Home / Berita / Inovasi Gogobli Memutus Rantai Distribusi Penjualan

Inovasi Gogobli Memutus Rantai Distribusi Penjualan

Platform e-dagang Gogobli.com menciptakan inovasi untuk memutus rantai distribusi penjualan produk kesehatan dan kecantikan. Gogobli menjembatani konsumen untuk mendapatkan produk langsung dari produsen sehingga harga yang didapatkan lebih murah.

Chief Operation Officer PT Gogobli Asia Teknologi Joe Hansen, di Jakarta, Senin (29/1), mengatakan, Gogobli.com merupakan platform e-dagang pertama di Indonesia yang memfokuskan usahanya pada penjualan produk kesehatan dan kecantikan.

Berbeda dengan platform e-dagang lain yang dianggap mematikan usaha konvensional, Gogobli hadir dengan konsep menjadi penghubung, baik antara produsen dan konsumen (business to consumen) maupun produsen ke penjual (business to business).

KURNIA YUNITA RAHAYU–Chief Operating Officer PT Gogobli Asia Teknologi Joe Hansen di Jakarta, Senin (29/1).

”Dengan menggunakan teknologi, kami ingin memberikan keuntungan kepada produsen, penjual, dan konsumen sekaligus,” kata Joe.

Platform e-dagang Gogobli.com hadir dalam dua versi, yaitu versi desktop untuk memfasilitasi konsumen dan versi aplikasi untuk memfasilitasi penjual. Kedua versi itu menampilkan harga yang berbeda.

”Konsumen dan penjual akan mendapatkan harga yang bagus (lebih murah) karena barang langsung dari produsen,” ujar Joe.

Ia melanjutkan, produsen juga mendapatkan keuntungan, salah satunya mendapatkan pembayaran secara kontan. Jika penjualan dilakukan melalui distributor konvensional, pembayaran biasanya tertunda. (DD01)

Sumber: Kompas, 29 Januari 2018
———–

Agar E-dagang Tak Mematikan Toko Konvensional

KURNIA YUNITA RAHAYU–Chief Operating Officer Gogobli.com Joe Hansen di Jakarta, Senin (29/1).

Sejak platform e-dagang mengemuka, setidaknya terdapat tiga model bisnis yang berkembang. Ada platform e-dagang yang menjadi wadah bagi produsen dan penjual besar untuk menjual barangnya langsung ke konsumen.

Ada juga produsen yang menjadi penjual sekaligus dengan menggunakan platform e-dagang. Kini, berkembang pula platform e-dagang yang memosisikan dirinya sebagai penghubung antara produsen dan toko serta konsumen.

Salah satunya ialah Gogobli.com. Platform e-dagang milik PT Gogobli Asia Teknologi itu mengembangkan konsep sebagai perantara, baik antara produsen dan konsumen (business to consumen) maupun antara produsen dan toko (business to business).

Adapun komoditas yang dijual berfokus pada produk kesehatan dan kecantikan.

“Kami tidak ingin kehadiran e-dagang mematikan para penjual konvensional. Oleh karena itu kami ingin membantu transisi mereka ke bisnis digital,” kata Chief Operating Officer Gogobli Joe Hansen di Jakarta, Senin (29/1).

Kami tidak ingin kehadiran e-dagang mematikan para penjual konvensional. Oleh karena itu kami ingin membantu transisi mereka ke bisnis digital.

Melalui Gogobli, toko-toko mendapat harga produk yang lebih murah. Sebab, Gogobli bekerja sama secara langsung dengan perusahaan produsen.

Pasokan barang yang didapat dari perusahaan, disimpan di gudang transit sebelum dikirimkan ke toko-toko. Sejumlah barang yang disimpan di gudang transit itu pun sudah pasti terjual.

“Ada barang yang memang disimpan setelah ada pesanan, tetapi kami juga menyetok barang yang sifatnya fast moving,” ujar Joe.

Meski demikian, kata Joe, Gogobli memastikan barang yang dijual terjamin keasliannya.

Gogobli memeriksa status barang di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), baik soal registrasi maupun tanggal daluwarsa. Bahkan, pihaknya meminta salinan surat keterangan BPOM untuk setiap barang.

“Kalau ada barang yang status registrasinya masih dalam proses, kami memastikan kapan pengurusannya akan selesai,” kata Chief Executive Officer Gogobli Joyce Lim. Joyce menambahkan, pihaknya akan bekerja sama dengan agensi khusus yang bertugas memeriksa validitas status barang di BPOM.

KURNIA YUNITA RAHAYU–Chief Executive Officer Gogobli.com Joyce Lim di Jakarta, Senin (29/1).

Keunggulan-keunggulan itu, ujar Joe, juga didapatkan pembeli perorangan. “Oleh karena itu, kami menghadirkan platform e-dagang yang menghubungkan tiga pihak sekaligus,” ucapnya.

Ia menambahkan, dengan konsep itu pula, Gogobli memotong jalur distribusi produk yang kerap menjadi momok. Semakin panjang jalur distribusi, semakin mahal harga barang yang sampai di konsumen.

Model bisnis yang diterapkan Gogobli rupanya membawa keuntungan besar. Sejak didirikan pada 2016 hingga saat ini, Gogobli sudah bekerja sama dengan 500 merek.

Selain itu, platform e-dagang ini juga telah bermitra dengan 15 ribu toko yang tersebar di Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten. Platform e-dagang ini juga telah mendapatkan investasi miliaran Dollar AS dari OSK Venture International Berhad.

Pendiri Gogobli Halim H menargetkan, perusahaannya akan mendapat investasi sebesar 50—100 Dollar AS dalam waktu satu hingga dua tahun ke depan.

Sejumlah investasi itu rencananya digunakan untuk mengembangkan teknologi digital, memperkuat tim, serta menambah gudang.

Kontribusi penjualan melalui platform e-dagang baru mencapai dua persen dibanding penjualan konvensionalnya. Namun, perkembangannya sangat terasa.

“Kami yakin, dalam waktu satu hingga dua tahun bisa menjadi unicorn,” kata Halim. Keyakinan Halim didasarkan pada prospek bisnis yang besar meskipun saat ini capaiannya masih kecil.

Digital Media BRAND’s Saripati Ayam Priyono Catur Nugroho mengatakan, kontribusi penjualan melalui platform e-dagang baru mencapai dua persen dibanding penjualan konvensionalnya. Namun, menurut dia perkembangannya sangat terasa.

Revenue growth Gogobli sendiri naik 2.530 persen sejak Mei 2016 – Desember 2017. Rata-rata pemesanan kembali dalam periode waktu yang sama lebih dari 93,35 persen.

Bagi Head Marketing and Communication NMW Skin Care Theodorus Daniel, penjualan barang melalui plarform e-dagang menguntungkan di dalam konteks masyarakat Indonesia yang telah melek teknologi. Platform e-dagang pun membantu masyarakat untuk berbelanja lebih efisien.

KURNIA YUNITA RAHAYU–Pendiri Gogobli.com Halim H di Jakarta, Senin (29/1).

Perkuat produk lokal
Secara terpisah, Peneliti Komunikasi dan Teknologi Informasi (ICT) serta ekonomi digital United Nations University-Electronic Governance Ibrahim Kholilul Rohman mengatakan, model bisnis yang berusaha memutus rantai pasok yang panjang perlu diapresiasi.

Dengan memutuskan rantai pasok, nilai tambah dalam sebuah barang akan semakin besar. Harga pun menjadi murah.

Model bisnis yang berusaha memutus rantai pasok yang panjang perlu diapresiasi.

Namun, bagi Ibrahim, masih ada hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan daya saing produk lokal. Menurut dia, dari seluruh platform e-dagang yang ada di Indonesia, hanya ada enam persen yang menjual produk lokal. Sebanyak 94 persen lainnya justru menjual barang impor.

“Jika kondisinya demikian, platform e-dagang hanya menjadi trading hub dari luar negeri,” ujar Ibrahim. Kesejahteraan juga hanya akan didapat oleh pemilik platform e-dagang, tetapi produsen lokal tidak mendapatkan keuntungan.(DD01)

Sumber: Kompas, 30 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: