Perubahan Iklim; KAA dan Pertemuan Paris 2015

- Editor

Senin, 27 April 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemimpin 89 negara dari kawasan Asia-Afrika berkumpul di Senayan, Jakarta, dan Gedung Asia Afrika, Bandung. Mewakili sekitar 5,5 miliar penduduk Bumi, mereka mengenang dan mencoba menyusun jawaban atas persoalan yang dihadapi kedua kawasan dalam konteks global. Namun, isu perubahan iklim rupanya tersimpan di laci.

Soekarno, pendiri bangsa, secara jeli melihat kesamaan-kesamaan yang ada pada kedua kawasan. Tak pelak, 60 tahun lalu kedua kawasan itu secara “heroik” mencanangkan diri sebagai satu entitas kekuatan di selatan-sebagai tandingan dari negara-negara utara (eks penjajah) dan negara-negara maju.

Hingga sekarang, kondisi relatif kedua kawasan tak jauh bergeser dari kondisi 60 tahun lalu. Kedua kawasan memiliki kekayaan kehati (biodiversitas) yang tinggi. Banyak negara di kedua kawasan masih memiliki warga yang masuk kategori miskin (berpenghasilan di bawah 2 dollar AS-sekitar Rp 24.000 per hari). Kedua kawasan terbagi menjadi tiga kategori: negara berpenghasilan menengah-tinggi, menengah-rendah, dan berpenghasilan rendah (lihat grafis).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konteks perubahan iklim, kedua kawasan juga rentan terhadap bencana sebagai dampak perubahan iklim, di antaranya kekeringan kian parah, banjir, dan kehilangan keanekaragaman hayati.

Tidak bisa sendiri
Tahun ini adalah tahun yang krusial bagi kelangsungan hidup Bumi dan manusia. Utusan khusus Inggris untuk perubahan iklim, Sir David King, tegas mengatakan, tahun ini kesempatan lahirnya peradaban baru.

“Peradaban baru akan lahir saat terjadi kesepakatan di antara semua negara dalam Pertemuan Para Pihak Ke-21 Konferensi Perubahan Iklim di Paris, Perancis,” katanya, pekan lalu. Akhir tahun ini akan berlangsung

Pertemuan Para Pihak Ke-21 (COP-21) di Paris dengan agenda besar: semua negara diminta mengajukan komitmen penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) masing-masing yang akan diterapkan pasca 2020.

“Isu perubahan iklim adalah isu universal dan negara-negara Asia Afrika ada di dalamnya. Hak menyatakan pendapat di COP-21 Paris mendatang tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri,” ujar Wakil Ketua Komisi VII Satya Widya Yudha, saat dihubungi, Rabu (22/4).

Ia menegaskan, negara-negara Asia Afrika memiliki kekuatan besar.

“Kalau bersatu saat menyatakan pendapat di COP-21, akan kuat sekali,” katanya. Jumlah penduduk kedua kawasan ini meliputi 5,6 miliar jiwa, atau sekitar 78 persen penduduk dunia. Sekitar 30 persen dari pendapatan dunia juga berada di kawasan ini.

Dalam negosiasi perubahan iklim, negara-negara besar seperti Amerika dan Jepang, selama ini menolak memberikan komitmen mengikat. Dalam skema internasional sebelumnya, Protokol Kyoto, AS tidak meratifikasi, sedangkan Jepang menolak memberikan komitmen mengikat. Kedua negara tersebut merupakan pengemisi besar gas rumah kaca (GRK).

Gas rumah kaca menyebabkan kenaikan suhu atmosfer global. Kenaikan suhu atmosfer tersebut mengakibatkan perubahan pola iklim global. Akibatnya, sering terjadi cuaca ekstrem atau iklim ekstrem.

“Kawasan ini kawasan kurang maju (less developed). Menghadapi isu perubahan iklim kita jangan sampai terus patuh pada negara-negara industri. Mereka bisa terus membangun industrinya dan mengemisikan gas rumah kaca atau karbondioksida (CO2) dengan hanya memberi kompensasi kepada kita,” kata Satya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Thamrin School Farhan Helmi menambahkan,

“Ini saatnya Indonesia bisa membantu memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.”

Afrika dalam konteks perubahan iklim terancam kekurangan sumber air bersih dan penggurunan, karena kekeringan akan sering terjadi.

Sementara, negara-negara Asia, terutama di Asia Selatan seperti Banglades, Pakistan, dan India, rentan pada bencana banjir dan angin topan. Kedua kawasan itu membutuhkan program-program adaptasi yang progresif.

Narasi baru
Dalam laku bekerja sama, khususnya melangkah bersama dalam negosiasi perubahan iklim, sebenarnya sesuai prinsip solidaritas yang dipegang negara-negara Konferensi Asia Afrika.

Langkah bersama itu juga menjadi langkah mewujudkan Dasasila Bandung: memajukan kepentingan bekerja sama dan kerja sama, serta menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

Sebagai tuan rumah, apakah Indonesia siap mengambil tongkat kepemimpinan? Memimpin kawasan Asia Afrika pada negosiasi di Paris adalah sebuah tugas kemanusiaan….—-brigitta isworo laksmi
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 April 2015, di halaman 14 dengan judul “KAA dan Pertemuan Paris 2015”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 8 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru