Home / Berita / Telur Berdioksin dari Dollar Sampah

Telur Berdioksin dari Dollar Sampah

Hasil penelitian di luar negeri yang menunjukkan kandungan dioksin dan senyawa polutan organik persisten pada telur ayam buras di Desa Bangun di Mojokerto dan Tropodo di Sidoarjo Jawa Timur, mengejutkan. Hingga dua pekan setelah temuan itu, aktivitas di lapangan belum banyak berubah meski para perajin tahu di Tropodo setempat mendeklarasikan penghentian penggunaan bahan bakar sampah plastik, Selasa (26/11/2019).

KOMPAS–Seorang pekerja memasukkan sampah plastik impor residu pabrik kertas daur ulang ke dalam tungku untuk memasak kedelai pada proses produksi tahu di sentra industri Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jatim, Selasa (19/11/2019). Pengusaha tahu memilih sampah plastik sebagai bahan bakar karena harganya murah.

Mereka terkendala pada proses penggantian alat produksi pabrik yang tak mudah. Para perajin telanjur bergantung pada suplai bahan bakar sampah plastik yang jauh lebih murah. Itu membuat perajin kesulitan kembali memakai kayu, apalagi bahan bakar gas industri dinilai terlalu mahal dan memberatkan.

Deklarasi yang dilakukan perajin tahu ini dilakukan untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik. Mahfum saja, para pengusaha tahu ini jadi sasaran tudingan karena dianggap sebagai penyebab kontaminasi serius tersebut. Partikel asap pembakaran sampah plastik ini yang diduga mengontaminasi tanah sekitar. Ayam kampung yang memiliki kebiasaan mematuk makanan di tanah akan mencernanya dalam pencernaan.

Hal ini menjadikan ayam sebagai sampel aktif dari keberadaan kimia-kimia dalam tanah. Sebagian besar zat kimiawi ini dikenal sebagai polutan organik yang persisten (persistent organic pollutants atau POPs) larut dalam lemak dan berakumulasi dalam telur, yang memiliki kandungan lipid signifikan.

Oleh karena itu, telur ayam yang bebas kandang bisa digunakan untuk mengungkapkan dan mengukur pencemaran POPs. Kandungan kimiawi dapat mengungkapkan jalur pajanan lewat makanan, mulai dari sumber pencemar ke tanah, lalu ke telur.

KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTI–Pengusaha tahu Desa Tropodo deklarasi stop penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar produksi, Selasa (26/11/2019).

Hal itu membuat jaringan global untuk advokasi kebijakan dan kesehatan lingkungan atau International Pollutant Elimination Network (IPEN) bersama Arnika Association dan organisasi nonpemerintah di Indoneisa, Nexus3 dan Ecoton, mengambil sampel 6 telur dari Tropodo dan Bangun untuk diuji kandungan senyawa organik polutan persisten (POPs), termasuk dioksin. Hasilnya pun sangat mencengangkan.

Dalam laporan mereka, “Limbah Plastik Meracuni Rantai Makanan Indonesia,” hasil uji laboratorium tersebut sangat mencengangkan. Tingkat dioksin dalam telur dari Tropodo (200 pg TEQ g-1 lemak) hampir sama dengan tingkat dioksin tertinggi dalam telur dari Asia (248 pg TEQ g-1 lemak) yang terjadi di situs Bien Hoa di Vietnam, bekas pangkalan udara tentara Amerika Serikat, tempat tanah itu terkontaminasi penggunaan Agent Orange yang bersejarah. Sementara telur dari desa Bangun memiliki kandungan dioksin 10,8 pg TEQ g-1 lemak.

“Jumlah kandungan melebihi 200 pg TEQ g-1 lemak itu jauh melebihi batas maksimal yang direkomendasikan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), yaitu 2-4 pg TEQ g-1 lemak per hari,” kata Agus Haryono, Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia serta anggota POPs Review Committe di Konvensi Stockholm.

KOMPAS–Sejumlah pekerja memasak kedelai untuk produksi tahu di sentra industri tahu Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jatim, Selasa (19/11/2019). Sentra industri ini menggunakan bahan bakar sampah plastik impor residu pabrik kertas daur ulang selama lebih dari 10 tahun dan masih berlangsung hingga sekarang

Dampak bagi kesehatan
Kandungan POPs yang jauh melebihi batas maksimal ini seharusnya menggugah kekhawatiran. Keberadaan senyawa POPs ini bisa masuk dalam jaringan tubuh manusia serta menyebabkan berbagai kerusakan organ dalam serta meningkatkan risiko kanker.

Agus Haryono menyatakan sumber emisi dioksin di negara sedang berkembang umumnya berasal dari aktivitas pembakaran yang tak terkelola (untreated burning activities). Berbeda dengan emisi dioksin di negara maju, yang berasal dari kegiatan di industri.

Karena itu, kandungan dioksin yang amat tinggi pada telur kemungkinan besar disebabkan emisi dari pembakaran limbah plastik yang digunakan sebagai bahan bakar pada industri tahu sekitar. Menurut pengakuan pengusaha tahu di Tropodo, pembakaran sampah plastik untuk industri tahu ini telah berlangsung selama 20 tahun.

Ironisnya lagi sampah-sampah plastik tersebut merupakan residu impor limbah kertas yang didatangkan perusahaan daur ulang kertas di Jawa Timur. Limbah-limbah kertas – yang sejatinya juga adalah sampah di negeri asalnya – bercampur dengan sampah plastik hingga mencapai 70 persen.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Petugas Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Surabaya Reza Zulkarnain melakukan tes kadar pencemaran udara di lokasi Sentra Pembuatan Tahu dengan bahan bakar plastik impor di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (26/11/2019). International Pollutants Elimination Network (IPEN) melakukan penelitian terhadap sejumlah sampel telur ayam kampung milik warga yang sehari-harinya mencari makan di tumpukan sampah di kawasan tersebut telurnya memiliki tingkat kontaminasi racun dioksin. Saat ini sekitar 50 perajin tahu siap tidak menggunakan sampah plastik asal pemerintah memberikan solusi bahan bakar pengganti yang murah.Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Dalam pernyataan resminya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menyatakan “Soal sampah yang diselundupkan bukan hanya soal melanggar UU, tapi juga mengancam generasi bangsa. Bapak Presiden sangat menaruh perhatian soal ini, beliau memikirkan lebih dari sekedar soal pelanggaran UU saja,” kata dia, 25 November 2019.

Ia menugaskan Tim KLHK bersama para ahli juga turun langsung ke Desa Bangun, Mojokerto, dan Desa Tropodo, Sidoarjo untuk menguji kandungan dioksin pada telur tersebut. ”Semuanya akan didalami secara akademik. Termasuk soal dampak pembakaran. Saya juga ingin mengetahui hasil studi yang menyebutkan bahwa ada dioksin dalam telur ayam. Kita akan lihat semua hasil studinya nanti,” ungkapnya.

Impor kotor industri daur ulang kertas di Jatim yang diungkap awalnya oleh Yayasan Ecoton awal tahun ini membuka tabir bahwa kasus-kasus serupa juga terjadi di Karawang dan Tangerang serta industri daur ulang plastik di Batam. Bahkan kasus ratusan kontainer berisi sampah ini jadi perhatian Presiden Joko Widodo yang memerintahkan pemanfaatan potensi sampah dalam negeri.

Seorang pekerja mengambil sampah plastik impor residu pabrik kertas daur ulang untuk dimasukkan ke dalam tungku untuk memasak kedelai pada proses produksi tahu di sentra industri Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jatim, Selasa (19/11/2019). Pengusaha tahu memilih sampah plastik sebagai bahan bakar karena harganya murah.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan dari 2.194 kontainer yang masuk ke Indonesia, KLHK sudah mengirim kembali (re-ekspor) 883 kontainer ke negara asal. Namun sayangnya, sanksi bagi importir nakal yang telah beroperasi selama bertahun-tahun ini baru sebatas reekspor.

Sanksi berupa pidana atau perdata untuk membersihkan seluruh kontaminan sampah plastik impor yang mengotori lingkungan dan membuka peluang pembakaran tak dilakukan. Padahal ketika penggunaan bahan bakar sampah plastik dihentikan, sampah-sampah tersebut ujungnya akan membebani tempat pemrosesan akhir (TPA) yang dibiayai anggaran pemerintah maupun berakhir di sungai dan lautan yang merugikan banyak orang.

Pemerintah hanya mengancam akan menindak bila tindakan tersebut diulang. Dalih pemerintah lagi, reekspor itu pun berupa sanksi karena seluruh biaya pemulangannya ditanggung si importir (kecuali importir memiliki perjanjian reekspor dengan eksportir di negara asal). Terkesan tak ada keadilan bagi masyarakat, peternak ayam dan perajin tahu yang menjadi korban langsung maupun tak langsung dari aktivitas impor sampah tersebut.

KOMPAS/PANDU WIYOGA–Tim gabungan petugas Bea dan Cukai Kota Batam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam meninjau tujuh kontainer sampah plastik yang terkontaminasi limbah berbahaya dan sampah jenis lain di Batam, Kepulauan Riau, Senin (29/7/2019). Ketujuh kontainer yang diimpor PT Arya Wiraraja Plastikindo sebagai bahan baku daur ulang itu akan direkspor ke Perancis dan Hong Kong.

Penegakan hukum
Tetapi kabar baiknya, upaya agar kejadian impor bahan baku daur ulang bercampur sampah tersebut telah diupayakan pemerintah. Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan No 84 tahun 2019 tentang Ketentuan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun Sebagai Bahan Baku Industri yang menggantikan Peraturan Menteri Perdagangan No 31 tahun 2016.

Dibandingkan peraturan sebelumnya, pemerintah memperketat syarat bahan baku industri yang dapat diimpor tersebut. Syarat itu diantaranya bukan sampah dan tidak tercampur sampah, tidak terkontaminasi, dan homogen. Peraturan baru tersebut juga memberikan kriteria lebih jelas bahan baku bukan berasal dari landfill serta bukan sampah dan tidak tercampur sampah yaitu tidak tercampur tanah dan bersih.

Sebagus apa pun peraturannya, pelaksanaan di lapangan yang akan sangat menentukan. Kapasitas dan integritas aparat petugas kepabeanan, pengawas lingkungan, dan surveyor serta niat baik industri menjadi penentu berulang atau tidaknya impor sampah yang telah mengorbankan kualitas kesehatan dan lingkungan kita.

Oleh ICHWAN SUSANTO DAN RUNIK SRI ASTUTI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 28 November 2019

Share
x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: