Home / Profil Ilmuwan / Ismu Sutanto Penyelamat Penyu Hijau

Ismu Sutanto Penyelamat Penyu Hijau

Ismu Sutanto Suwelo (64) bukan ”kura-kura ninja”, pahlawan pemberani pembela kebenaran dalam film anak-anak. Tetapi, selama puluhan tahun, mantan dosen biologi Universitas Indonesia ini keluar-masuk hutan pantai di berbagai wilayah Tanah Air untuk menyelamatkan penyu hijau, hewan langka dilindungi yang hanya hidup di daerah tropis dan subtropis.

”Tidak bisa dibayangkan jika suatu saat penyu musnah di Indonesia karena diburu terus-menerus,” ujar Ismu yang mulai meneliti penyu sejak tahun 1964. Maklum, dari tujuh jenis penyu di dunia, enam di antaranya terdapat di Indonesia. Karena itu, Indonesia menjadi sorotan sekaligus tempat penelitian para peminat penyu dari seluruh dunia.

Tahun 1996, alumni Biologi UI 1968 ini mendirikan Yayasan Pelestarian Penyu untuk menyelamatkan populasi dan habitat penyu hijau (Chelonia mydas). ”Saya sedih melihat penyu kini diburu, dibunuh dan diperdagangkan sesuka hati,” kata pengajar di Pusdiklat Kehutanan Departemen Kehutanan sejak tahun 1989 ini dengan nada prihatin.

Padahal untuk menjaga populasi penyu tidaklah mudah. Minimal butuh waktu 20 tahun untuk membuat seekor anak penyu atau tukik beranjak dewasa dan bertelur. Usia produktif bertelur penyu sendiri antara 20-100 tahun, dengan produksi sekali bertelur 100-240 butir (harga jualnya Rp 2.000 per butir) dalam waktu satu jam. Penyu umumnya bertelur tiga kali dalam setahun, atau sekitar 300-720 butir. Dari jumlah sebanyak itu, tidak semuanya bisa menjadi tukik, akibat banyaknya predator pemangsa telur di pantai. Kalaupun menjadi tukik, secara alamiah hanya lima persen yang bisa bertahan hingga dewasa.

”Karena itu ditambah dengan perburuan yang terus-menerus, populasi penyu bisa semakin menyusut,” ujar pengajar di Universitas Nasional dan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

20160928_065638wKEPRIHATINAN Ismu Sutanto terhadap penyu sudah dimulai sejak tahun 1964, ketika dosennya di Universitas Indonesia, Prof Dr Sumadikarta, melakukan penelitian tentang populasi penyu hijau di Pantai Pangumbahan, Sukabumi Selatan, Jabar. Ismu Sutanto diajak serta.

Pengalaman pertama menyaksikan penyu-penyu hijau ukuran raksasa yang panjangnya 70-140 cm atau seukuran meja, membuat Ismu Sutanto menjadi tertarik, Namun ketertarikan ini disertai keprihatinan, karena saat itu sudah mulai terjadi perburuan terhadap penyu hijau, walaupun saat itu jenis penyu hijau belum termasuk binatang yang dilindungi. .

Ismu Sutanto merasa yakin suatu saat jenis penyu hijau akan punah jika perburuan terus berlangsung. Karena itulah Ismu kemudian menyusun skripsi tentang pola hidup dan karakteristik habitat penyu hijau di Pantai Pangumbahan. Untuk menyusun skripsinya, Ismu perlu tinggal dua bulan lebih di Pantai Pangumbahan yang saat itu masih berupa hutan lebat. Tak jarang dia harus bolak-balik Jakarta-Sukabumi-Pantai Pangumbahan jika bahan skripsinya kurang lengkap. Padahal 120 km jalan antara Sukabumi -Pantai Pangumbahan saat itu masih berupa jalam tanah dan batu berpasir yang membelah hutan. Terpaksa, Ismu harus membonceng jip yang biasa digunakan petugas pemberantas nyamuk malaria di daerah-daerah terpencil.

Karena kerap tinggal di hutan pantai, lelaki kelahiran Nganjuk (Jatim) 26 J anuari 1935 ini tak ,urung sering terserang malaria ”Namun hal itu tidak menjadi masalah, yang penting saya bisa salasai menyusun skripsi tentang penyu hijau, ” ujar lulusan Jurusan Biologi Universitas Indonesia 1968, yang begitu lulus langsung bergabung di almamaternya sebagai pengajar.

Posisinya sebagai pengajar memungkinkan dia mengajak mahasiswanya ke Pantai Pangumbahan untuk menyadarkan pentingnya pelestarian penyu hijau. Wawasannya tentang penyu hijau semakin bertambah, ketika ayah tiga anak ini sejak, 1980 bekerja di Departemen Kehutanan. Posisi itu memungkinkannya berkeliling ke berbagai wilayah Tanah Air guna memperdalam kehidupan berbagai jenis penyu.

PANTAI Pangumbahan sengaja dipilih, karena selama puluhan tahun Pantai Pangumbahan merupakan tempat mendarat dan bertelur penyu hijau terbesar di Pulau Jawa. Tidak kurang dari 3.000 ekor penyu hijau mendarat dan bertelur di sepanjang pantai ini dengan produksi telur bisa mencapai sejuta butir telur setahun.

Pantai ini menjadi tempat favorit mendarat dan bertelur bagi penyu hijau, karena kondisi alamnya sangat mendukung. Selain terdiri atas hamparan pasir yang sangat luas, pantai ini dilindungi hutan pohon ketapang dan akasia yang lebat, serta menghadap langsung Samudera Indonesia yang luas.

Di pantai inilah Ismu Sutanto selain membimbing mahasiswanya dalam mengenal kehidupan penyu –dua minggu sekali– juga mencoba menetaskan telur penyu secara alamiah menjadi tukik (anak penyu) dan melepaskannya ke laut guna melestarikan penyu hijau. Upaya pelestarian yang semula dilakukan secara mandiri, sejak tahun 1996 makin terorganisir setelah Ismu bersama beberapa kawannya mendirikan Yayasan Pelestarian Penyu yang bermarkas di Pantai Pangumbahan.

Meski Pantai Pengumbahan kini dikuasai dan dikelola perusahaan swasta, bukan berarti upayanya melestarikan penyu lalu menjadi terhenti. Justru upayanya seolah mendapat dukungan, karena perusahaan swasta tersebut selain diberi kewenangan memungut dan menjual telur penyu, juga disertai kewajiban menetaskan 20.000 butir telur penyu setiap tahun menjadi tukik dan melepaskannya ke laut. Dari telur yang ditetaskan secara alamiah dengan cara ditimbun di pasir pantai selama 45-55 hari, sekitar 98 persen di antaranya berhasil menetas menjadi tukik. Hanya dalam usia seminggu, tukik tersebut dilepas ke pantai agar bisa hidup normal di lautan lepas sesuai habitatnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannnya, penyu hijau memiliki instink yang sangat kuat, sehingga ketika akan bertelur pada usia 20-100 tahun, ia akan kembali ke tempat dia ditetaskan. Selama 20 tahun menjelang dewasa, penyu hijau akan mengembara dilautan lepas ke seluruh wilayah yang dia mampu. Dari penyu yang diberi tanda atau tag di ketiaknya, ternyata penyu hijau asal Pangumbahan Sukabumi bisa mendarat di Ujungkulon dan Garut Selatan, bahkan hingga ke Nusa Tenggara dan Australia.

”Gangguan terbesar justru setelah tukik dilepas ke laut. Karena setelah berada di laut, tukik yang bisa bertahan hidup hingga dewasa hanya sekitar lima persen. Sisanya dimangsa hewan laut, tertangkap nelayan atau sengaja diburu manusia,” kata ayah tiga orang anak ini.

Kini yang mencemaskan Ismu Sutanto bukan turunnya produksi telur penyu, tetapi rusaknya habitat penyu hijau di Pantai Pangumbahan itu. Hutan pohon akasia dan ketapang yang banyak terdapat di daerah tersebut satu per satu ditebang dan kemudian di atasnya dibangun hotel, Vila, dan tambak udang.

Ismu Sutanto memang bukan kura-kura ninja yang dengan gampangnya mampu mengatasi semua masalah, termasuk pengrusakan habitat penyu hijau. Keselamatan habitat penyu hijau kini akhirnya menjadi tanggung jawab bersama. (try harijono)

Sumber: Kompas, Kamis, 15 Juli 1999

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: