Lamun Penahan Abrasi Pesisir

- Editor

Selasa, 7 Mei 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ekosistem lamun atau sea grass – satu dari tiga ekosistem utama di pantai – juga memiliki fungsi sebagai pelindung pesisir dari abrasi atau erosi di pantai. Ini menjadikannya potensial untuk memitigasi dampak kenaikan muka air laut.

Tanaman lamun biasanya menjulur-julur dari dasar sedimen laut ke permukaan. Daun ini menjadi tempat menempel berbagai jenis siput laut serta makanan bagi mamalia dugong. Akar tanaman saling terkait antar individu satu sama lain sehingga sangat rapat menjaga kestabilan sedimen.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Ekosistem Lamun di sekitar pulau di Teluk Cenderawasih, Papua, pada 11 Agustus 2017. Lamun ini memiliki keunikan dari dalam substrat muncul gelembung-gelembung udara yang bersuhu hangat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam sepasang kajian ilmiah yang terbit pada Mei pada jurnal Coastal Engineering dan the Journal of Fluids and Structures, Massachusetts Institute of Technology memaparkan temuannya itu beserta segudang manfaat lingkungan dari ekosistem lamun. Artinya, lamun tak hanya menjaga pantai dari erosi dan melindungi struktur bangunan pantai tetapi juga meningkatkan kualitas air dan menyerap karbon.

Profesor Heidi Nepf dan mahasiswa doctoral Jiarui Lei, penulis jurnal tersebut, menciptakan versi lamun buatan, yang sifatnya mirip dengan Zostera marina, juga dikenal sebagai eelgrass (karena bentuknya memanjang seperti belut). Mereka membuat koleksi tanaman buatan seperti padang rumput dalam tangki gelombang sepanjang 24 meter di Laboratorium Parsons MIT. Mereka memberi perlakuan dengan berbagai kondisi, seperti air yang tenang, arus yang kuat, dan gelombang bolak-balik.

Hasilnya divalidasi menjadi bahan permodelan. Para peneliti menggunakan model fisik dan numerik untuk menganalisis cara lamun dan gelombang berinteraksi dalam berbagai kondisi kepadatan tanaman, panjang daun, dan gerakan air.

Perbandingan
Untuk menguji validitas model, tim kemudian melakukan perbandingan efek prediksi lamun terhadap gelombang, dengan melihat padang lamun spesifik di lepas pantai pulau Mallorca di Spanyol, di Laut Mediterania. Kemudian dengan menggunakan data yang telah dikumpulkan Profesor Eduardo Infantes, Lei dapat mengkonfirmasi prediksi yang dibuat oleh model, yang menganalisis cara ujung daun dan partikel tersuspensi di air mengikuti gelombang, membentuk lingkaran pergerakan semacam orbit.

Pengamatan di sana cocok dengan prediksi dengan sangat baik, kata Lei, yang menunjukkan kekuatan gelombang dan gerakan lamun bervariasi dengan jarak dari tepi padang rumput ke dalam. “Dengan model ini para insinyur dan praktisi dapat menilai berbagai skenario untuk proyek restorasi lamun, yang merupakan masalah besar saat ini,” katanya, dalam Sciencedaily, 3 Mei 2019.

Ini bisa membuat perbedaan yang signifikan karena memberi tingkat perlindungan yang diinginkan. Di daerah lain, analisisnya mungkin tidak bermanfaat, karena karakteristik gelombang lokal akan terbatas pada tingkat efektivitasnya.

Dengan melemahkan gelombang dan memberikan perlindungan terhadap erosi, lamun dapat menjebak sedimen di dasar laut. Ini secara signifikan dapat mengurangi pertumbuhan alga yang diberi nutrisi oleh endapan yang halus. Kondisi ini menguntungkan untuk menghindari eutrofikasi atau pengayaan alga.

Lamun juga memiliki potensi yang signifikan untuk menyerap karbon, baik melalui biomassa sendiri dan dengan menyaring bahan organik halus dari air di sekitarnya. Ekosistem lamun menyimpan 10 persen karbon yang terkubur di lautan meski hanya menempati 0,2 persen dari lautan.–ICHWAN SUSANTO

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 7 Mei 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 29 Desember 2025 - 19:32 WIB

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:02 WIB

Gen, Data, dan Wahyu

Berita Terbaru

Berita

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Des 2025 - 19:32 WIB

Artikel

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Senin, 29 Des 2025 - 19:06 WIB

Artikel

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Des 2025 - 11:41 WIB

Artikel

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Des 2025 - 11:38 WIB

Artikel

Gen, Data, dan Wahyu

Jumat, 26 Des 2025 - 11:02 WIB