Home / Berita / Gus Dur, Kemanusiaan, dan Teknologi

Gus Dur, Kemanusiaan, dan Teknologi

Teknologi yang menunjang kemanusiaan di masa depan merupakan teknologi yang berlandaskan empati, cinta kasih, dan kebijaksanaan. Teknologi itu lahir dari manusia yang berempati

IMG_20191126_071457.jpgKOMPAS/M PASCHALIA JUDITH J–Executive Chairman dan Co-founder DISRUPTO Daniel Surya (kiri) serta putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid (kanan), dalam pembukaan DISRUPTO 2019 yang diadakan di Jakarta, Jumat (22/11/2019).

”Saya merasa bersyukur karena Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan anugerah yang sangat besar dalam beragama, berbudaya, berasal-usul etnis, dan berbahasa,” kata Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid dalam pembukaan acara DISRUPTO 2019 di Plaza Indonesia, Jakarta, Jumat (22/11/2019).

Berkat teknologi, Gus Dur dapat hadir di atas panggung yang menjadi wahana berbagi informasi dan pengalaman perkembangan di era disrupsi. Realitas berimbuh (augmented reality) merupakan teknologi yang menghadirkan Gus Dur di atas panggung.

Teknologi ini berfungsi menambahkan elemen digital pada citra yang dilihat melalui sebuah peranti, seperti kamera ponsel. Proses itu menciptakan lingkungan realitas.

Saat menghadirkan Gus Dur, terdapat seorang petugas yang mengarahkan kamera pada lukisan wajah Presiden ke-4 RI itu. Di layar yang mengelilingi panggung, bibir pada lukisan wajah Gus Dur tampak bergerak seolah berbicara dan suaranya terdengar bergaung dalam ruangan.

Putri Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, berbagi panggung yang sama dengan Gus Dur. ”Saya mengharapkan dia benar-benar ada di sini dan menyaksikan kemajuan teknologi yang mungkin bisa membantunya menjalani hidup,” ujarnya.

Contohnya, teknologi bionik untuk mengembalikan fungsi indera penglihatan bagi Gus Dur. Teknologi ini menggantikan struktur anatomi atau proses fisiologi pada manusia dengan komponen elektronik atau mekanik.

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA–Lukisan berjudul ”Sarvaprani Hitankara” karya I Made Marthana Yusa dengan realitas berimbuh (augmented reality/AR) pada lukisan yang dikerjakan dengan teknik melukis digital (digital drawing) itu.

Di atas panggung, Yenny mengenang momen membacakan berita bagi sang ayah. Dia terkenang wajah semringah ayahnya ketika membawakannya oleh-oleh berupa buku audio.

”Kalau ayah saya masih hidup saat ini, dia akan memiliki robot untuk membacakan buku,” tutur Yenny sembari tersenyum.

Meskipun demikian, lanjut Yenny, teknologi juga memiliki sisi negatif bagi kehidupan manusia. Yenny mencontohkan teknologi dan algoritma media sosial yang membiarkan berita palsu dan hoaks tersebar di tengah masyarakat.

”Berita palsu dan hoaks ini juga berujung pada perundungan. Padahal, teknologi hadir sejatinya untuk membantu kehidupan manusia,” ujarnya.

Empati
Menurut Yenny, teknologi yang menunjang kemanusiaan di masa depan merupakan teknologi yang berlandaskan empati, cinta kasih, dan kebijaksanaan. ”Teknologi yang berdasarkan empati lahir dari manusia yang berempati. Empati ada di hati kita, mari kita bawa ke dalam perkembangan teknologi,” ujarnya.

Salah satu wujud teknologi yang memiliki nilai empati berupa, ”polisi” pesawat tanpa awak yang dapat menjaga perempuan yang mesti berjalan sendirian saat malam hari di tempat sepi. Contoh lainnya bisa berupa algoritma pada internet yang mampu mencegah perdagangan anak secara daring.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Ilustrasi. Sophia, robot yang didukung dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang diaktifkan pada 2016 dan diciptakan oleh perusahaan Hanson Robotics yang berbasis di Hong Kong, saat melakukan wawancara khusus dengan media pada CSIS Global Dialogue 2019 di Jakarta, Senin (16/9/2019). Sophia diperkenalkan sebagai wujud masa depan teknologi AI, yaitu saat manusia dan robot dapat bekerja sama di berbagai bidang.

Bagi Yenny, media sosial saat ini belum menjadi contoh teknologi yang berempati. Media sosial masih berorientasi pada keuntungan sehingga tidak menyaring konten yang beredar di dalam platformnya.

Bionics Open merupakan salah satu teknologi berlandaskan kemanusiaan dan empati yang sudah mewujud nyata serta hadir dalam DISRUPTO 2019. Berdiri sejak 2019 di Inggris, perusahaan teknologi ini memproduksi lengan buatan yang dapat digerakkan.

Overseas Development Director of WIR Group Yasha Chatab berpendapat, kemanusiaan menjadi elemen penting dalam teknologi di era disrupsi kini. ”Kalau teknologi hanya bersifat transaksional, akan terasa dingin dan tidak nyaman bagi relasi antarmanusia,” ujarnya.

Kemanusiaan merupakan inti dari kemajuan dan perkembangan teknologi. ”Gus Dur merupakan simbolisasi dan representasi terbaik dari kemanusiaan,” kata Executive Chairman dan Co-founder DISRUPTO Daniel Surya.

Kehadiran Gus Dur di atas panggung yang sarat teknologi informasi membawa pesan kemanusiaan. Teknologi perlu mengandung nilai-nilai empati, cinta kasih, dan kebijaksanaan agar dapat memanusiakan manusia.

Oleh M PASCHALIA JUDITH J

Editor HENDRIYO WIDI

Sumber: Kompas, 22 November 2019

Share
x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: