dioksin Telur Tropodo Dicek Ulang

Kandungan Dioksin Telur Tropodo Dicek Ulang

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggandeng sejumlah peneliti untuk mengecek keberadaan kandungan dioksin pada telur, daging ayam, cacing, serangga, air permukaan, dan tanah di Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur. Ini sebagai langkah awal untuk mengonfirmasi temuan kandungan dioksin pada telur ayam setempat yang dirilis sejumlah organisasi masyarakat sebulan lalu.

IMG_20191204_111427.jpgKOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengecek ulang kandungan telur berdioksin di Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur. Tampak dari kiri ke kanan M Lazuardi (pakar kedokteran hewan dari Universitas Airlangga, Surabaya), Setyo Moersidik (pakar teknik lingkungan Universitas Indonesia), Novrizal Tahar (Direktur Pengendalian Sampah KLHK), Setyo Gunawan (pakar teknik kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya), dan Nuke (moderator dari KLHK), Selasa (3/12/2019), di Jakarta, memberikan keterangan pers terkait kajian ilmiah yang sedang dilakukan.

Selain mengukur kandungan dioksin, KLHK juga menerjunkan tim peneliti untuk memetakan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat yang sejak 1980-an penghidupannya tergantung dari menyortir sampah plastik. Kajian lengkap ini diharapkan bisa dikembangkan menjadi model untuk mengatasi permasalahan serupa yang diduga terjadi pada daerah-daerah lain yang menjadi korban dumping sampah impor bahan baku daur ulang.

”Isu dioksin ini isu penting. Ngomong dioksin itu bukan perkara ringan. Ingin memberikan respons secara ilmiah, proporsional, dan independen,” kata Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Selasa (12/3/2019), di Jakarta.

Ia bersama Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK MR Karliansyah, Setyo Moersidik (pakar lingkungan Universitas Indonesia), Setyo Gunawan (pakar teknik kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Jawa Timur), dan M Lazuardi (pakar kedokteran hewan Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur) menjelaskan penelitian tersebut. Hasil penelitian itu direncanakan selesai pada akhir Desember 2019 atau awal Januari 2020.

Setyo Gunawan mengatakan sedang menunggu hasil uji laboratorium yang dilakukan di Angler Biochemlab dan Saraswati Indo Genetech, keduanya di Surabaya. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kandungan tiga jenis dioksin, yaitu furan, dioksin PCB, dan dioksin PCDD.

Penelitian telur ini hanya dilakukan di Tropodo karena menjadi lokasi penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar industri tahu. Sedangkan Desa Bangun di Mojokerto yang juga mengandung dioksin dan senyawa persisten organik (POP) tinggi menurut riset organisasi masyarakat sipil sebelumnya, tak dicek karena berjarak 7,5 kilometer dari Tropodo.

”Di Bangun ini tidak ada pembakaran, hanya memilah kertas dan logam. Residu yang dikirim ke Tropodo sebagai bahan bakar tungku tahu Tropodo. Permasalahannya pada pembakaran, bukan sampahnya,” katanya.

Setyo Gunawan mengatakan tak hanya menganalisis kandungan dioksin pada telur, tetapi lebih menyeluruh pada ayam dan cacing serta serangga setempat. Referensi literatur, kata dia, menunjukkan transfer material sekitar 30 persen. Dengan angka ini, jika temuan organisasi masyarakat sipil menunjukkan kandungan dioksin pada telur sebesar 200 pg TEQ/g fat (Kompas, 15/11/2019), ia memperkirakan kandungan dioksin pada ayam mencapai 700 pg TEQ/g fat.

Dengan pijakan referensi juga, ia menunjukkan kandungan 100 TEQ/g fat dioksin pada tikus mematikan. Hitungan dan logika sederhananya, dengan kandungan dioksin 700 pg TEQ/g fat sudah mematikan bagi ayam. ”Kami mendesain penelitian ini sangat hati-hati dan lengkap,” katanya.

MR Karliansyah menambahkan juga sampel air permukaan dan tanah di sekitar industri tahu di Tropodo. Ini karena cerobong pembakaran industri tahu relatif pendek sehingga partikel padat asap jatuh di lokasi sekitarnya. Untuk analisis sampel udara, ia mengakui belum dilakukan karena tidak terdapat laboratorium analisisnya di Indonesia. Analisis kandungan dioksin pada udara selama ini dilakukan di Selandia Baru.

Menanggapi riset yang akan dilakukan tim dari KLHK ini, Yuyun Ismawati, pendiri dan Penasihat Senior BaliFokus/Nexus3, mengatakan, pihaknya tak hanya menguji kandungan dioksin, tetapi juga bahan kimia beracun lainnya yang menjadi perhatian global yang tercantum dalam Konvensi Stockholm untuk pengurangan dan eliminasi.

”Kami menganalisis juga zat-zat kimia berbahaya dan beracun POPs lainnya, termasuk PDBE, SCCP, dan PFOS yang terdapat dalam sampel telur dari Bangun dan Tropodo dalam konsentrasi tinggi, setara konsentrasi di kawasan industri di Eropa,” ujarnya.

Karena itu, ia mengatakan, jika Pemerintah Indonesia ingin melakukan analisis pembanding, seharusnya juga menganalisis parameter kimia POPs lainnya, seperti yang telah dilakukannya. Dalam riset yang dirilis pertengahan November tersebut, jaringan global bagi advokasi kebijakan dan kesehatan lingkungan IPEN, Arnika Association, Nexus 3, dan Ecoton, memeriksa kandungan polychlorinated dibenzo-p-dioxins dan dibenzofurans (PCDD/Fs) plus dioxin-like polychlorinated biphenyls (dl-PCBs) dengan menggunakan metode DR CALUX. Sampel diuji di laboratorium bersertifikat Dutch ISO 17025, BioDetection Systems BV, di Amsterdam, yang menganalisis menggunakan cell-based screening analysis DR CALUX sesuai European Standard EC/644/2017.

Selain itu, mereka juga menganalisis individual PCDD/Fs dan an extended list of PCB congeners dengan HRGC-HRMS di laboratorium berakreditasi di Münster Analytical Solutions (MAS) Gmbh di Münster, Jerman. Yuyun pun menyatakan semua sampel dianalisis kandungan non-dioxin-like (indikator) PCBs (iPCBs), DDT dan metabolitnya, hexachlorocyclohexanes (HCHs), hexachlorobutadiene (HCBD), pentachlorobenzene (PeCB), dan hexachlorobenzene (HCB) di laboratorium bersertifikat di Republik Chechnya, di University of Chemistry and Technology di Praha, Department of Food Chemistry and Analysis.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 3 Desember 2019

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: