Ilmuwan Kuba Menerima Hadiah

- Editor

Selasa, 20 April 2010

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang ilmuwan yang mengatakan kunci masa depan pertanian Kuba terletak pada masa lalu agrarisnya telah menjadi orang Kuba pertama yang menerima Hadiah Lingkungan Goldman, hadiah terbesar di dunia untuk lingkungan akar rumput.

Humberto Rios (46) diumumkan sebagai seorang penerima hari Senin (19/4) di San Francisco bersama dengan lima aktivis lain dari seluruh dunia. Mereka masing-masing akan menerima 150.000 dollar AS, suatu jumlah yang besar di Kuba yang pendapatan tahunannya rata-rata hanya senilai 240 dollar AS atau sekitar Rp 2.160.000

Rios mengatakan, penghargaan itu pada mulanya ditanggapi dengan kecurigaan oleh pemerintahnya karena datang dari AS, musuh ideologi Kuba sejak lama. Namun, para pejabat Kuba akhirnya menerima itu dan dia berharap penghargaan tersebut akan menyumbang bagi perbaikan hubungan AS-Kuba.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Saya rasa ada suatu visi baru yang adalah menurunkan sedikit sikap bermusuhan,” katanya. ”Saya rasa kita mempunyai masalah-masalah yang sama mungkin solusi berbeda, tetapi juga solusi yang sama,” katanya pada Reuters baru-baru ini.

Dia akan menggunakan uang hadiahnya antara lain untuk memperbaiki rumah, tetapi sebagian juga untuk mendanai karyanya, kata Rios.

Hadiah itu dimulai tahun 1990 oleh filantropis Richard dan Rhoda Goldman untuk mendorong proteksi lingkungan hidup.

Rios menang atas karyanya mempromosikan kembali teknik-teknik pertanian yang lebih tradisional dengan berfokus pada keanekaragaman benih, rotasi panen, serta penggunaan kontrol hama dan pupuk organik untuk meningkatkan panen serta memperbaiki lingkungan negara itu.

Rios juga seorang musisi dan telah menemukan musik sebagai alat yang berguna dalam menyebarkan pesannya. Di acara-acara lokal, dia menyanyikan lagu-lagu rakyat dan salsa yang mempromosikan keanekaragaman hayati dan praktik lingkungan yang baik—”Daur ulang, bung, daur ulang” adalah salah satunya—dan membuat para petani berdansa di ladang.

Metode pertanian tradisional tidak lagi disukai di Kuba saat pertanian, yang didominasi oleh produksi gula, terindustrialisasi pada paruh akhir abad ke-20, terutama setelah Uni Soviet jadi pelindung negara itu setelah revolusi Kuba 1959.

Dibanjiri oleh pestisida dan pupuk dari negara-negara blok Soviet, Kuba pada tahun 1980-an menjadi pengguna agrokimia per kapita tertinggi di Amerika Latin.

Ketika itu, petani, yang tergantung pada pemerintah untuk benih dan pasokan, tidak punya banyak pilihan dalam apa yang mereka bisa tanam.

Ketika Uni Soviet runtuh tahun 1991, Kuba tetap dengan sebuah sistem pertanian yang bergantung pada agrokimia yang tidak bisa lagi didapatnya dan sebuah lingkungan yang rusak oleh penggunaan bahan kimia untuk pertanian itu.

Rios, yang waktu itu seorang mahasiswa doktoral dalam ilmu pertanian, mulai melihat hasil-hasil positif saat para petani yang karena kebutuhan beralih ke cara-cara tradisional. Pada akhir 1990-an, dia meluncurkan sebuah program untuk mendorong lebih luas penggunaan cara-cara tradisional itu.

Tekanan utamanya adalah sekadar memberi pilihan bibit yang lebih banyak kepada para petani dan membiarkan mereka, bukannya para birokrat dan ilmuwan untuk memutuskan yang mana yang digunakan.

Kuncinya adalah bahwa para petani memilih bibit yang sesuai dengan kondisi khusus mereka, katanya, bukannya semua mendapatkan bibit yang sama.

Menurut Rios, panen mulai meningkat dua kali lipat hingga tiga kali lipat dan kerusakan tanah oleh penggunaan berlebihan bahan kimia selama bertahun-tahun mulai pulih. (Reuters/DI)

Sumber: Kompas, Selasa, 20 April 2010 | 03:45 WIB

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB