Home / Berita / Hari Meteorologi Dunia 2015; Mengantisipasi Bencana akibat Cuaca

Hari Meteorologi Dunia 2015; Mengantisipasi Bencana akibat Cuaca

Cuaca ekstrem dan perubahan pola cuaca kian berdampak buruk bagi kehidupan di Bumi. Peningkatan upaya pemantauan cuaca untuk mengantisipasi bencana meteorologi dengan melibatkan masyarakat merupakan langkah efektif meredam korban jiwa dan kerugian materi.

Pengetahuan tentang cuaca dan iklim yang memadai harus menjadi basis dalam mencegah hingga menanggulangi dampak perubahan iklim. Ini jadi fokus perhatian Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sehingga mengangkat tema “Climate Knowledge for Climate Action” pada peringatan Hari Meteorologi Dunia tahun 2015, yang jatuh pada 23 Maret.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, dalam sambutan tertulisnya, mengutarakan, dalam tiga dekade terakhir, banjir, badai, kekeringan, dan kebakaran menelan banyak korban jiwa dan menyebabkan kerugian ekonomi yang masif. Kehancuran yang disebabkan siklon tropis Pam di Vanuatu dan daerah lain di Samudra Pasifik dan sekitar adalah contoh bencana yang ditimbulkan cuaca ekstrem.

Perubahan iklim meningkat intensitas dan frekuensi keekstreman iklim serta mengancam ketahanan pangan dan air di berbagai belahan dunia. Mitigasi perubahan iklim dan adaptasi menghadapinya merupakan ujian terbesar kita. Untuk menghadapi tantangan itu, kita perlu informasi yang bisa diandalkan dan memadai untuk mengambil keputusan dan tindakan, menyampaikan kepada siapa pun yang memerlukan, dalam bentuk yang mudah diakses dan bisa dimanfaatkan.

Lebih dari setahun lalu, ribuan jiwa bisa diselamatkan di India, Filipina, dan wilayah lain dengan meningkatkan prakiraan cuaca, mengembangkan sistem peringatan dini bencana, dan menyusun rencana evakuasi. Produk dan jasa informasi berbasis prediksi iklim dapat membantu memperkuat daya tahan menghadapi gangguan cuaca.

Hal itu merupakan tujuan Kerangka Kerja Global Jasa Iklim (Global Framework for Climate Services) yang diprakarsai WMO dengan mitra PBB lain. Jadi, penggunaan informasi difasilitasi demi mengurangi risiko bencana, mendorong ketahanan air dan pangan, serta melindungi kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris Jenderl WMO Michel Jarraud menyatakan, organisasi yang dibentuk pada 1873 itu mempunyai misi dasar, yakni mendukung negara-negara di dunia dalam menyediakan jasa hidrologi dan meteorologi demi melindungi hidup manusia dan harta bendanya dari bencana alam terkait cuaca dan iklim, untuk melindungi lingkungan hidup, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Itu tak dapat tercapai tanpa observasi, riset, dan kegiatan untuk membangun pemahaman dan pengetahuan tentang cuaca dan iklim.

Peringatan Hari Meteorologi Dunia sejak 1961 menetapkan kontribusi Jasa Layanan Hidrologi dan Meteorologi Nasional untuk keamanan dan kesejahteraan sosial. Sesuai tema Hari Meteorologi Dunia tahun ini, ujar Michel, komunitas internasional saat ini mengarah ke keputusan dan aksi ambisius untuk mengatasi perubahan iklim.

Berdampak luas
“Perubahan iklim jadi perhatian kita semua karena berpengaruh pada hampir semua sektor sosioekonomi, dari pertanian, kesehatan, infrastruktur, hingga pariwisata,” ujarnya. Masalah ini juga berdampak pada sumber daya strategis, seperti air, pangan, dan energi, hingga mengancam keberlanjutan pembangunan. Biaya akan kian besar jika tak ada aksi segera menangani masalah itu.

Informasi cuaca dan iklim merupakan hal yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari, dari prediksi cuaca harian hingga iklim bulanan. Kini prakiraan cuaca rata-rata dalam lima hari ke depan lebih baik daripada dua hari mendatang yang dikeluarkan 25 tahun lalu serta prediksi iklim musiman meningkat.

Ini berkat kemajuan teknologi penginderaan jauh, termasuk satelit, yang berbasis komputer. Pengetahuan meteorologi dan klimatologi pun mencapai kemajuan berarti sejak 50 tahun terakhir. Perubahan lingkungan bumi karena emisi gas rumah kaca, seperti menciutnya kawasan es di kutub, peningkatan suhu muka laut, dan cuaca ekstrem, terindikasi lewat riset.

Terkait tema Hari Meteorologi Dunia 2015, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya mengatakan, kemajuan bidang pemantauan dan prediksi cuaca juga ditingkatkan di Indonesia. Hal itu antara lain terlihat dari zona prakiraan iklim yang terus ditingkat dari sekitar 100 hingga mendekati 300 zona.

Di wilayah Jakarta saja, pemantauan yang semula hanya di tiga lokasi sudah menjadi tiga. Dari data pantauan lokal terlihat pola cuaca iklim berbeda. Wilayah utara lebih panas daripada wilayah utara Jakarta. Itu terkait menurunnya vegetasi di wilayah Ibu Kota itu.

Aplikasi Sijampang
Peningkatan penyebaran informasi cuaca dan partisipasi masyarakat untuk pengumpulan data cuaca digalang Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui aplikasi Sistem Informasi Hujan dan Genangan Berbasis Keruangan (Sijampang). Aplikasi itu kini dikembangkan dengan berbasis pada Android versi beta 7 yang bisa diunduh di http://bit.ly/siandro. Dengan layanan data itu, menurut Udrekh, Koordinator Program Sijampang BPPT, kita akan dimudahkan dalam memantau hujan serta berbagi informasi hujan dan genangan di mana pun kita berada.

Penyampaian informasi tentang hujan secara langsung pada masyarakat lewat layanan pesan pendek diharapkan membantu pengambilan langkah antisipatif. Sistem layanan informasi itu dikembangkan tim peneliti dari Nusantara Earth Observation Network (NEOnet) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Sistem informasi itu berbasis pada data pemantauan massa udara oleh stasiun radar yang dikelola BPPT dan data curah hujan dari BMKG. Radar Doppler C-band yang terbangun melalui program Hydrometeorological Array for Intraseasonal variation Monsoon Automonitoring (Harimau)-program kerja sama Indonesia dengan Jepang- dapat memantau kondisi atmosfer hingga radius sekitar 100 kilometer dari stasiunnya yang berada di Puspiptek Serpong.

Adapun ketinggian awan hujan yang bisa terpantau radar berada 500 meter hingga 2.000 meter di atas permukaan Bumi. Data analisis kondisi atmosfer itu lalu dianalisis dan dipadukan data curah hujan dalam peta spasial berbasis peta Google.

Informasi itu ditampilkan dalam situs web NEONet ( www.neonet.bppt.go.id/sijampang). Sijampang juga ditampilkan dalam bentuk teks yang dapat diakses lewat Twitter dan WordPress. Data meliputi 100 titik pantauan hujan, yang diperbarui tiap 6 menit atau near realtime. Sistem peranti lunak berbasis WebGIS dipakai untuk menganalisis data, memadukan, lalu menampilkannya di web.

Untuk memverifikasi informasi hujan, dilibatkan para kontributor yang berdomisili di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Mereka akan dikirimi data hujan di wilayahnya lewat pesan pendek (SMS) dan diharapkan mereka menjawab kondisi riil untuk konfirmasi.

Timnya akan terus mengembangkan kemampuan pemantauan sistem itu dengan menambah informasi daerah rawan banjir. Informasi itu berdasarkan data radar yang diolah untuk prediksi banjir.

Untuk itu, model algoritme dirancang dengan memasukkan data terkait berupa tinggi muka air sungai hasil pantauan alat otomatis di DAS. Sistem itu dibuat bersama Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Untuk program ini, informasi genangan diharapkan akhir tahun ini bisa optimal,” kata Udrekh, yang juga Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana BPPT. Pengembangan Sijampang bekerja sama dengan BMKG yang punya 22 stasiun radar.(YUNI IKAWATI)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Maret 2015, di halaman 14 dengan judul “Mengantisipasi Bencana akibat Cuaca”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: