Home / Berita / Pemanfaatan Sampah untuk Bahan Bakar agar hati-Hati

Pemanfaatan Sampah untuk Bahan Bakar agar hati-Hati

Sebagian besar sampah rumah tangga di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, akan dimanfaatkan untuk bahan bakar industri dalam tujuh bulan ke depan. Namun, pengelola dan pemerintah perlu hati-hati agar pemanfaatan teknologi “pembakaran sampah” ini tak memicu pencemaran udara.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap menyatakan, sampah plastik dan organik dibakar sebagai material bahan bakar refuse derived fuel (RDF). Sampah ini melalui proses pengeringan, dicacah, lalu dimasukkan tungku pembakaran industri sebagai pengganti batubara. Pabrik semen Holcim akan memanfaatkan RDF.

Pembakaran plastik berisiko melepaskan senyawa dioksin yang berbahaya bagi kesehatan manusia. “Indonesia meratifikasi Konvensi Stockholm (sejak 2009). Dalam naskahnya, fasilitas cement kiln (pengeringan semen) dengan RDF sebagai sumber potensial emisi dioksin yang harus dikurangi atau dihilangkan sesuai Konvensi Stockholm,” kata Krishna Zaki Bayumurti, Toxics Program Manager Balifokus, Sabtu (24/3), dihubungi di Yogyakarta.

Karena itu, pemerintah dan industri pemanfaat RDF diminta mengedepankan kehati-hatian agar RDF tak memicu masalah. Jadi emisi udara yang dihasilkan dari pembakaran RDF harus dipantau secara ketat.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Alat berat dikerahkan untuk memadatkan dan mengelola tumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir Tritih Lor, Jeruk Legi, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (22/3/2018). Pemadatan ini untuk mengantisipasi kapasitas penampungan yang hampir penuh di tahun ini. Dari 6,3 ha luas TPA Tritih Lor, seluas 1,4 ha masih aktif dan mendekati penuh untuk menampung beban 150 ton harian sampah warga Cilacap. Pemda bersama pemerintah pusat dan bantuan hibah Denmark sedang membangun proyek pengolahan sampah Refused Derived Fuel untuk memanfaatkan sampah menjadi bahan bakar bagi industri semen Holcim sebagai alternatif pengganti batubara.Proyek ini akan selesai pada Oktober 2018. (KOMPAS/ICHWAN SUSANTO)

Di Cilacap, Kamis lalu, Lilik Rendra dari Geocycle, grup Holcim, mengatakan tanur pembakaran di pabrik semen memiliki suhu 2.000 derajat celcius untuk menghasilkan semen. Dioksin hancur di suhu 800 derajat celcius. “Jadi feeding dilakukan pada suhu di mana dioksin terbakar habis,” ungkapnya.

Jadi feeding dilakukan pada suhu di mana dioksin terbakar habis

Pemantauan emisi
Meski secara ilmiah ancaman dioksin bisa diabaikan, pihaknya memantau kandungan zat pada emisi setahun sekali. Itu lebih ketat dari aturan pemantauan emisi dioksin 4 tahun sekali.

Pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 19 Tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi bagi Usaha dan atau Industri Semen, terkait emisi dari industri semen berbahan bakar RDF, dipersyaratkan kandungan dioksin/furan (PCDD/F) maksimal 0,1 ng TEQ/Nm3. Jadi PCDD/F diukur tiap 4 tahun setelah fasilitas RDF beroperasi.

Namun pengelolaan RDF dan penjualannya belum jelas. Kun Nasython, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Cilacap menyatakan pihaknya harus mengikuti prosedur birokrasi dan administrasi melalui lelang.

Lilik menyatakan Holcim akan membeli jika harga RDF di bawah harga jual batubara. Holcim juga membandingkan harganya dengan bahan bakar lain yakni sekam padi seharga Rp 200.000- 250.000 per ton.

Menurut Kun, 4 pembangkit listrik tenaga uap di Cilacap bisa menyerap RDF. Meski demikian, pihaknya berharap pihak Holcim bisa menyerap bahan bakar dari sampah rumah tangga tersebut, karena perusahaan tersebut merupakan penggagas dan telah terlibat sejak awal dalam perencanaan pengolahan sampah untuk bahan bakar industri itu.–ICHWAN SUSANTO
Sumber: Kompas, 26 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: