Indonesia-Jerman Bekerja Sama Mengelola Gambut di Kalimantan Utara

- Editor

Jumat, 12 Juni 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia-Jerman mengimplementasikan berbagai kerja sama bilateral, di antaranya terkait perlindungan gambut melalui Project PROPEAT. Kerja sama KLHK dan GIZ ini berlangsung hingga 2021 di Kalimantan Utara.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO—Anggota staf CIMTROP dan BNF menanam salah satu tanaman endemik gambut, balau merah atau shorea belangeran di kawasan bekas terbakar di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (28/11/2019).

Direktorat Pengendalian Kerusakan Gambut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta GIZ menandatangani kerjasama teknis Project PROPEAT. Kerja sama terkait perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut tersebut diarahkan untuk wilayah Kalimantan Utara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam siaran pers Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kamis (11/6/2020), kerja teknis ini merupakan bagian kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman. Project PROPEAT bertujuan menjalankan pengelolaan lahan pada ekosistem gambut dan lahan basah di Kalimantan Utara yang berkelanjutan secara ekologis.

Alokasi anggaran hibah dalam kerja sama ini sebesar 3.000.000 euro atau sekitar Rp 48 miliar (kurs Rp 16.000). Sebesar 60 persen anggaran tersebut untuk kegiatan implementasi lapangan dan selebihnya untuk administrasi. Batas waktu penyelesaian kegiatan adalah Desember 2021.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK Sigit Reliantoro menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Jerman melalui GIZ untuk percepatan pelaksanaan pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan ekositem gambut di Indonesia. ”Kerjasama ini diharapkan memberikan peluang bagi Indonesia yang leading dalam perlindungan ekosistem gambut yang berkelanjutan dapat melakukan sharing pengalaman dan pelatihan di Indonesia kepada negara lain yang memiliki gambut tropis seperti Republik Demokratik Kongo dan Kongo,” ujarnya

GIZ Country Director for Indonesia, ASEAN, and Timor Leste Martin Hansen menyampaikan apresiasi yang sangat baik untuk dapat segera dimulainya pelaksanaan kerja teknis dalam Project PROPEAT di Kalimantan Utara ini. Ia mengatakan, kerja sama Indonesia-Jerman yang telah berlangsung sekitar 40 tahun menunjukkan bahwa Indonesia mitra penting Jerman dalam hal lingkungan dan kehutanan. Apalagi kerja sama ini mengenai gambut yang merupakan topik penting tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga bagi dunia.

Meski saat ini masih didera pandemi Covid-19 dan keterbatasan waktu pelaksanaan, Direktur Pengendalian Kerusakan Gambut Sri Parwati Murwani Budisusanti yakin target dan indikator dalam Project PROPEAT dapat dicapai tepat waktu dan tepat kualitas. Indikator capaian pelaksanaan kegiatan teknis ini, antara lain, tersusun rencana perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut berkelanjutan.

HUMAS KLHK—Direktorat Pengendalian Kerusakan Gambut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta GIZ menjalin kerja sama teknis perlindungan dan pengelolaan gambut di Kalimantan Utara. Kerja sama tersebut berlangsung hingga Desember 2021. Tampak pihak KLHK dan GIZ Jerman bertemu dalam penandatanganan kerja sama pada 9 Juni 2020.

Indikator lain adalah perencanaan lima perhutanan sosial di lahan gambut, penguatan tiga institusi kehutanan seperti kesatuan pengelolaan hutan (KPH), serta tiga pengalaman pengelolaan lahan gambut untuk kayu dan nonkayu secara berkelanjutan dan integratif. Selain itu, penguatan tiga institusi kehutanan, seperti KPH, dalam melaksanakan panduan pengarusutamaan jender dalam perencanaan dan pelaksanaan tata guna lahan gambut. (*)

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor: ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 12 Juni 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru