Home / Artikel / Hujan “Salah Mongso”, tidak Salah

Hujan “Salah Mongso”, tidak Salah

Hujan salah mongso adalah hujan yang sering turun bukan pada musimnya. Tetapi itu belum berarti iklim dalam skala global telah berubah meskipun kecenderungan untuk berubah itu memang ada. Kelihatannya udara itu tenang-tenang saja, tetapi sebenarnya udara yang terdiri atas berbagai macam senyawa gas yang berbaur dan berkelompok-kelompok itu selalu bergerak ke sana ke mari. Kalau lagi uring-uringan mereka bisa saling baku hantam menimbulkan hujan, badai guntur dan udara yang panas. Mengapa demikian?

Di Indonesia dikenal dua musim, musim hujan dan musim kemarau. Ada pula yang menggatakan ada musim peralihan ialah waktu di antara kedua musim tersebut, namun istilah musim peralihan tidak termasuk dalam istilah meteorologi.

Banyak orang menghubungkan nama bulan berakhiran “ber” dengan keadaan air atau hujan. September bulan sat-satnya (kecil-kecilnya) sumber. Desember bulan sebesar-besar sumber (banyak hujan); Januari bulan dengan hujan setiap hari. Anggapan itu tidak salah, tetapi juga tidak selalu benar, karena tidak berlaku untuk setiap tempat di Indonesia ini.

Di Sibolga, selain Oktober, November dan Desember, pada bulan Maret dan April juga banyak hujan. Di Ambon banjir sering terjadi dalam bulan Juli – Agustus. Beragamnya waktu hujan tersebut karena wilayah Indonesia yang sangat luas serta struktur daerah yang berbeda-beda.

Kalau sampai sekarang hujan masih sering turun misalnya di Jakarta, apa iklim sudah berubah? Nanti dulu. Tidak perlu terlalu cepat menuding iklim sudah berubah.

Apalagi Indonesia dari dulu punya ciri struktur kepulauan serta letaknya merangsang hujan terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu, meskipun dalam tingkat yang berbeda. Namun demikian juga tidak salah apabila Anda mengatakan bahwa di tempat Anda iklimnya sudah berubah. Memang perubahan tersebut dapat saja terjadi karena struktur permukaan tanah di daerah tersebut telah berubah sehingga memberikan rangsangan yang berbeda terhadap udara yang melewati daerah tersebut.

Dalam skala yang makin kecil, iklim skala kecil mudah berubah. Tetapi dalam skala besar, perubahan iklim skala besar dapat terjadi melalui proses yang memakan waktu ratusan, ribuan, bahkan sampai jutaan tahun. Kegiatan manusia yang menimbulkan perubahan struktur permukaan tanah, seperti permukaan lahan untuk perkotaan, bendungan dan yang menimbulkan gangguan terhadap komposisi udara seperti gas buangan industry, adanya pembakaran hutan, dan sisa pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor, dapat mengubah komposisi, rangsangan dan daya dukung atmosfer.

Perubahan tersebut dapat menimbulkan proses dan gejala yang berbeda dari sebelumnya sehingga menghasilkan keadaan dan peristiwa cuaca yang berbeda pula, terutama dalam skala kecil. Karena itu perihal perubahan iklim memerlukan pengkajian dari berbagai skala dan kaitan-kaitan yang tidak sederhana.

Berkait-kait
Indonesia yang terdiri atas lautan dan beribu-ribu pulau serta letaknya di kawasan khatulistiwa yang dikelilingi oleh benua dan lautan luas, mempunyai kelompok-kelompok udara yang selalu bergerak membentuk sistem peredaran.

Secara sederhana sistem peredaran itu dapat digambarkan sebagai sistem yang tersusun atas berbagai subsistem peredaran, ialah yang disebut subsistem peredaran lokal atau peredaran kumulus yang berkaitan dengan kondisi lokal daerah. Atau juga subsistem peredaran Walker atau peredaran zonal khatulistiwa yang berkaitan dengan arus laut dan subsistem peredaran Hadley atau peredaran meridional yang berkaitan dengan pemanasan bumi secara geografi. Gerakan masing-masing subsistem peredaran sedemikian sehingga saling berinteraksi yang dengan motivasi dan intervensi laut sekitarnya menimbulkan berbagai corak dan tingkat cuaca.

Udara tersumbat
Gara-gara udara bertekanan tinggi di Pasifik Barat dan Pasiflk Selatan tak mau bergerak, peredaran udara menjadi macet.

Tahun-tahun yang lalu, misalnya tahun 1982 dan 1987 di kawasan Indonesia khususnya dan beberapa daerah di daerah lain mengalami musim kekurangan hujan. Elnino yaitu fenomena bergeraknya laut panas di sebelah barat Amerika Selatan atau dibagian timur lautan Pasifik khatulistiwa, rendahnya suhu laut di sekitar Indonesia serta melemahnya peredaran Walker, dituduh sebagai penyebabnya.

Tahun 1989 ini keadaan berbalik. Elnino tidak tampak. Lautan di sekitar Indonesia suhunya lebih tinggi dari biasanya, sehingga menimbulkan uap air yang berlebihan. Di sisi lain peredaran Walker sangat kuat baik yang berasal dari barat maupun yang berasal dari timur dan menyebabkan gerakan udara macet dan menimbulkan terjadinya gejolak di kawasan Indonesia yang terletak di antaranya. Gejala itu memperlihatkan keadaan yang terasa tidak teratur di atas kawasan Indonesia.

Peredaran Walker di bagian barat manyebabkan timbulnya banyak badai di Teluk BenggaIa dan masuk ke daerah Bangladesh. Dampaknya sampai ke Sumatera dan Malaysia, bahkan menghambat angin pasat dari Australia yang melewati Indonesia. Peredaran Walker di bagian Timur mendorong kemudahan timbulnya badai di sebelah utara Irian Jaya.

Dorongan kedua tekanan dari barat dan dari timur menyebabkan kuatnya gerak udara ka atas dan bergolak berkelompok-kelompok yang memudahkan terbentuknya awan-awan besar sumber badai guntur. Terhambatnya angin pasat timur memberi kesempatan udara bertahan lebih lama di atas lautan yang panas yang memberi banyak uap air kepada udara di atasnya. Akibatnya, udara yang bergolak tersebut dapat membawa banyak uap air untuk diubah menjadi air dan menghasilkan hujan yang banyak pula. Kemacetan udara dan golakan-golakan yang berkelompok-kelompok menyebabkan terbentuknya kelompok daerah banyak hujan dan badai di suatu bagian dan di sisi lain terbentuk daerah panask dan kering.

Kemarau yang basah
Kalau saja banyak hujan pada musim hujan, dan sedikit hujan pada musim kemarau, tentunya yang demikian itu tidak mengherankan karena sesuai dengan nama musimnya.

Tetapi, kalau musim hujan tidak ada hujan dan pada musim kemarau hujan berkelebihan, tentunya keadaan seperti itu perlu mendapatkan perhatian. Tidak hanya perhatian terhadap sebab musabahnya, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana memanfaatkannya.

Badan Meteorologi dan Geofisika memprakirakan musim kemarau tahun 1989 ini cukup basah, dalam arti masih banyak hujan, sehingga banyak daerah yang curah hujannya lebih banyak dari rata-ratanya. Prakiraan tersebut memang dibuat dengan memperhitungkan keadaan dan dinamika udara seperti yang telah dituliskan di atas.

Dalam banyak hal keadaan tidak ekstrem dapat dipandang tidak menyulitkan, tetapi untuk cuaca justru yang tidak ekstrem ini yang dapat merepotkan karena untuk memanfaatkannya banyak dihadapkan pada pilihan yang kemungkinan terjadinya sama-sama kuat.

Sebagai misal, apabila musim kemarau nanti bersifat basah sehingga masih banyak hujan, maka para petani tembakau perlu berpikir apakah tembakau yang akan ditanam tidak terlalu banyak terguyur hujan sehingga kualitasnya akan menjadi rendah? Apakah tidak cukup beruntung apabila menanam jagung saja? Bagaimana pula hasil garam yang akan diperoleh-petani garam? Hidup di dunia ini memang selalu berhadapan dengan penetapan pilihan.

(Soerjadi Wh, dari Badan Meterologi dan Geofisika)

Sumber: Kompas, 2 Juli 1989

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: