Home / Berita / Intensitas Hujan Lebih Ringan, Banjir di Jakarta dan Sekitarnya Meluas

Intensitas Hujan Lebih Ringan, Banjir di Jakarta dan Sekitarnya Meluas

Hujan di Jakarta dan sekitarnya, Senin (24/2/2020) malam hingga Selasa pagi, tak selebat pada awal Januari 2020 dan lebih terkonsentasi di pusat kota. Namun, titik banjir yang menggenangi Jakarta kali ini lebih banyak.

Intensitas hujan di Jakarta dan sekitarnya tidak selebat pada awal Januari 2020 lalu. Volume air dari luar Jakarta juga relatif lebih kecil karena hujan lebih terkonsentasi di pusat kota. Namun, titik banjir yang menggenangi Jakarta kali ini lebih banyak.

”Kondisi curah hujan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Jabodetabek hari ini cukup merata terjadi dari wilayah selatan hingga utara dengan intensitas tertinggi terukur pada 25 Februari pukul 07.00 di wilayah Kemayoran, yaitu 278 mm (per hari),” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di Jakarta, Selasa (25/2/2020).

Sebagai perbandingan, curah hujan tertinggi di Jakarta saat banjir pada awal Januari lalu mencapai 377 mm per hari, terekam di Bandara Halim Perdana Kusuma. Curah hujan saat itu merupakan yang tertinggi dalam sejarah pencatatan di Jakarta.

”Hujan kali ini rata-rata masih sedikit lebih rendah dibandingkan dengan awal Januari lalu. Konsentrasi hujan ekstrem juga tidak sebanyak pada awal tahun lalu,” kata Kepala Bidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto.

Sekalipun fenomena hujan ekstrem kecil, sebarannya relatif lebih merata di wilayah Jakarta, khususnya Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan. Misalnya, curah hujan di Manggarai kali ini mencapai 216,5 mm per hari dibandingkan dengan 85,5 mm per hari di lokasi yang sama pada 1 Januari. Di Pulogadung kali ini 260 mm per hari, sementara pada 1 Januari 110 mm per hari.

–Curah hujan di Jakarta pada 25 Februari dibandingkan dengan awal Januari 2020. Sumber: BMKG

”Melihat curah hujannya, banjir kali ini lebih disebabkan hujan besar di Jakarta sendiri dan air dari hulu relatif kecil kontribusinya. Dibandingkan dengan awal Januari lalu, intensitas hujan di daerah selatan Jakarta, yang menjadi hulu-hulu sungai, kurang dari 100 mm per hari. Kali ini lebih kecil lagi,” tambah Siswanto.

Sebaran lebih luas
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan, sekalipun hujan lebih kecil, sebaran banjir kali ini lebih luas dibandingkan dengan awal Januari 2020. ”Ini menunjukkan penurunan daratan di Jakarta karena pengambilan air tanah bisa membuat semakin rentan banjir selain pengelolaan lingkungan. Karena itu, solusinya harus menyeluruh,” katanya.

Berdasarkan data BNPB, banjir kali ini terjadi di 23 kelurahan di Jakarta Timur, 5 kelurahan di Jakarta Barat, 12 kelurahan di Jakarta Pusat, 6 kelurahan di Jakarta Utara, dan 8 kelurahan di Jakarta Selatan dengan ketinggian air maksimal berkisar 1-2,5 meter. Sementara di Kota Bekasi terdapat 6 kelurahan dan di Kabupaten Bekasi terdapat 9 desa yang kebanjiran dengan ketinggian air maksimal 1-1,5 meter. Di Kota Tangerang terdapat 2 kelurahan yang kebanjiran dengan ketinggian air maksimal 1,5 meter.

Total jumlah pengungsi 235 keluarga atau 1.391 jiwa dan yang terdampak mencapai 10.402 orang. Jumlah pengungsi terbanyak terdapat di Jakarta Timur, yaitu mencapai 758 orang dan total yang terdampak 7.948 orang.

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Polisi mengatur lalu lintas ruas Jalan Tol Jakarta-Cikampek Kilometer 9 arah Jakarta yang terendam banjir, Selasa (25/2/2020) pukul 08.15 di Kota Bekasi, Jawa Barat. Banjir menggenangi sebagian Jabodetabek setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejak Selasa (25/2/2020) dini hari.

Siklon tropis
Dwikorita mengatakan, hujan lebat yang terjadi di wilayah Jabodetabek beberapa hari terakhir terutama dipicu faktor dinamika atmosfer skala lokal, yaitu adanya pembentukan pola konvergensi atau pertemuan massa udara di wilayah Jawa bagian barat, termasuk wilayah Jabodetabek.

Keberadaan badai tropis Ferdinand yang mulai terdeteksi pada 24 Februari yang lalu di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat serta sirkulasi angin di wilayah Samudra Hindia Barat Daya Banten menyebabkan pembentukan pola pertemuan massa udara itu. Pola ini memanjang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Bali, NTB, dan NTT. Belokan angin juga terpantau terbentuk di sekitar wilayah Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab mengatakan, potensi hujan degan intensitas lebat hingga sangat lebat masih bisa terjadi hingga tiga hari ke depan. ”Untuk musim hujan sendiri masih dapat berlangsung sampai bulan April,” katanya.

Perkiraan BMKG, hujan kategori sedang hingga lebat periode 25 Februari-1 Maret 2020 dapat terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Kep Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 25 Februari 2020

Share
x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...