Penurunan Emisi; Pengelolaan Gambut Terpadu Diterapkan

- Editor

Jumat, 21 Februari 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Program penurunan emisi karbon secara terpadu akan dilaksanakan di tiga provinsi dengan kawasan gambut luas, yaitu Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Program yang akan berlangsung selama tiga tahun ini mulai tahun 2014 akan didanai Organisasi Pangan dan Pertanian.

Hal itu dikatakan peneliti senior gambut tropika di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Bambang Setiadi, di Jakarta, Kamis (20/2).

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menawarkan kerja sama pemetaan dan penurunan emisi karbon di lahan gambut yang telah dikeringkan, serta penyusunan biennial update report. ”Dana yang disiapkan sekitar 2,5 juta dollar AS,” kata Bambang yang juga Ketua Masyarakat Akunting Sumberdaya Lingkungan Indonesia (MASLI).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Proyek pemetaan lahan gambut yang dilaksanakan Indonesia Climate Change Centre, yang dijadwalkan selesai tahun ini, akan dilanjutkan dengan dana dari FAO. Koordinator untuk pemetaan gambut berada di Badan Informasi Geospasial (BIG).

Pemetaan lahan gambut sebagai bagian dari pemetaan tematik, menurut kebijakan satu peta yang diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (IG), harus mengacu pada IG dasar yang dikeluarkan BIG.

”Koordinasi dan penggunaan satu peta dasar merupakan keharusan untuk menghindarkan tumpang tindih kegiatan dan agar data geospasial dapat dipertukarkan para pihak terkait,” tutur Kepala BIG Asep Karsidi.

Pengelolaan lahan gambut, kata Bambang, akan melibatkan Universitas Riau dalam pemberdayaan kelompok masyarakat yang peduli konservasi hutan gambut. Kelompok ini membudidayakan dan mereboisasi kawasan gambut yang terbakar atau yang dikeringkan dengan tanaman asli hutan gambut.

Universitas Riau bekerja sama dengan Universitas Kyoto mengembangkan tujuh spesies tanaman asli gambut di kawasan bekas kebakaran. ”Kegiatan itu mendukung rencana rewetting lahan gambut sehingga menurunkan emisi karbon,” ujarnya.

Selain dibasahi kembali, di lahan gambut juga dikembangkan perikanan yang disebut beje dan pengembangan sagu. Kegiatan dilaksanakan BPPT dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. BPPT juga bekerja sama dengan UKP4 dan Universitas Riau memantau permukaan air lahan gambut dan mempertahankan ketinggian permukaan air pada tingkat aman untuk mengendalikan emisi karbon. (YUN)

Sumber: Kompas, 21 Februari 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru