Home / Berita / Hanya 6 Persen Padang Lamun Indonesia Berkondisi Sehat

Hanya 6 Persen Padang Lamun Indonesia Berkondisi Sehat

Meskipun padang lamun memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia, kondisinya terus menurun. Ekosistem ini menunjang keberlangsungan sumber daya perikanan Indonesia sebagai habitat komoditas hasil laut bernilai ekonomi tinggi, seperti baronang dan rajungan.

Padang lamun di Indonesia juga menjadi sumber makanan dugong yang statusnya terancam punah. Selain itu, 1 hektar padang lamun juga mampu menyerap emisi karbon dioksida sebanyak 24 ton per tahun atau setara dengan 35 sepeda motor.

Namun, aktivitas manusia, seperti reklamasi pantai, perikanan yang tidak ramah lingkungan, serta pembuangan limbah, membuat penurunan kondisi padang lamun.

Hasil riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilakukan Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menunjukkan, hanya 6,67 persen padang lamun yang kondisinya sehat dan 42 persen lain berada dalam kondisi kurang sehat.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Dirhamsyah, Senin (1/10/2018) di Jakarta, menyampaikan status padang lamun Indonesia tahun 2018.

Lamun adalah satu-satunya tumbuhan berbunga yang secara penuh beradaptasi pada lingkungan laut. Lamun tumbuh pada berbagai macam substrat, membentuk hamparan luas yang disebut padang lamun.

”Secara ekologis, keberadaan padang lamun menciptakan ruang bagi banyak organisme untuk berkembang dan berinteraksi, membentuk satu kesatuan ekosistem di laut dangkal,” ujar Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Dirhamsyah.

KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA–Pemandangan Pulau Beras Basah, Bontang, Kalimantan Timur, akhir Mei lalu. Wisatawan bisa menikmati hamparan padang lamun di perairan pantai, bersantai di pantai, naik banana boat, atau sejenak snorkeling.

Hasil verifikasi luasan padang lamun Indonesia yang dilakukan Tim Wali Data Lamun Indonesia menunjukkan, Indonesia setidaknya memiliki padang lamun seluas 292.000 hektar. ”Jumlah luasan tersebut adalah yang tertinggi di negara-negara Asia Tenggara,” ucap Dirhamsyah.

Ia menjelaskan, informasi luasan padang lamun dapat memberikan indikasi kondisi dan potensi lamun secara menyeluruh. ”Jika terjadi penurunan, ini menunjukkan adanya tekanan atau ancaman pada ekosistem tersebut. Sebaliknya, jika luasannya stabil atau naik, ini menunjukkan peluang padang lamun untuk lestari semakin tinggi,” tutur Dirhamsyah.

Meski mempunyai padang lamun terluas se-Asia Tenggara, sebagian besar kondisi padang lamun Indonesia ternyata masih dalam kondisi kurang sehat.

”Dari keseluruhan lokasi yang divalidasi, hanya 6,67 persen yang kondisinya sehat, misalnya di Maumere dan Sikka (Flores),” kata peneliti lamun Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Udhi Eko Hernawan.

Sementara di lokasi lain, lanjutnya, berada pada kondisi kurang sehat, bahkan miskin. ”Bahkan, padang lamun yang berada di kawasan konservasi, misalnya Wakatobi, juga kondisinya kurang sehat. Jika mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 200 Tahun 2004, padang lamun dengan tutupan 42 persen berada dalam kondisi kurang sehat,” tutur Udhi.

Ia menjelaskan, kondisi padang lamun sangat berkorelasi dengan biota laut yang memanfaatkan ekosistem ini, seperti penyu dan dugong.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Seekor duyung (Dugong dugon) jantan yang diperkirakan berusia 11 tahun berenang di perairan Pulau Sikka, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Rabu (22/3/2017). Duyung merupakan mamalia laut herbivora yang terancam punah. Perairan ini diharapkan bisa menjadi rumah aman bagi sebagian populasi duyung di Indonesia yang sedikit jumlahnya.

”Hasil kajian LIPI menunjukkan padang lamun, terutama yang terdiri dari spesies Halodule dan Halophila, berperan penting sebagai sumber makanan dugong,” lanjutnya.

Ia mengungkapkan, tanpa jenis lamun ini, populasi dugong di Indonesia akan semakin terancam menuju kepunahan.

Menurut Udhi, agar padang lamun tetap mampu memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan, upaya konservasi padang lamun harus mampu mencegah aktivitas yang mengancam kelestariannya.

”Kegiatan transplantasi lamun dapat dilakukan untuk memulihkan padang lamun yang telah hilang atau rusak dan menciptakan areal padang lamun yang baru,” katanya.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 1 Oktober 2018
————
Berpotensi Simpan dan Serap Karbon, Luas Lamun Terus Menyusut

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Ekosistem lamun di sekitar pulau di Teluk Cenderawasih, Papua, pada 11 Agustus 2017. Lamun ini memiliki keunikan dari dalam substrat muncul gelembung-gelembung udara yang bersuhu hangat.

Luas lamun di perairan Indonesia terus menyusut karena berbagai kerusakan dan pencemaran yang melanda pesisir. Lamun yang telah lama dikenal sebagai tempat pembesaran berbagai ikan komersial dan habitat dugong kini diketahui sebagai ekosistem penyimpan cadangan karbon dan penyerap karbon yang penting dalam mitigasi perubahan iklim.

Pada tahun 1994, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mencatat prediksi luas ekosistem lamun mencapai 3 juta hektar. Namun, kini potensi luasan hanya sebesar 800.000 ha-1,8 juta ha dengan laju kerusakan 2-5 persen setiap tahun. Dalam laporan Status Padang Lamun Indonesia 2018, dengan menggunakan data pengukuran tahun 2017, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI memverifikasi luas lamun sekitar 293.464 ha.

Data ini didapatkan dari penelitian LIPI juga merangkum data luasan lamun dari riset Badan Informasi Geospasial (BIG), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan The Nature Conservancy. Dibandingkan dengan luas lamun tahun 2017, terjadi peningkatan luasan sebesar 142.771 ha. Nilai ini baru menggambarkan 16 -35 persen luas lamun Indonesia dari potensinya di Indonesia.

”Kami yakin data ini (luas lamun yang telah diverifikasi) akan bertambah,” kata Dirhamsyah, Kepala P2O LIPI, saat meluncurkan Status Padang Lamun Indonesia 2018, Senin (1/10/2018) di Jakarta.

Kami yakin data ini (luas lamun yang telah diverifikasi) akan bertambah.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Dirhamsyah, Senin (1/10/2018) di Jakarta, menyampaikan Status Padang Lamun Indonesia 2018.

Secara umum, persentase tutupan lamun di Indonesia dihitung dari 110 stasiun pengamatan sebesar 42,3 persen. Menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 200 Tahun 2004, angka ini masuk dalam kategori kurang sehat.

Indeks kesehatan
Dirhamsyah mengatakan, saat ini para penelitinya menuntaskan penyusunan indeks kesehatan lamun. Indeks kesehatan ini lebih rinci dari Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 200 Tahun 2004 karena memasukkan indikator selain tutupan, baik lamun, mangrove, dan lamun.

Keberadaan biodiversitas flora dan fauna hingga biomassa maupun flora atau fauna pengganggu. Indeks kesehatan serupa yang ditetapkan, yaitu indeks kesehatan terumbu karang pada tahun lalu dan pertengahan Oktober ini akan menerbitkan indeks kesehatan mangrove.

A’an Johan Wahyudi, peneliti P20 LIPI mengatakan lamun memiliki penyerapan karbon bersih (netto) tinggi, mencapai 24,13 ton CO2/ha/tahun (6,59 ton C/ha/tahun). Dari studi kasus di Bintan, Kepulauan Riau, lamun yang hanya 2,2 persen dari total vegetasi setempat (hutan, pertanian, semak belukar, dan mangrove), berpotensi penyerapan karbon 31,18 persen.

Dari sisi penyimpan cadangan karbon, lamun memiliki kemampuan seperti mangrove dan gambut amat tinggi kandungan karbon di bagian substrat/tanah. Cadangan karbon terpendam pada lamun 558,35 ton C per ha. Angka ini hampir menyamai mangrove sebesar 571,64 ton C/ha.

A’an mengatakan lamun memiliki cadangan karbon tinggi karena memiliki akar rapat pada substrat menjebak serasah di sedimen dalam kondisi miskin oksigen. Pada kondisi anaerob itu, serasah mengalami pembusukan amat lama. Dalam kondisi anaerob seperti ini pembusukan butuh waktu 500 tahun.

Ia mengatakan akar pada lamun rapat dan bisa mencapai kedalaman 4 meter. Ini juga membuat lamun menyimpan karbon tinggi.

Saat ini potensi penyerapan dan cadangan karbon lamun tahun ini sedang dimasukkan dalam Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca yang dikoordinir Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kendala yang terjadi yaitu luasan lamun per provinsi belum dimiliki. Ia baru memiliki luasan lamun secara nasional.

Disebutkan, mitigasi potensi lamun ini belum masuk kontribusi penurunan emisi (NDC) Indonesia 29-41 persen. Fungsi lamun sebagai cadangan dan penyerap karbon memang relatif baru. “Di dunia internasional di negara-negara, belum pernah baca, bukan berarti tidak ada. Belum pernah baca negara yang pernah menghitung padang lamun dari sektor karbon biru dari lamun. Kalau mangrove sudah banyak,” kata dia.

Selain potensial sebagai penyerap karbon, peneliti P20 LIPI Nurul Dhewani Mirah Sjafrie menyebut, lamun memiliki fungsi sebagai penjebak sedimen, penstabil substrat, penahan arus dan gelombang, serta menjaga kebersihan air. Di tempat ini pula ada keanekaragaman hayati berbagai jenis ikan, kuda laut, dan mamalia dugong.

Sayangnya, lamun di Indonesia yang terdiri 15 spesies mengalami tekanan akibat aktivitas manusia seperti pembuatan pelabuhan, polusi, sedimentasi, pencemaran minyak, dan limbah air panas dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap. Contohnya, tutupan lamun di Pulau Pari Kepulauan Seribu, Jakarta berkurang 25 persen pada 1999 – 2004 diduga akibat maraknya pembangunan di pulau ini.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 2 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: