Home / Berita / Indonesia Jadi Penentu

Indonesia Jadi Penentu

Dorong Penghentian Penggunaan Batubara
Posisi Indonesia dalam isu perubahan iklim amat penting karena saat ini merupakan negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kelima di dunia. Untuk itu, Indonesia diminta menghentikan penggunaan batubara karena hal itu akan membantu dunia secara signifikan.

Hal tersebut terungkap dalam perbincangan Utusan Khusus Pemerintah Inggris untuk Perubahan Iklim Sir David King dengan sejumlah media di Jakarta, Senin (27/2).

“Indonesia penting bagi dunia. Dengan menghentikan penggunaan batubara di Indonesia, amat penting artinya bagi dunia,” ujar David King, yang didampingi Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik.

Menurut dia, posisi Indonesia penting karena dua hal. Pertama, karena Indonesia jadi pengemisi terbesar kelima di dunia. Data itu menunjuk pada laporan World Resources Institute bahwa Indonesia adalah penghasil emisi terbesar nomor lima di dunia karena emisi dari konversi hutan dan lahan gambut. Indonesia penting bagi dunia karena posisi Indonesia di 16 besar berdasarkan kekuatan ekonominya.

David King mengatakan, pemakaian bahan bakar batubara untuk pembangkit listrik akan amat merugikan bagi Indonesia dalam jangka panjang.

“Sekali terbangun, pembangkit listrik akan beroperasi 40-50 tahun ke depan dan butuh waktu untuk menggantinya dengan teknologi lain. Batubara jadi aset terdampar (stranded asset) karena pasarnya akan hilang dalam waktu dekat,” ucapnya.

Malik menambahkan, saat ini di seluruh dunia sudah lebih dari 50 persen dari kapasitas total pembangkit listrik di dunia berasal dari energi terbarukan.

Keduanya menyoroti sumber energi terbarukan di Indonesia yang beragam. Sumber energi terbarukan itu antara lain energi surya, laut (gelombang dan pasang surut), dan panas bumi.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, Indonesia akan membangun pembangkit listrik berkapasitas 35.000 MW dan sekitar 50 persennya akan memakai pembangkit berbasis batubara. Menurut catatan Greenpeace, emisi dari total pembangkit listrik setelah semua terbangun mencapai 332,1 juta ton ekuivalen CO2 (karbon dioksida) per tahun.

David King menilai, alasan investasi untuk energi terbarukan mahal tak tepat. Negara-negara Uni Eropa dan California memberi subsidi bagi pengembangan awal energi terbarukan.

“Kami telah memberikan subsidi untuk membangun pasar bagi energi terbarukan. Begitu pasar terbangun, permintaan meningkat sehingga harga semakin lama kian turun. Sekarang membangun energi terbarukan tidak mahal lagi,” ujarnya.

Kebijakan jangka panjang
David King menegaskan, perubahan dari energi fosil ke energi terbarukan mengurangi emisi gas rumah kaca yang bakal menghambat perubahan iklim. Manfaat lain adalah mengurangi polusi yang amat berbahaya bagi kesehatan.

Kalau diperhitungkan dalam jangka panjang, kerugian akibat pemakaian batubara sebagai sumber energi listrik akan lebih besar karena terkait kesehatan dan aspek lain.

Menurut penelitian Greenpeace yang dirilis tahun 2015, pada masa sekarang, akibat polusi dari pembangkit listrik tenaga uap berbasis batubara, terjadi kematian dini 6.500 orang per tahun. Riset itu dilakukan Universitas Harvard bekerja sama dengan Atmospheric Chemistry Modelling Group.

David King mempertanyakan hal yang masih menghambat perubahan penggunaan energi ke energi terbarukan. “Kebijakan bisa berjalan kalau pemerintah juga didukung para politisi di parlemen,” katanya.

“Selain politis, juga harus didorong oleh masyarakat,” ucapnya. Contohnya, perubahan dalam praktik perkebunan kelapa sawit yang didorong oleh konsumen. Produsen minyak kelapa sawit kini lebih memperhatikan praktik baik memakai prinsip berkelanjutan. Saat pasar minyak sawit menolak membeli produk kelapa sawit tak berkelanjutan, mereka mengubah praktiknya.

David King dan Moazzam Malik menyatakan, Kesepakatan Paris menekankan dua hal penting, yakni menahan kenaikan suhu global di bawah 2 derajat celsius dan berusaha keras agar tak melampaui 1,5 derajat celsius. Kesepakatan Paris juga berisi komitmen negara-negara untuk menurunkan emisinya guna mencapai target global itu.

David King mengingatkan, “Dari semua usulan penurunan, setelah dihitung, masih akan terjadi kenaikan suhu global 3,5 derajat celsius. Jadi, penting bagi semua negara untuk menurunkan emisi,” ujarnya.

Dalam dokumen National Determined Commitment (NDC) Indonesia disebutkan, Indonesia akan menurunkan emisi 29-41 persen jika dibantu asing, dari trayektori emisi jika tak ada intervensi kebijakan atau business as usual (BAU).

Moazzam mengungkapkan, “Kami sangat mendukung NDC Indonesia. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana merealisasikannya.” (ISW)
————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Februari 2017, di halaman 14 dengan judul “Indonesia Jadi Penentu”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: