Home / Artikel / Bank Sperma Unggas Lokal

Bank Sperma Unggas Lokal

UNGGAS lokal memiliki beberapa kelebihan, antara lain lebih tahan terhadap penyakit, mudah beradaptasi/ tidak mudah stres, harga produk lebih mahal, dan memiliki pangsa pasar tersendiri.

Produk unggas lokal tidak banyak mengandung lemak dan memiliki cita rasa yang disukai masyarakat Indonesia.

D i samping itu, cocok dikembangkan peternak di pedesaan karena tidak memerlukan pemeliharaan yang rumit. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan protein hewani guna menyehatkan dan mencerdaskan bangsa, pemerintah melakukan kebijakan mengimpor bibit ayam ras karena pertumbuhan dan produksi telur ayam ras  lebih tinggi daripada ayam lokal.  Kebijakan tersebut dapat menimbulkan dampak negatif yaitu  posisi unggas lokal tersingkirkan oleh ayam ras. Bahkan mungkin suatu saat kita malah tidak memiliki unggas lokal. Haruskah ini dibiarkan? Tentunya tidak.

Provinsi Jawa Tengah memiliki aneka ragam ternak unggas lokal, di antaranya ayam kedu, ayam buras/ kampung, itik tegal, dan itik magelang. Ayam kedu ’’berasal’’ dari Kabupaten Temanggung dan merupakan salah satu plama nutfah yang harus dijaga kelestariannya. Ayam kedu termasuk tipe dwiguna karena memiliki bobot badan dan produksi telur  tinggi. Produksi telur ayam kedu  lebih tinggi dibanding dengan ayam lokal lain. Warna bulu ayam kedu sangat bervariasi. Bahkan ayam kedu cemani (semua organ tubuh berwarna hitam) harganya sangat tinggi. Produksi telur ayam kedu bisa 215 – 230 butir/ekor/tahun.

Itik tegal berkembang di sepanjang pantai utara Jawa Tengah, sedangkan itik magelang berkembang di sekitar Eks Karesidenan Kedu. Produksi telur itik tegal 150 – 250 butir/ekor/tahun, sedangkan itik Magelang sekitar 200 butir/ekor/tahun. Itik jantan biasanya dimanfaatkan sebagai ternak potong sehingga populasi makin turun.

Pendapatan Daerah

Ayam dan itik merupakan sumber protein hewani yang baik dan relatif murah. Di samping itu, daging dan telur ayam serta itik mengandung asam amino, vitamin dan mineral yang lengkap sehingga sangat baik sebagai sumber gizi keluarga. Kandungan protein daging ayam sekitar 20%, sedangkan kandungan protein daging itik sekitar 21%. Telur ayam dan telur itik mengandung protein sekitar 13%. Kadar lemak telur ayam lebih rendah ketimbang telur itik.

Perkembangbiakan unggas lokal (ayam dan itik) umumnya relatif lamban dibanding unggas ras. Hal ini disebabkan oleh produksi telur unggas lokal yang relatif rendah dan adanya sifat mengeram pada ayam lokal. Umumnya unggas lokal dipelihara dalam skala kecil dan kurang memperhatikan manajemen reproduksi. Tujuan pemeliharaan untuk memproduksi telur konsumsi (bukan telur tetas) sehingga sering terjadi ketidaktersediaan anak ayam (kuthuk) maupun anak itik (meri).

Untuk mendapatkan telur tetas, induk harus dikawini pejantan. Perkawinan dapat dilakukan secara alami atau inseminasi buatan. Penggunaan teknologi inseminasi buatan terbukti lebih efisien ketimbang kawin alam. Inseminasi buatan dapat dilakukan dengan menggunakan semen segar atau semen beku. Sperma unggas cepat mati jika tidak dilakukan penyimpanan dengan baik. Pembuatan semen beku merupakan cara menyimpan sperma agar tidak cepat ’’mati’’. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan semen beku untuk inseminasi ternak ayam mampu menghasilkan telur fertil sekitar 75-85%.

Sampai saat ini tidak banyak pengusaha tertarik di bidang pembibitan unggas lokal. Pemerintah juga masih lebih banyak berkonsentrasi pada ternak ruminansia, terutama sapi. Karena itu mestinya Jawa Tengah harus berani memulai membuat semen beku dari berbagai unggas lokal untuk disimpan sehingga merupakan bank sperma. Indonesia, termasuk Jawa Tengah, memiliki sejumlah ahli di bidang breeding dan reproduksi ternak, termasuk unggas.

Bank sperma merupakan solusi untuk menjaga dan meningkatkan populasi unggas lokal. Untuk itu, perlu dilakukan seleksi pejantan unggas lokal yang unggul dengan ciri-ciri pertumbuhan cepat, daya hidup tinggi, dan produksi sperma tinggi dengan kualitas baik.

Kemudian dilakukan proses pembekuan semen untuk disimpan. Pembuatan semen beku merupakan solusi tepat untuk menjaga dan meningkatkan populasi ternak lokal agar tidak punah dan mungkin dapat digunakan sebagai sumber dana daerah. (10)

Ir Sri Kismiati MP, staf pengajar pada Laboratorium Ilmu Ternak Unggas Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro

Sumber: Suara Merdeka, 8 Oktober 2011

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: