Home / Berita / Harimau sumatera;Becermin pada Rimbang Baling

Harimau sumatera;Becermin pada Rimbang Baling

Rimbang Baling, suaka margasatwa di Riau, bagai benteng terakhir eksistensi harimau sumatera, kucing besar eksotis yang tersisa. Namun, hutan hujan tropis minoritas di bumi ”Lancang Kuning” yang umumnya berlahan gambut itu terus digerogoti. Perambahan, pembakaran, penambangan batubara, hingga perburuan harimau kian melukai tubuh hutan.

Jangan bayangkan berbagai ancaman itu hanya di pelosok hutan. Di pinggir jalan dari Kuantan Singingi, sekitar 15 menit dari batas suaka margasatwa, pekan lalu, bibit kelapa sawit siap ditanam. Para pekerja borongan menanamnya.

Aktivitas itu merupakan pembuka dari perjalanan WWF Indonesia bersama Johny Lagawurin (BKSDA Riau) dan Marco Lambertini (Dirjen WWF Internasional). Masuk lebih dalam ke Rimbang Baling, kanan-kiri jalan ditumbuhi kelapa sawit berusia sekitar lima tahun.

Melewati hutan tanaman industri (HTI) akasia dan eukaliptus, berdiri perusahaan bubur kertas yang tanpa pos penjaga. Rombongan dihadapkan pada lahan sisa terbakar. Pada hamparan lahan puluhan hektar itu tampak hijau daun akasia setinggi lutut menyeruak di antara arang batang-batang pokok dan ranting tanaman hutan.

Bagaimana mungkin hal itu terjadi di kawasan konservasi yang dilindungi negara? Bukan hanya mungkin, melainkan juga mengejutkan. Suaka margasatwa seluas lebih dari 140.000 hektar itu seperti tanpa penjagaan, pengawasan, apalagi patroli.

Awalnya, kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang-Bukit Baling dijaga tiga polisi kehutanan (polhut) dari Brigade Beruang. Namun, beberapa waktu lalu, satu di antara mereka melanjutkan studi, sedangkan dua petugas lainnya sering ditarik ke Pekanbaru, markas BKSDA Riau.

”Kami masih sangat kekurangan personel,” kata Johny Lagawurin, Kepala Bidang Wilayah I Rengat BKSDA Riau. Total 300 polhut Kementerian Kehutanan (Kemenhut) di Riau (Statistik Kehutanan 2013) harus melindungi 16 kawasan konservasi di Riau dan Kepulauan Riau.

Berdasarkan data Kemenhut, sekitar 10.000 polhut menjaga 130 juta kawasan hutan. Artinya, setiap polisi hutan menjaga 13.000 hektar hutan. Mustahil.

Mengecek Batas Hutan KonservasiSM Rimbang Baling dengan luas hampir dua kali Singapura merupakan habitat harimau sumatera, macan dahan, kucing batu, kucing emas, dan kucing congkok, bunga bangkai rafflesia merah putih (Rafflesia hasseltii), dan kambing hutan sumatera (Capricornis sumatrensis sumatrensis) yang keberadaaannya di Taman Nasional (TN) Bukit Barisan Selatan tak ditemukan lagi. Bagi harimau sumatera, Rimbang Baling adalah area kritisstrategis yang juga lalu lintas utara-selatan di Bukit Barisan.

Pada 1980-an, hutan Rimbang Baling pernah terhubung dengan TN Bukit Tiga Puluh dan TN Tesso Nilo. Kini, koridor kawasan konservasi itu dicaplok perkebunan sawit.

Di tengah kondisi itu, keberadaan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), indikator kunci kesehatan ekosistem hutan Riau, jumlahnya terus merosot. Pada 1970-an, ada sekitar 1.000 harimau sumatera di Riau, kini sekitar 60 ekor.

Di Sumatera, jumlah harimau sumatera diprediksi 200-300 ekor. Di Rimbang Baling, jumlah satwa terancam punah oleh Badan Konservasi Dunia (IUCN) itu sekitar 15 ekor.

Spesialis pemantauan harimau pada WWF Indonesia Sunarto menjelaskan, hutan Rimbang Baling merupakan pertemuan ekosistem hutan di Sumatera bagian utara dan selatan. Ekosistemnya cukup unik, menjadi pertemuan antara dataran rendah dan dataran tinggi.

”Intinya (wilayah) ini paling kaya (keanekaragaman hayati),” ujarnya. Dataran rendah Rimbang Baling, yang berbatasan dengan Sumatera Barat, pernah menjadi habitat gajah sumatera yang dipindahkan untuk mengamankan proyek pembangkit listrik.

Ancaman dan peluang
Kondisi Bukit Rimbang Bukit Baling belum separah TN Tesso Nilo yang lebih dari separuh luasnya berupa kebun sawit. Namun, ekstensifikasi perkebunan, pertambangan, dan perburuan liar meningkat di kawasan konservasi itu.

Sunarto mengatakan, ancaman ekspansi petambangan dan perkebunan terjadi dengan skala besar dan masif di sisi timur. ”Di sisi ini ada ekspansi sawit dan HTI akasia, serta pertambangan batubara dan emas,” ujarnya.

Di sisi utara kawasan suaka margasatwa, banyak ekspansi perkebunan kelapa sawit dan karet rakyat berskala kecil. Akses jalan perkebunan, HTI, dan pertambangan merupakan jalur pemburu memasang jerat harimau.

Selain jadi ancaman, keberadaan HTI perusahaan dan perkebunan di sekeliling Rimbang Baling dinilai bisa menjadi kekuatan untuk melindungi harimau. Caranya adalah mewajibkan perusahaan menjaga kawasan hutannya. Hal itu dilakukan dengan menempatkan penjaga dan pos penjagaan yang membatasi perambah dan pemburu harimau memanfaatkan jalan akses perusahaan.

Perusahaan juga bisa menjadikan sebagian HTI sebagai koridor penghubung Rimbang Baling dengan kawasan konservasi lain di sekelilingnya. Berdasarkan temuan WWF Indonesia bersama mitranya, harimau melintasi kebun sawit dan HTI yang ditumbuhi belukar.

Koridor itu menjadi jalur lalu lalang harimau sekaligus menghindarkan perkawinan sedarah yang merusak mutu keturunan.

Ancaman bagi harimau di Riau jelas nyata. Senyata melintasi tepian Rimbang Baling. Namun, bukan berarti tiada harapan perbaikan. Mulailah sekarang.

Oleh: Ichwan Susanto

Sumber: Kompas, 26 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: