Home / Berita / Bencana Hidrometeorologi; Perubahan Iklim Bisa Picu Kebangkrutan

Bencana Hidrometeorologi; Perubahan Iklim Bisa Picu Kebangkrutan

Perubahan iklim memberikan efek berantai berskala nasional. Fenomena ini berpotensi membangkrutkan negara. Di Afrika, kekeringan panjang memunculkan konflik antarsuku karena perebutan sumber daya air.

”Perubahan iklim akan menjadi tantangan utama dunia,” kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya, di Jakarta, Kamis (13/3), dalam jumpa pers menyambut Hari Meteorologi Dunia 2014 bertema ”Weather Climate Engaging Youth”.

Kelangkaan sumber daya air itu menimbulkan masalah sosial. Sebagian penduduk akan keluar dari negaranya dan bermukim di negara lain dengan kondisi lingkungan yang lebih baik.

Kondisi Indonesia memang berbeda dengan negara-negara di kawasan Afrika. Namun, ancaman dampak perubahan iklim bagi Indonesia tergolong besar seiring potensi hilangnya sebagian daratan dan pulau-pulau kecil. Ini akibat kenaikan permukaan laut 11 milimeter per tahun.

Menurut Eka, yang perlu mendapat perhatian adalah potensi bencana lain, terutama bencana hidrometeorologi yang terus meningkat dan mendominasi kejadian bencana. Eksploitasi sumber daya alam akan meningkatkan potensi bencana tersebut, seperti banjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran lahan.

Kemampuan pemerintah akan sungguh-sungguh diuji jika muncul bencana masif, seperti kekeringan pada 1997. Dalam menghadapi bencana ini, masyarakat harus merasa kehadiran pemerintah

Terkait ancaman kebangkrutan bangsa, kata Eka, masyarakat perlu diberi pemahaman proses munculnya bencana sebagai akibat aktivitas manusia yang menurunkan daya dukung lingkungan. Selanjutnya, masyarakat diajak aktif menjaga lingkungan dan mematuhi tata ruang hunian mereka yang telah ditetapkan secara konsisten.
Tropikalisasi

Perubahan iklim menyebabkan proses ”tropikalisasi” atau meluasnya kawasan beriklim
tropis di sekitar garis khatulistiwa. Proses perubahan yang mulai terindikasi tahun 1950-an itu telah memberikan efek peningkatan terjadinya cuaca ekstrem dan penurunan potensi sumber daya lingkungan di wilayah tropis.

Kualitas salak di Australia kini lebih baik daripada yang dihasilkan beberapa wilayah di Indonesia. Sementara populasi kunang-kunang yang menunjukkan kualitas lingkungan yang baik, sulit lagi ditemukan di Indonesia. Keadaan lingkungan ini merupakan dampak dari musim kering yang semakin lama dan musim hujan yang periodenya semakin singkat, tetapi dengan curah hujan lebih tinggi.

Pembentukan badai tropis juga telah bergeser dan meningkat. ”Dari Januari hingga Maret badai tropis umumnya terbentuk di Samudra Hindia atau selatan dekat perairan Indonesia.
Kini, badai terbentuk di utara bahkan pada kurun waktu itu sudah terbentuk tiga badai,” kata Eka.

Sosialisasi tentang perubahan iklim, menurut Deputi Kepala BMKG Bidang Klimatologi Widada Sulistya, perlu diperjelas kepada masyarakat, di antaranya seputar dampak perubahan iklim melalui penyebaran informasi di media massa dan jalur pendidikan. Di jalur pendidikan dengan pembuatan modul atau silabus materi pengajaran tentang perubahan iklim bagi siswa SD hingga SMA.

Saat ini, animo generasi muda untuk bidang pendidikan meteorologi meningkat. Hal tersebut, di antaranya terlihat dari jumlah siswa yang mendaftar masuk Akademi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Tahun lalu, jumlah pendaftar mencapai 8.000 orang dengan daya tampung 150 orang. (YUN)

Sumber:Kompas, 15 Maret 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: