Home / Berita / Dosen di Purwokerto Ciptakan Material Bangunan Berbahan Sampah

Dosen di Purwokerto Ciptakan Material Bangunan Berbahan Sampah

Djamaluddin Ramlan mengembangkan penelitian pemanfaatan sampah sebagai material bangunan. Sampah daun, sayur, dan buah dimanfaatkan menjadi batu bata, sedangkan sampah plastik diolah menjadi genting.

KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO–Djamaluddin Ramlan menunjukkan genting dan keramik dari sampah plastik, Selasa (14/1/2020), di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Djamaluddin Ramlan, pengajar Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang di Purwokerto, Jawa Tengah, mengembangkan penelitian pemanfaatan sampah organik serta anorganik sebagai bahan baku material bangunan. Sampah daun, sayur, dan buah dimanfaatkan menjadi batu bata, sedangkan sampah plastik diolah menjadi genting.

“Pengolahan sampah sampai saat ini tidak pernah tuntas, baik dibuat boneka, bunga, atau tas, pada akhirnya kembali jadi sampah lagi. Saya berpikir, bisakah sampah habis? Bagaimana sampah dijadikan bahan baku untuk produk (material),” kata Djamaluddin, Selasa (14/1/2020).

Djamaluddin menyampaikan, jika bisa diolah menjadi bahan bangunan, sampah akan habis. “Dengan begitu, lingkungan bersih, sampah tidak masalah lagi. Dengan jadi produk, bahan bangunan bisa didapat dengan murah dan mudah, dan yang lebih penting bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” tuturnya.

Djamaluddin memulai penelitian mengolah sampah menjadi genting, batu bata, dan lantai keramik sejak 2017. Pada mulanya, produk yang dihasilkan sering remuk atau pecah karena olahan sampah dicampur dengan semen.

Kini, dengan bahan perekat hemograf dari batuan alam, produk batu bata tidak remuk. “Setelah diuji di laboratorium, material ini bisa menahan beban sampai 3.000 kilogram,” tuturnya.

KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO–Batu bata dari olahan sampah organik karya Djamaluddin Ramlan di Purwokerto, Jateng, Selasa (14/1/2020).

Untuk pembuatan batu bata, sampah-sampah organik berupa rumput, sisa sayuran, dan buah digiling hingga lembut. Dalam takaran 1 kilogram limbah organik yang dicampur hemograf, kapur, dan pasir masing-masing 250 gram, bisa memproduksi 2,5 batu bata. Harga produksinya berkisar Rp 800 per buah.

“Setelah bahan dicampur kemudian dicetak dan dipres dengan mesin. Untuk menunggu keras, perlu waktu 2 sampai 7 hari. Prosesnya tanpa dibakar, hanya diangin-anginkan saja,” paparnya.

Adapun genting atau keramik dibuat dari limbah plastik. Limbah plastik dicacah terlebih dahulu kemudian dilelehkan di dalam panci baja selama 2 jam dan kemudian dicetak. “Untuk keramik ukuran 30 x 30 sentimeter (cm) dengan tebal 1 cm perlu plastik sebanyak 800 gram. Untuk genting, perlu plastik 1,3 kilogram,” tuturnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas Suyanto menyampaikan, akan dilakukan kerja sama untuk mengolah sampah menjadi material bangunan tersebut di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Banyumas.

“Menurut rencana, kami akan kerja sama pengolahan sampah di TPST yang akan dibangun di Wlahar, Banyumas. Di sana ada edukasi serta pembuatan produk olahan sampah,” kata Suyanto.

KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO–Djamaluddin Ramlan menunjukkan proses pembuatan batu bata dari sampah organik, di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (14/1/2020).

Pemerintah Kabupaten Banyumas terus menggencarkan pembangunan TPST supaya sampah tidak masuk ke tempat pembuangan akhir. Hingga akhir 2019, ada 16 TPST yang dibangun dengan kapasitas 4-10 ton sampah per hari. “Pada 2020 ini ditargetkan ada 27 TPST yang dibangun,” kata Suyanto.

Di Banyumas, jumlah kepala keluarga pada 2018 mencapai 456.510 dan sampah yang dihasilkan sekitar 536 ton per hari. Adapun volume total sampah di Banyumas mencapai 550-600 ton per hari.

Awal Desember lalu, Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Novrizal Tahar, saat berkunjung ke Purwokerto, mendorong pengelolaan sampah yang dimulai dari hulu supaya tidak membebani lingkungan.

“Visi kota, visi daerah ke depan dalam pengelolaan sampah harusnya memang mengurangi TPA (tempat pembuangan akhir). Kalau bisa nir-TPA, tidak ada TPA. Mengapa? Apalagi di Jawa, tanah semakin susah, semakin mahal sehingga memang kita harus bergerak ke hulu, bagaimana semaksimal mungkin kita harus mengurangi sampah,” kata Novrizal saat itu.

Oleh WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO

Editor: MOHAMAD FINAL DAENG

Sumber: Kompas, 14 Januari 2020

Share
x

Check Also

Antisipasi Dampak Peningkatan Suhu dan Kelembaban

Indonesia bakal mengalami peningkatan suhu dan kelembaban akibat pemanasan global. Dua risiko yang dihadapi adalah ...