Perhelatan Matematikawan Sedunia

- Editor

Sabtu, 4 September 2010

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

”Oleh pembuktiannya atas lemma fundamental dalam teori bentuk automorfik dengan memperkenalkan metode geometri-aljabar baru….”

Demikian kutipan bagi salah satu pemenang Medali Fields 2010: Ngo Bao Chau (38) dari Universite Paris-Sud, Orsay, Perancis.

Ia merupakan orang kelahiran Vietnam pertama yang memenangi penghargaan yang disetarakan dengan Hadiah Nobel di bidang Matematika pada Kongres Matematikawan Internasional 2010 di Hyderabad, India, 19-27 Agustus. Penghargaan diberikan langsung oleh Presiden India Pratibha Patil pada acara pembukaan, Kamis (19/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih dari 3.000 matematikawan dari seluruh penjuru dunia— termasuk enam dari Indonesia— hadir di Balai Sidang Internasional Hyderabad dalam perhelatan terbesar bagi matematikawan sedunia yang diselenggarakan sekali dalam empat tahun sejak tahun 1897. Kongres tahun ini diselenggarakan oleh International Mathematical Union bekerja sama dengan Universitas Hyderabad.

Selain Chau, ada tiga pemenang Medali Fields tahun ini: Elon Lindenstrauss (40) dari Hebrew University, Israel; Stanislav Smirnov (40) dari Universitas Geneva, Swiss; dan Céldric Villani (37), Direktur Institut Henri Poincaré Paris, Perancis. Masing-masing berprestasi luar biasa dalam Matematika. Mereka tergolong muda dan telah berjabatan fungsional guru besar, sesuatu yang langka dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia saat ini. Salah satu syarat bagi penerima Medali Fields: usia tak lebih dari 40 tahun.

Baru 52 matematikawan

Medali Fields mulai dianugerahkan pada 1936 dalam Kongres Matematikawan Internasional (KMI) di Oslo. Hingga saat ini, 52 matematikawan telah memenanginya. Tiga di antaranya berasal dari Jepang, satu dari Cina, dan satu dari Afrika Selatan. Nama kusala ini diambil dari nama matematikawan Kanada, John Charles Fields, salah seorang di balik sukses penyelenggaraan KMI 1924 di Toronto dan donor untuk penghargaan ini.

Kusala ini berupa sebuah medali emas 14 karat berdiameter 64 mm dan uang 15.000 dollar Kanada. Sisi depan medali bergambar kepala Archimedes menghadap ke kanan. Tulisan yang mengitari sisi depan medali itu berbahasa Latin dengan arti ”Mengangkat seseorang dan menguasai dunia”, adaptasi dari ayat sajak ”Astronomicon” karya penyair Romawi, Manilius.

Dalam penyerahan Medali Fields kali ini, tak terjadi kontroversi seperti pada KMI 2006 di Madrid. Saat itu, salah seorang pemenang, Grigory Perelman (St Petersburg, Rusia), menolak menerima penghargaan itu karena alasan tertentu. Pada awal tahun ini, Grigory Perelman dianugerahi Hadiah Milenium dari Clay Mathematics Institute karena keberhasilannya memecahkan Konjektur Poincaré, satu dari tujuh masalah Hadiah Milenium.

Kontroversi kali ini justru datang dalam rencana penganugerahan doktor honoris causa dari Universitas Hyderabad kepada juara dunia catur asal India, Viswanathan Anand. Rencana itu batal dilaksanakan setelah Anand menolak menerima penganugerahan itu karena Kementerian Pengembangan Sumber Daya Manusia mempertanyakan status warga negaranya. Anand kini bermukim di Spanyol.

Dalam kongres ini, Anand bermain catur secara simultan melawan 40 matematikawan. Ia berhasil memenangi 39 partai dan 1 partai berakhir remis. Satu-satunya matematikawan yang dapat menahannya remis ialah anak berusia 14 tahun, Srikar Varadaraj dari Bangalore, yang juga matematikawan termuda yang menyajikan makalah dalam KMI 2010.

Sukses India dalam KMI 2010 berdampak positif bagi perkembangan Matematika di negara itu yang banyak melahirkan matematikawan besar: Srinivasa Ramanujan dan SS Srinivasa Varadhan (pemenang Hadiah Abel 2007). Hal ini juga akan memotivasi anak-anak di India belajar Matematika. Indonesia perlu banyak belajar dari India apabila ingin pada 20 tahun mendatang ada orang Indonesia yang memenangi Medali Fields.

Dharma Lesmono Dosen Jurusan Matematika Unpar, Bandung

Tulisan ini disalin dari Kompas, Sabtu, 4 September 2010 | 04:34 WIB

Informasi terkait

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB