Hari Meteorologi Dunia; Memahami Awan, Mewaspadai Bencana

- Editor

Kamis, 23 Maret 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi awan jadi fokus utama dalam prediksi cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem. Pertumbuhan awan hingga jadi hujan berpengaruh pada siklus air di bumi.

“Understanding Clouds”, yakni memahami awan sebagai penentu pola cuaca dan iklim, ditetapkan sebagai tema Hari Meteorologi Dunia (HMD) 2017 yang jatuh pada 23 Maret. Memantau fenomena alam ini, baik pola pembentukan maupun pergerakannya, menjadi dasar mengantisipasi bencana yang bisa ditimbulkan, yakni saat terjadi dinamika awan ekstrem.

Dalam sambutan tertulis untuk peringatan HMD 2017, Petteri Taalas, Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), mengatakan, awan jadi kunci ketidakpastian dalam riset perubahan iklim. “Kami perlu pemahaman lebih baik tentang pengaruh awan pada iklim dan pengaruhnya terhadap perubahan iklim,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Awan berperan penting dalam siklus air dan pembentukan distribusi sumber daya air dunia. “Pemahaman awan penting untuk prediksi kondisi cuaca pemodelan dampak perubahan iklim masa depan dan memprediksi ketersediaan sumber daya air”, ucap Taalas.

Riset awan dilakukan sejak ribuan tahun lalu. Lebih dari 2.000 tahun lalu, Aristoteles mempelajari awan dan pengaruhnya pada siklus hidrologi.

Pengetahuan meteorologi abad lalu disumbangkan Luke Howard, meteorolog amatir asal Inggris yang pertama mengklasifikasi awan. Howard menyusun catatan cuaca di London disertai gambar awan pada 1801-1841. Ia mengidentifikasi tiga kategori utama awan, yakni kumulus, stratus, dan sirus. Identifikasi dan penggambaran awan jadi bagian penting riset cuaca dan iklim.

Atlas awan
Peringatan Hari Meteorologi Dunia ditandai dengan peluncuran edisi baru Atlas Awan Internasional. Atlas WMO baru meliputi ratusan citra awan, termasuk klasifikasi baru tipe awan. Fenomena meteorologi lain ditampilkan, seperti pelangi, badai salju, serta halo atau lingkaran di sekitar matahari dan bulan.

Untuk pertama kali, atlas ini dibuat format digital dan bisa diakses lewat komputer dan telepon seluler. Atlas ini jadi referensi komprehensif untuk mengidentifikasi awan serta perangkat pelatihan bagi profesional bidang meteorologi, penerbangan, dan pelayaran.

Atlas Awan Internasional dibuat pertama kali akhir abad ke-19. Data spasial itu beberapa kali direvisi pada abad ke-20, paling akhir 1987, berbentuk buku, sebelum ditampilkan di internet. Atlas itu kontribusi citra yang dihasilkan para pengamat meteorologi, awan, dan fotografer dari seluruh dunia.

Siaga bencana
Hari Meteorologi Dunia juga diperingati Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dengan tema nasional “Bersahabat dengan Cuaca untuk Siaga Bencana”. Menurut Sekretaris Utama BMKG Widada Sulistya, tingginya kejadian bencana terkait dengan cuaca atau meteorologi. Di antara bencana di Indonesia, 85 persen adalah bencana hidrometeorologi, antara lain banjir, kekeringan, longsor, dan angin puting beliung.

Dengan paham karakter cuaca, layanan informasi cuaca diharapkan meningkat. Akhirnya, warga lebih siap menghadapi ancaman bencana akibat cuaca.

Kepala BMKG Andi Eka Sakya pada lokakarya meteorologi maritim di Jakarta, kemarin, menyatakan, perairan Indonesia amat luas, strategis, serta kaya keragaman hayati dan mineral, tetapi menyimpan potensi bencana. Kemampuan memahami karakteristik dan prediksi dinamikanya jadi kunci mengoptimalkan potensi kelautan dan menghindari bencana. Karena itu, dibutuhkan satelit cuaca.

“Indonesia satu-satunya negara kepulauan di lintang rendah yang menjadi penghubung informasi iklim Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Namun, belum ada data karakteristik parameter cuaca atau iklim di laut Indonesia,” ujarnya.

Untuk mengoptimalkan potensi di perairan Indonesia dan menekan risiko bencana, seperti tsunami dan banjir rob, karakteristiknya perlu dipahami. Luasnya perairan menuntut kerja sama antarlembaga. “Indonesia sebesar Eropa. Namun, kita tak punya satelit cuaca, di Eropa ada tiga,” kata Andi.

Satelit meteorologi juga bisa mendeteksi klorofil untuk memahami migrasi ikan. Selain itu, satelit tersebut bisa mengidentifikasi pemutihan karang, fungsi ekonomis dan ekologis lain.

Sejauh ini, WMO membantu pemerintah dalam menyediakan jasa lingkungan, kelautan, hidrologi, iklim, dan cuaca. “Ini bertujuan untuk melindungi jiwa dan harta benda serta mendukung pengambilan keputusan,” kata Taalas, doktor meteorologi dari Universitas Helsinki, Filandia. (YUN/AIK)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Maret 2017, di halaman 14 dengan judul “Memahami Awan, Mewaspadai Bencana”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 17 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB